Showing posts with label ESEI. Show all posts
Showing posts with label ESEI. Show all posts

Saturday, December 31, 2016

Tahun Baru yang Terbuat dari Tuak


Terbuat dari apakah Tahun Baru? Tanya seorang pemabuk kepada seorang penyair? Penyair menjawab: terbuat dari hatimu. Si Pemabuk merasa linglung. Tapi samar-samar, ia saksikan lampu teplok beterbangan ke udara. Ia tatap langit penuh cahaya.

Ilustrasi.

Dan saya terhenyak dan merasa bahagia membayangkan adegan antara pemabuk dan penyair itu. Tapi hidup bukan imajinasi, saya tinggalkan mereka dan mencoba menghayati waktu.

Tanggal 1 Januari 2017 kebetulan jatuh pada hari Minggu. Adakah diantara kita pernah bertanya, Minggu itu sesungguhnya apa? Artinya apa? Berasal dari bahasa apa? Kenapa rentang 7 hari disebut seminggu, atau 14 hari dua minggu, dan sebulan 4 minggu?

Tiba-tiba saya merasa seperti seorang pemabuk yang meracau tentang hal-hal tak berguna. Tapi syukurlah saya sekaligus merasa seperti seorang penyair yang bicara ngaur tapi penuh makna.

Dan ternyata, Minggu adalah hari pertama dalam satu pekan. Kata 'minggu' berasal bahasa Portugis, yaitu Domingo. Dalam bahasa Latin disebut Dominicus, yang artinya 'hari Tuhan kita'.

Konon, dulu sekali hingga abad 18, dalam bahasa Melayu lama, Minggu diucapkan dengan Dominggu. Lalu sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini berubah ejaannya menjadi Minggu. Sejak itu, Minggu terus mengalami perkembangan makna.

Kata minggu (dengan huruf 'm' kecil) dimaknai menjadi pekan, satuan waktu yang terdiri dari tujuh hari. Hari Minggu merupakan bagian akhir dari minggu.

Sebagian golongan menyebut Minggu dengan Ahad, berasal dari bahasa Arab. Memang masih jarang terdengar kata seahad, dua ahad, tiga ahad dan seterusnya. Yang lazim kita dengar adalah seminggu, dua minggu, tiga minggu dan seterusnya.

Apa hubungan racauanmu ini dengan Tahun Baru? Tiba-tiba saya dengar pemabuk itu bertanya, dan saya gugup: betul juga, apa hubungannya? Tapi saya coba tenang, dan menjawab pemabuk itu dengan lembut, seolah-olah saya adalah seorang penyair. Saya katakan padanya: tidak ada, kebetulan saja 1 Januari 2017 jatuh pada hari Minggu.

Pemabuk itu diam. Dan saya kembali memahami kenyataan. Kini saya bertanya pada diri sendiri. Kenapa disebut Tahun Baru? Dan kenapa tak ada istilah tahun lama? Apakah tahun lama sama dengan tahun lalu?

Kenapa pukul 00.01 disebut tahun baru, kenapa pukul 23.59 yang hanya berjarak satu menit tiba-tiba jadi tahun lama? Sebegitu cepatkah waktu aus? Sebegitu cepatkah waktu menjadi buruk? Betulkah ada tahun baru? Terbuat dari apakah Tahun Baru?

Tiba-tiba penyair itu menghampiri saya, dan bertanya: "Apakah kau sedang mabuk?"

"Tidak! Kebetulan saja saya tadi minum tuak," jawab saya.

"Nah, itulah jawaban atas pertanyaanmu yang ngaur itu. Tahun Baru terbuat dari tuak. Dan kau sedang mabuk," kata Penyair itu.

Saya tersinggung. Lalu saya berondong Penyair itu dengan rentetan pertanyaan: kenapa terompet-terompet itu berbunyi? Kenapa kembang api berkesiur seperti anak-anak cahaya? Kenapa mercon dan petasan itu meledak-ledak seperti anak-anak api yang melompat-lompat? Kenapa orang berbondong-bondong membeli benda-benda baru demi tahun baru? Kenapa orang menghambur-hamburkan uang dan waktu untuk pesta ini? Kenapa semua orang sangat ribut dan riuh? Kenapa mereka tak peduli terhadap orang-orang sakit? Saya yang mabuk atau mereka? Ayo jawab, saya yang mabuk atau mereka?

Penyair itu terkejut dan tercengang, lalu berkata: "Jika begitu, ayolah menyeberang. Kita songsong tahun baru. Di sana nanti aku akan memperkenalkan kau sebagai penyair dan aku akan minum tuak dan berlajar jadi pemabuk."

Lalu di samping kami, sebuah cahaya melesat ke arah langit, meledak menjadi bunga-bunga. Orang-orang berteriak penuh kegembiraan. Mereka bersalam-salaman. Dan saya makin linglung, bertanya dalam hati, sudah berapa lamakah saya tak pernah memaafkan? Sudah berapa lama?

Tak ada sahutan. Dan saya makin linglung, bertanya dalam linglung: sudah berapa lamakah saya lupa hari Minggu? Entahlah. Tapi pemabuk dan penyair itu berada di hatiku, sama-sama berbisik: "Tuhan menyayangimu."

Saya terharu dan kembali pada kenyataan. Saya coba menyapa orang-orang: Selamat Hari Minggu. SELAMAT TAHUN BARU. (Panda MT Siallagan)

Tuesday, December 6, 2016

Kemerdekaan: Meraut Bambu dengan Airmata


Oleh: Aiyuni Salis Utami Tanjung

Kita semua tahu, merdeka adalah kebebasan hak meraih kendali penuh atas seluruhwilayah. Kisah perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia yang digadangkan dengan senjatanya “Bambu runcing”, masih mengisahkan cerita pedih di masa kini. Meskipun yang dilihat oleh masyarakat Indonesia bahwa negeri ini sudah merdeka.

Ilustrasi.
Karya-karya sastra salah satunya puisi, masih banyak yang mengisahkan kepedihan akan jajahan. Salah satunya puisi Panda MT Siallagan yang berjudul “Setelah Bambu Meruncing Lagi Diraut Airmata”. Berikut bait pertama: a/ setelah bambu-bambu itu meruncing lagi diraut airmata, kami menunggal tanah-tanah yang telah terbakar di dalam jantung kami. kami tanami harapan-harapan, dan membesar jadi pohon-pohon di sepanjang usia kami…”

Indonesia berjuang sangat lama dengan senjata “Bambu runcing” mengharapkan kebebasan meski hanya dalam mimpi. Tapi kesan semangat juang dan pantang menyerah terus mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan hanyalah perintah semata. Seolah-olah negeri ini memang merdeka. Apakah demikian? Sampai sekarang pun yang paling utama adalah penguasa dan dikuasai.

Pengungkapan puisi Panda MT Siallagan dalam bait ke-dua: b/ setelah pada bambu dan pohon-pohon yang terbakar itu kami kibarkan bendera, kampung kami memancarkan warna merah dan putih. kami takjub, dan berpawai merayakan kemenangan itu. tapi kami tiba-tiba tersentak. kami ternyata sedang berjalan di atas genangan darah, tulang-tulang  saudara kami berserakan di halaman. kami ternyata tidak sedang mengibarkan bendera untuk memugar hutan, tapi melukis tanah dengan darah. dan menyusun serakan tulang-tulang jadi jalan raya”.

Seperti menggambarkan kemenangan sementara. Seperti halnya tercatat dalam sejarah (sumber: https://id.m.wikipedia.org, Konferensi Malino-Terbentuknya “Negara” Baru), pada bulan Juli 1946 terjadi suatu krisis dalam pemerintahan Indonesia, keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang telah menguasai sebelah Timur Nusantara. Di bawah Dr. Van Mook, organisasi-organisasi di seluruh Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian; Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Timur Raya. Latar belakang konferensi ini dalam rangka SEAC setelah Perang Dunia II, Australia menyerahkan kembali Indonesia Timur kepada Belanda (NICA) pada 15 Juli 1946.

Bait kedua seperti mengisahkan sebuah penyesalan, menang dalam perang tapi masih jadi budak di bawah perintah federasi Belanda. Semua orang tentu harus menikmati haknya dengan berusaha dan berdoa. Tapi pada masa penjajahan dulu (Belanda-Jepang), kematian adalah harga mati dari merdeka. Segala janji kebahagiaan pada masa itu sangat mudah dikhianati dan kembali menderita. Dalam bait ketiga pun bermakna demikian; c/ lalu kami berjalan di atasnya, mencoba membunuh ketakutan dengan ketajaman doa-doa. kami jelajahi jalan-jalan menuju kebebasan. tapi kami tersesat…”

Penulis sangat apik mendeskripsikan kewajaran fisik manusia, maksudnya setelah bekerja keras tentu akan mengalami kelelahan dan tentunya membutuhkan istirahat. Perjalanan panjang tentang perjuangan pun sama yang tercantum pada bait ke-empat: d/ akhirnya kami putuskan untuk rehat, lelap memeluk duka sendiri, tidur di kamar yang kami tukangi dengan airmata kami sendiri. dan di dalam mimpi kami, anak-anak bernyanyi: indonesia raya...merdeka...merdeka…"

Berakhir memasuki dunia mimpi sambil menghayati, memahami, memaknai kemerdekaan masa kini dengan masa lampau. Mendeskripsikan perjuangan yang lelah dan tertidur lalu bermimpi sambil menghayati nada-nada lagu kebangsaan dalam bait ke-lima: e/ kami menghayati nadanya dengan jiwa yang berdarah, dan menjadi kian tak paham memaknai kemerdekaan".

Penulisan puisi yang sangat kental dengan narasi dan deskripsi waktu sangat baik. Menggambarkan perasaan akan jajahan masa lalu. Membacanya seperti memutar film dokumentasi nasional tentang peperangan dengan senjata bambu runcing. Perincian puisi yang sangat apik membuat orang merasa bernostalgia akan sejarah kelam Indonesia.

Dalam khasanah sastra, kita perlu menggali sejarah sebagai bukti nyata yang relevan dalam dunia kepenulisan. Bukan hanya menulis tentang apa yang dirasa. Mengingat masalalu adalah kunci sukses sebuah karya sastra dalam hal menyadarkan akan masa-masa kelam yang mungkin akan punah ditelan zaman. Tapi sastra mendokumentasikan perjalanan sejarah. Apalagi perjuangaan Indonesia untuk merdeka.

Puisi karya Panda MT Siallagan, merupakan puisi-puisi yang mengkisahkan betapa pedihnya perjuangan di masa lalu, dan masih bisa dirasakan di masa sekarang. Bahkan pada masa sekarang, puisi ini memiliki makna tak paham dengan kemerdekaan yang berlangsung. Apakah negeri ini memang merdeka sungguhan. Atau masih saja ada kata “penjajah” di dalamnya dengan konteks berbeda (baca: penguasa)? Ataukah memang benar bahwa arti kemerdekaan adalah meraut bambu dengan airmata?

Segala kata-kata yang ditulis dalam puisi tentunya banyak memiliki makna dengan persepsi yang berbeda serta analisisnya. Semoga, analisis ini mendekati kebenaran tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sumber puisi: https://solup.blogspot.co.id 

Catt: Artikel ini dimuat di Solup Literal atas seizin penulisnya.

Thursday, August 25, 2016

Apa Kabar Kritik(us) Sastra?


Jika kita mengamati perkembangan kesusasteraan Indonesia mutakhir, kita barangkali akan segera bersepakat bahwa inilah era dimana kesusasteraan mengalami kebangkitan yang luar biasa baik genre puisi, cerpen dan novel. Berkunjunglah ke toko-toko buku, di situ akan segera tampak begitu membeludaknya buku-buku sastra dari ketiga jenis itu, baik yang ditulis oleh pengarang yang sudah solid berada di 'menara gading kesusasteraan' maupun dari pengarang-pengarang muda yang tergolong masih segar dalam blantika sastra kita.

Kliping surat kabar.
Di samping itu, menjamurnya penerbitan koran, majalah, tabbloid dan jurnal-jurnal, dengan sendirinya telah pula mempertegas bahwa kesusasteraan kita benar-benar ramai, pikuk, dan berpawai di lebuh raya keberaksaraan. Hal itu terjadi karena hampir seluruh koran memiliki ruang khusus memuat karya-karya sastra seperti puisi dan cerpen, dan biasanya tampil pada edisi Minggu. Dan, tak sedikit majalah ataupun tabloid yang juga menyediakan ruang untuk cerpen sekalipun mereka bukan majalah atau tabloid sastra. Kesemarakan kreatif itu juga ditambah dengan munculnya banyak karya-karya asing yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Maka, semakin sempurnalah hiruk-pikuk sastra kita.

Memang, sempat muncul perdebatan mengenai klasifikasi sastra ditinjau dari medium yang menerbitkannya. Ada upaya memberi penggolongan Sastra Koran untuk karya-karya yang terbit di media koran, dan Sastra Buku untuk karya-karya yang diterbitkan dalam bentuk buku. Penggolongan semacam itu memang terasa tidak terlalu bermanfaat karena sering kali karya-karya yang diterbitkan dalam bentuk buku itu kebanyakan sudah terlebih dahulu terbit di koran kecuali sebagian novel yang memang langsung terbit dalam bentuk buku. Dikatakan sebagian karena ada juga novel yang terlebih dahulu terbit sebagai cerita bersambung berbagai koran. Maka, perdebatan tentang sastra koran dan sastra buku agaknya tak perlu lagilah diperpanjang, karena toh substansi isi dan kualitas sastrawi karya-karya itu boleh dikatakan cenderung setara. Itu hanya persoalan bentuk. Seperti tanah liat, dibentuk dalam bentuk apapun, ia tetaplah tanah liat.

Semaraknya eksperimentasi kerja kreatif itu tentu saja menghasilkan khasanah yang sangat kaya baik itu tema, gaya tutur, teknik penulisan maupun muatan kulturalnya. Eksplorasi tradisi lokal/etnik, misalnya, telah membawa kekayaan bagi tradisi kepenulisan kita dan hal itu seringkali tampil sebagai tindakan pemberontakan, keluar dari tradisi kepenulisan konvensional. Dalam kawasan genre puisi, misalnya, ada Saut Situmorang, Oka Rusmini, Marhalim Zaini (untuk menyebut beberapa nama) yang telah sukses memasukkabn warna lokal dalam puisi-puisi mereka.

Demikian juga halnya akan cerpen, dengan munculnya Raudal Tanjung Banua, Satmoko Budi Santoso, Puthut EA, Triyanto Triwikromo, kita akan segera sadar dan tersentak bahwa konvensi tradisi kepenulisan kita sudah berubah. Saat ini yang muncul adalah kreativitas serba liar, eksploratif, inovatif dan tak mudah menduga hal apalagikah yang muncul di masa-masa mendatang.

Sementara dalam genre novel, munculnya Ayu Utami dan Dewi 'Dee" Lestari telah pula menyebabkan munculnya novelis-novelis baru seperti Fira Basuki, Nukila Amal, dan yang teranyar adalah Dewi Sartika. Meskipun tampak adanya saling mempengaruhi dalam hal motivasi menulis, mungkin supaya terkenal dan diakui cerdas, tapi karya-karya mereka tetaplah pekerjaan yang pantas diperhitungkan dan telah mendapat pengakuan dengan segala kelemahan dan kekuatannya.

Sayang sekali, Riau cenderung sepi dari munculnya pengarang-pengarang muda yang pantas diperhitungkan. Setelah BM Syamsudin, Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Sutardi Calzoum Bachri, Hasan Junus yang kemudian diikuti Edruslan Pee Amanriza, Fachrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, praktis tidak ada lagi sastrawan dari Riau yang pantas diperhitungkan secara nasional kecuali Marhalim Zaini. Ada memang sosok-sosok harapan dan potensial seperti Hary B Ko'riun, Murparsaulian, Gde Agung Lontar, Olly Rinson, tapi mereka belum terlalu memukau secara nasional. Di kalangan yang lebih muda, ada M. Badri, Sobirin Zaini, Binoto H Balian dan mereka-mereka ini harus lebih giat lagi menelurkan karya-karya yang baik jika ingin eksis.

Namun demikian, fenomena membeludaknya karya-karya sastra ini tidak diikuti oleh berkembangnya dunia kritik secara bersamaan. Padahal, kegairahan bersastra ini sudah terbukti mampu memunculkan publik pembaca, meramaikan dunia penerbitan dan perbukuan, menstinulus munculnya wacana dan diskusi-diskusi sastra, memunculkan komunitas-komunitas sastra yang lahir dari omong-omong dan kongkouw-kongkouw antara para seniman (sayang dalam hal ini Riau juga ketinggalan), tetapi mengapa kritik sastra justru sepi?

Kalaupun tidak ingin dikatakan sepi, setidaknya kita masih sangat sulit menemukan adanya kritik yang memadai untuk menganalisis, menginterpretasi dan mengevaluasi karya-karya yang subur itu. Apa yang selama ini kita saksikan tidak lebih dari esei atau apresiasi-apresiasi yang seringkali dimaksudkan untuk mengangkat-angkat nama pengarang tertentu, dangkal dan cenderung ditulis untuk gagah-gagahan retorika sehingga apa yang menjadi aspek kritik, orientasi karya yang dikritik, metode kritik, sering tidak benar-benar mengemuka.

Untuk mengenal permasalahan kritik sastra lebih lanjut, perlu kiranya dikemukakan guna kritik sastra. Setidaknya, guna kritik sastra dapat digolong menjadi tiga, yaitu: pertama, untuk perkembangan ilmu sastra itu sendiri. Kedua, untuk perkembangan kesusasteraan, dan ketiga dalah untuk penerangan kepada masyarakat umum yang menginginkan penjelasan tentang karya-karya sastra. Kegunaan pertama, kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Kegunaan kedua, kritik sastra membantu perkembangan kesusasteraan suatu bangsa dengan menjelaskan karya sastra mengenai baik buruknya karya sastra dan menunjukkan daerah-daerah jangkauan persoalan karya sastra. Dengan demikian, para sastrawan dapat mengambil manfaat dari kritik sastra, maka mereka dapat memperkembangkan penulisan karya-karya sastra mereka yang kemudian mengakibatkan perkembangan dunia kesusasteraan. Kegunaan ketiga, kritik sastra menguraikan karya sastra. Dengan demikian, masyarakat umum dapat mengambil kritik sastra ini bagi pemahaman terhadap karya sastra (Pradopo, 1988: 17-23).

Tetapi, di tengah situasi dimana sastra telah berkembang, dan masyarakat sudah cenderung tertarik dengan sastra yang dibuktikan dengan munculnya publik pembaca yang luas, masih diperlukan lagikah kritik sastra? Barangkali pendapat seperti ini boleh juga dianggap sebagai sesuatu yang benar, sebab permasalahan apalagikah yang harus dikritik jika sastra itu sendiri sudah berkembang, sudah berhasil memberikan keuntungan ekonomis kepada para pengarang dan perusahaan-perusahaan penerbitan?

Namun, jika kita bersepakat dengan opini semacam itu, apakah hal itu tidak justru membuat para akademisi sastra malas menulis kritik dan enak-enak saja duduk menonton kesusasteraan berjalan sendiri tanpa kehadiran mereka? Bagaimanapun, kritik sastra tetap diperlukan. Dan pihak yang paling bertanggungjawab terhadap keberlangsungan dan mutu kritik sastra adalah mahasiwa dan para akademisi sastra, juga lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bahasa dan sastra seperti fakultas sastra dan balai bahasa. Apakah harus para sastrawan juga yang turun ke jalan untuk menyelamatkan kritik sastra dari kematian?

Para sastrawan telah berbuat, sekarang izinkan kami menyapa, "Apa kabar kritik(us) sastra?" (Panda MT Siallagan)*** 

* Artikel ini terbit di Riau Pos, 11 Juli 2004
 

Thursday, August 18, 2016

Siantar Kayak Kerumunan Tawon

Keknya, mantap juga kalok awak cerita tentang Siantar dengan bahasa Siantar? Bah, apapula itu? Mana ada Bahasa Siantar? Iyalah, maksudku Bahasa Indonesia, tapi pakek cakap Siantar.


Tapi cocoknya cerita apa ya? Bingung pula awak. O iya, soal lalu-lintas ajalah. Aku bingung cemananya sebetulnya para pejabat Siantar ini mengurusi kota kita ini. Co' bayangkan, semua lampu merah mati di kota ini, ngeri awak kalo lewat di lampu merah itu. Berhenti awak, salah. Maju awak, salah juga. Kacaulah pokoknya. Entah apa gunanya Dinas Perhubungan itu. Bikin geram aja.

Serius dulu kita bah, dari tahun 2012 sampek 2016 masalah lampu merah ini ga pernah bisa diselesaikan dengan tuntas. Jadi jahat awak kadang-kadang, awak doakan maunya kenak tabraklah sesekali pejabat atau keluarganya pas lewat di lampu merah, biar tahu rasa. Kan ga payah sebenarnya ngurus itu. Anggarkan aja. Bagusi yang rusak-rusak itu. Atau sekalian ganti baru semua biar paten. Tapi janganlah pula dikorupsi. Pingin kali awak liat Siantar ini bagus, tapi cemanalah, asik mikirkan diri sendiri semua.

Tapi betullah, sistim transportasi di Siantar ini makin lama makin memuakkan. Udah gitu, ga ada pula yang mau berpikir soal tata kotanya. Amburadul semua. Co' sesekali kalian amati Siantar ini pagi-pagi, yang ngerian. Pas anak-anak pergi sekolah, maccam kota tak bermartabat kutengok ini. Anak sekolah itu datang dari mana-mana, pergi kemana-mana, kekgitu kulihat.

Ecek-eceknya gini, ada yang dari Simpang dua berlomba-lomba ke kota. Ada dari Perumnas Batu 6, dari Tajungpinggir, dari Jalan Medan, semua bergerak ke arah ke kota. Kalok cuma gitu, sebetulnya ga masalah. Ini yang sebaliknya terjadi pula. Yang dari kota sebagian sekolah ke Jalan Asahan, sebagian ke jalan Medan, sebagian lagi ke Simpang 2, begitu seterusnya.

Di dalam kota pun gitu. Yang tinggal di Tomuan, sekolah ke Marihat. Orang Marihat, sekolah ke Siantar Utara. Orang Jalan Merdeka, sekolah ke Jalan Sutomo. Orang Jalan Sutomo, sekolah ke Jalan Merdeka. Orang Perluasan, sekolah ke Jalan Kartini, warga Jalan Kartini sekolah pula ke Parluasan. Kekgitulah, berputar-putar semua, kayak tawon keluar dari sarang. Kacau kalo pagi, pas pulangsekolah juga gitu. Entah cemanalah hidup tenang di Siantar ini. Belum lagi kalok pekerja dan PNS pergi da pulang kerja, makin ngerilah.Belum lagi kalok kita tengok lalu-lintas di pajak-pajak, ah pusinglah.

Kalok udah gini, co' lah klen pikirkan, mau kekmana lagi bentuk kota kita ini 5, 10, 20 atau 50 tahun lagi? Ga terbayangkankulah. Tapi iyalah, mana ada yang peduli, 50 tahun lagi kan pejabat-pejabat itu udah ga ada lagi. Mungkin dipikirnya, anak-anak dan cucunyapun bila perlu ga usah lagi tinggal di kota ini. Jadi untuk apa dipikirkan, ia kan?

Tapi bukan mau sok pintar, sebuah kota berbudaya kan semestinya udah dipikirkan jauh-jauh hari tentang desainnya. Kota-kota cantik di Eropa itu bukan bentukan zaman sekarang, tapi didesain dari jaman dulu, tentu disesuaikan juga dengan perkembangan zaman, jadi ga asal bangun sana-sini. Mereka itu betul-betul berpedoman pada tata ruang dengan segala kemungkinan-kemungkinannya, makanya pembangunan tertata. Kan udah ada ilmu planologi, yang kekgitu gampang sebetulnya diurus. Pejabat-pejabat Siantar ini ngerti ga ya planologi?

Ah, awakpun ga tahu juganya, cuma awak masih maulah dikit-dikit belajar, baca-baca, biar jangan nampak kali bodohnya. Ini udah bodoh, ga mau baca pula, ya rusaklah. Sebetulnya kota Siantar ini udah mantaplah dari sisi perencanaan. Co' tengok, di depan balaikota, ada alun-alun, yang kita bilang Taman Bunga itu. Kalok diibaratkan Balai Kota itu istana raja, maka Taman Bunga itulah alun-alun tempat rakyat berkumpul menikmati kejayaannya. Atau kalok raja ingin merayakan suatu pesta, diundang lah masyarakat makan, ya di alun-alun itu, kalok ga, ya di ruang terbuka lain yang juga udah disiapkan, itulah tanah lapang itu.

Tapi udahlah, capek ngomel terus. Ada pula nanti yang bilang, makan kau sejarah kau tuh. Ga penting. Memang ga penting. Pandangan dan sikap orang kan tergantung kualitas martabatnya juga. Sebetulnya, kalok ingin Siantar ini maju, pejabat dan rakyatnya sudah harus berubah, belajar menjadi pribadi-pribadi bermental bangsawan. Boleh tukang becak, boleh pedagang, boleh PNS, boleh tentara, boleh wartawan, boleh jadi apa aja. Tapi janganlah bermental budak. Dipanasi sikit, demo. Diprovokasi sikit, berontak. Tapi iyalah, pejabat-pejabatnya juga suka didemo. Biar terkenal. Hehe...! Biar aja korupsi, yang penting terkenal. Hehe, sialnya udah korupsi, ga kaya juga. Kalok pun nampak agak kaya sikit, sombongnya minta ampun. Kelakuan anak-anaknya maccam keledai yang merasa jadi singa.

Okelah, gitu ajalah dulu kato kali ini. Makin banyak awak nanti cakap, makin banyak yang tersinggung, dibakar pula nanti rumah awak. Tapi mudah-mudahanlah suatu saat nanti, lahir pemimpin yang betul-betul kuat dan punyaintegritas. Kalok ga, kota ini pasti tenggelam dalam kekacauan, dan itu neraka. Awak udah berkali-kali bilang, neraka bukan awang-awang, tapi ledakan jumlah penduduk, yang otomatis menimbulkan persoalan-persoalan sosial baru, yang akan meledakkan semua aspek moralitas. Begitulah...! ***