Showing posts with label BUKU. Show all posts
Showing posts with label BUKU. Show all posts

Sunday, April 16, 2017

Ini Buku-buku Sastra Berbahasa Batak, Halak Hita Harus Tahu...


Dalam upaya mempertahankan kelestarian Bahasa Toba, belakangan ini sejumlah sastrawan Batak mulai menulis dalam bahasa ibu, yaitu Bahasa Batak Toba. Sejauh ini, karya-karya masih terbatas pada torsa-torsa atau cerpen. Ke depan, kita tentu berharap agar para penyair Batak juga menulis puisi dalam bahasa Batak.

Berikut antara lain buku-buku sastra berbahasa Batak yang dapat dinkmati oleh semua Bangso Batak:

1. Tumoing Manggorga Ari Sogot, karya Saut Poltak Tambunan  
Sampul buku Tumoing.
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) dan dianggap sebagai cikal-bakal kebangkitkan sastra Batak modern. Secara tematik, buku ini mengetengahkan berbagai kearifan lokal dan nilai luhur tradisional etnis Batak Toba.

Manggorga Ari Sogot jika diterjemahkan artinya menatap masa depan, boleh ditafsirkan sebagai seruan mengajak para sastrawan terus melahirkan karya sastra Batak bermutu.

Sang pengarang, Saut Poltak Tambunan, dalam suatu kesempatan mengaku prihatin dengan perkembangan karya sastra Batak yang semakin menurun dewasa ini, bahkan dianggap kurang mampu bersaing di tataran nasional. Sebab, apresiasi terhadap bahasa Batak itu dinilai cukup rendah, sehingga salah satu cara untuk menyelamatkannya adalah menuliskan bahasa Batak dalam bentuk karya sastra.

Buku ini memuat 15 hikayat setebal 169 halaman yang merupakan kumpulan cerita rakyat tentang kehebatan atau kepahlawanan tokoh-tokohnya.

2. Mangongkal Holi, karya Saut Poltak Tambunan

Buku Mangongkal Holi diterbitkan mengetengahkan banyaknya kearifan lokal dan nilai luhur tradisional etnis Batak. Sebagaimana kita tahu, mangongkal holi merupakan tradisi membongkar kembali tulang-belulang dan menempatkannya ke suatu tempat (batu napir) atau bangunan yang lebih tinggi dan mewah dari makam sebelumnya.

"Sebagai seorang penulis, saya merasa bertanggungjawab untuk menulis karya sastra berbahasa Batak," ujar pengarangnya.


3. Mandera Na Metmet, karya Saut Poltak Tambunan.

Novel ini diterbitkan Selasar Pena Talenta tahun 2012 dengan tebal 143 halaman. Mandera na Metmet membawa kita untuk membayangkan kondisi anak-anak Batak yang ikut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan jiwa kekanak-kanakan mereka.


Cerita Mandera na Metmet mengambil setting perjuangan kemerdekaan sekitar agresi militer Belanda I sekitar tahu 1947–1948, yang dituturkan oleh tokoh Ompung yang begitu akrab, komunikatif dan dirindukan oleh cucu-cucunya Batara, Uli dan Hasian. dan kemungkinan besar terjadi di sekitar Onanrunggu Sipahutar, agak mirip dengan gambar yang dibuat menjadi cover dari novel ini.

Kepiawaian menyusun struktur cerita dalam buku ini, membuat kita berada pada posisi Batara, Hasian dan Uli yang selalu penasaran untuk segera tahu kelanjutan cerita tokoh Ompung. Rasa penasaran ini selalu terbentur dalam keterbatasan waktu dan disiplin yang ditetapkan oleh orangtua mereka.

Jeremia dan Jekjek kita temukan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Anak-anak berumur sekitar 12–14 tahun, tidak bersekolah. Mereka memahami arti merdeka, penjajahan, makna keberanian, kesetiakawanan dan nilai-nilai perjuangan, bukan dari bangku sekolah, melainkan dari persoalan-persoalan kehidupan yang mereka saksikan masa itu.

4. Embas Sian Dakdanak

Buku ini merupakan kumpulan cerpen karangan berbagai penulis Batak Toba. Secara keseluruhan, karya Saut Poltak Tambunan masih tampil dominan dalam buku. Sejumlah pengarang lain yang ikut menyumbangkan karya dalam buku ini antara lain Erika Pardede, S Mida Silaban, Rose Lumbantoruan dan Seri Swanty Hutahaean.

5. Manigat Sihol, karya S. Mida Silaban

Buku ini berisi 10 cerpen berbahasa Batak Toba karya Nai Pasca (S Mida Silaban). Isi cerita antara lain memotret kehidupan seseorang yang tumbuh dan dibesarkan di alam desa tradisional, hingga berhasil di ibukota, dan mendapatkan tantangan untuk merawat dan mewariskan nilai-nilai luhur habatahon kepada generasi muda yang dikepung budaya kota yang berbeda.

Pada cerpen pembuka Maronan misalnya, terlihat bagaimana seorang gadis kecil lugu digembleng mengemban sebagian tanggung jawab ekonomi keluarga, namun tetap dapat menikmati kehangatan siraman kasih dan interaksi sosial yang bersahabat dan sportif.

Sementara ada cerpen berjudul Martandang, potret romantika pergaulan teruna zaman dulu sebelum era TV masuk desa mengkonfirmasi bahwa hatomanon dan sopan santun seorang gadis belia mampu merontok luluhkan panah asmara pemuda idola, tanpa si gadis harus perlu gintal dan bergaya ria. Kegalauan orang tua yang membesarkan anak-anak di kota metropolitan, di tengah kesibukan masing-masing, tersiasati dengan baik dalam interaksi nenek–anak–cucu.

6. Sonduk Hela, karya Tansiswo Siagian

Ini buku kumpula cerpen karya Tansiswo Siagian atau alias Palambok Pusupusu. Buku Sonduk Hela terbit 225 halaman, diterbitkan Selasar Pena.

Sampul buku Sonduk Hela.
Ada sepuluh cerita pendek di dalam Sonduk Hela, yaitu Sonduk Hela, Marguru tu Datu, Martuhan do Hami Jala Marta­ngiang, Mar-Medan, Bondar Pa­ridian, Di Tonga ni Dua Ina, Ma­sisagak, Holong Pamuhai, Mago Pusaha dan Ingonghu Sidua Marga.

Dari ke sepuluh cerpen ini, penulisnya memilih Sonduk Hela menjadi judul bukunya. Tentu saja penulis memiliki pendapat, kenapa judul buku itu harus Sonduk Hela. (Panda MT Siallagan/bbs/int)
 

Tuesday, August 23, 2016

Mengenang Gagasan-gagasan Indah RA Kartini


Kebesaran RA Kartini ada pada gagasan-gagasannya. Dia patut dikagumi karena sesungguhnya ia tidak hanya bicara tentang hak-hak dan pembebasan kaum perempuan. Lebih luas dari itu, ia bicara tentang banyak hal menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk soal narkoba yang saat ini sudah sangat meresahkan. Dan ide-idenya itu sungguh melampui zaman sehingga masih relevan dijadikan pedoman untuk generasi kini.


Berikut beberapa pemikiran Kartini dikutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armin Pane (Cetakan Kedua Tahun 2938). Gagasan-gagasan ini, jika dihayati dan dipedomani, niscaya akan lahir sebuah kehidupan masyarakat yang indah sebagaimana dicita-citakannya itu:

1. Di negeri saya ini adakah suatu kutuk, lebih jahat lagi daripada minuman keras itu? Candu! Alangkah sengsaranya negeri bangsaku oleh benda laknat itu, tiada dapat dikatakan. Candu itu penyakit sampar pulau Jawa. Bahkan lebih ganas dari sampar itu. Dan benar juga kata orang; candu itu tiada jahat, selama ada uang pembelinya, sedang badan sudah menjadi hamba madat, maka sangat berbahayalah orang itu, celakalah dia! Oleh perut lapar orang jadi pencuri, tapi oleh tagih akan candu orang menjadi pembunuh. Kata orang di sini: Mula-mulanya madat itu jadi nikmat bagi engkau. Dan perkataan itu sungguh-sungguh benar! (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

2. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri, dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyakkah dosa diperbuat orang atas nama agama itu? (Surat kepada Nona Zehandelaar, 18 November 1899).

3. Ya, Stella, aku tahu, bahwa di Eropah pun keadaan kesusilaan laki-laki amat buruk jua. Serta dengan kau, aku mengatakan segala puji kepada anak muda yang menjauhi adat kebiasaan yang sudah berkarat, dan godaan itu, aiblah bagi gadis masa sekarang, dengan sadarnya mengikuti laki-laki yang hidup cemar. (Surat kepada Nona Zehandelaar, 23 Agustus 1900).

4. Kadang-kadang, alangkah sukarnya memastikan di mana pangkal kejahatan. Jikalau dipikirkan dalam-dalam, yang baik dan yang jahat tiada kelihatan batas antaranya. (Surat kepada Nona Zehandelaar, 20 Mei 1901).

5. Setia, ialah kata bersahaja, tetapi alangkah besar dan dalam maksudnya! Lebih daripada cinta; kerapkali, akan menepati janji setia, haruslah hati lebih teguh lagi. Aduhai, hati yang berdebar di bawah warna biru itu, tetap dapat menjunjung dia, dan yang warna semboyannya ada kami pakai, dia yang bernama: setia. (Surat kepada Nyonya bendanon, 8-9 Agustus 1901).

6. Bila aku jadi guru pada sekolah yang jadi tempat tumpangan murid, sekali haruslah aku sehari-harian bergaul memelihara anak-anak itu, pada malam haripun ya, hingga larut malam tiadalah aku akan bebas, karena anak-anak itu dipercayakan kepadaku. Beratlah kewajiban orang yang jadi kepercayaan, besar pulalah pertanggungannya. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 30 September 1901).

7. Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: hormatilah segala yang hidup, baik tidak terpaksa baikpun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti mahluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 30 September 1901).

8. Alangkah bahagianya laki-laki, bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, yaitu bila dia bukan orang yang picik pemandangannya dan angkuh. (Surat kepada Tuan Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901).

9. Bila kita menaruh kasih sayang, wajiblah kita bergirang hati benar dan mengucapkan syukur, bila kekasih kita itu banyak-banyak kasih yang dilimpahkannya, maupun yang diterimanya, bukan? Bila kita menaruh kasih sayang, harapan kita yang sebesar-besarnya, ialah supaya kekasih kita itu berbahagia. Dan berbahagialah orang yang banyak menarih kasih sayang, dan yang banyak dikasihi orang. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 21 November 1902).

10. Kerap kali saya berseru kepada orang lain, "Janganlah berputus asa, dan jangan menyesali untung, janganlah hilang kepercayaan hidup. Kesengsaraan itu membawa nikmat. Tak ada yang terjadi berlawanan dengan Rasa Kasih. Yang hari ini serasa kutuk, besoknya ternyata rahmat. Cobaan itu adalah usaha pendidikan Tuhan." (Surat kepada Nyonya Abendanon, 4 Juli 1903).

Itulah beberapa nukilan surat RA. Kartini yang saya kutipkan agar kiranya bisa dibaca generasi baru yang belum pernah membaca buku-buku berisi surat-surat Kartini. Dan lebih dari itu, kutipan-kutipan itu saya pikir sangat indah dan masih sangat kuat relevensinya dengan kehidupan masa sekarang. (Panda MT Siallagan)***