Showing posts with label Memoar. Show all posts
Showing posts with label Memoar. Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Mengenang Dewi Sartika, Pelopor Pendidikan Wanita Nusantara


SolupL - Dulu pada masa kemerdekaan, penetapan tanggal lahir Kartini sebagai hari besar dan penobatannya sebagai Pahlawan Nasional, juga menuai perdebatan, sebab kebijakan itu dianggap pilih kasih. Nyata memang, Indonesia memiliki wanita-wanita hebat lain melebihi Kartini, sebutlah Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain.
Ilustrasi.
Apakah Kartini mengenal Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain? Mengapa Mengapa Kartini tidak menulis surat kepada perempuan-perempuan pejuang nusantara pada masa itu? Tapi kita tidak hendak membahas itu.

Kita hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini tanggal 4 Desember adalah ulang tahun Dewi Sartika ke-132. Bangsa Indonesia seolah lupa, tapi Google merayakannya.

Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1966 karena jasa-jasanya memajukan pendidikan pada kaum wanita di Indonesia pada masanya.

Google Indonesia pun memajang doodle yang menggambarkan sosok Dewi Sartika bersama enam gadis kecil. Mereka semua memakai kebaya. Tampak Dewi Sartika sedang mengajar keenam murid perempuan mungil tersebut.

Jika doodle tersebut diklik, langsung muncullah beragam informasi mengenai Dewi Sartika. Ia adalah pahlawan dan inspirasi bagi kaum wanita, seperti sosok Kartini.

Orang tuanya adalah kalangan bangsawan, Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Meski bertentangan dengan adat pada waktu itu, Dewi Sartika sempat mengenyam pendidikan di sekolah yang didirikan Belanda. Ia pun tergerak memajukan kaum wanita.

Pada 16 Januari 1904, dia mendirikan sebuah sekolah untuk kaum perempuan bernama Sekolah Isteri di Bandung. Sekolah tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri.

Sekolah tersebut cepat berkembang dan pada 1912, ada sekitar sembilan Sekolah Kaoetamaan Isteri yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Tahun 1924, sekolah itu berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Dewi Sartika meninggal dunia pada tahun 1947.

Keluarga pun berharap hari lahir Raden Dewi Sartika tiap 4 Desember diperingati secara nasional seperti Raden Ajeng Kartini. Hingga kini peringatan hari lahir pejuang emansipasi wanita itu dirayakan secara lokal di Jawa Barat saja, tempat kelahirannya.

"Beliau (Dewi Sartika) dan Kartini sama-sama perintis emansipasi wanita. Tetapi hanya Kartini yang diperingati secara nasional, sehingga Dewi Sartika kurang dikenal," kata cucu menantu Dewi Sartika Deddy Rukadi di SMP Dewi Sartika, Jalan Kautamaan Istri, Minggu (4/12/16).

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat agar hari lahir sang pahlawan nasional dirayakan oleh segenap bangsa Indonesia masih kurang. "Selama ini kami tidak menunggu pemerintah (pusat), tapi merayakan secara mandiri dengan bantuan Pemkot Bandung dan masyarakat Tatar Sunda," terang Deddy.

Dengan dirayakan secara nasional, kata Deddy, Dewi Sartika sebagai perempuan yang menginginkan kesetaraan pendidikan bagi kaum hawa, bisa dikenal masyarakat luas.

"Bidang pendidikan yang akan kami tonjolkan untuk generasi penerus dari sosok Raden Dewi Sartika yaitu cageur, bageur, pinter, wanter (sehat, baik, pintar, berani)," sebut Deddy.

Kabid Kepemudaan Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Kota Bandung Sony Teguh Prasetya menyebut Dewi Sartika dan Kartini sama-sama pejuang wanita. Untuk itu tidak ada salahnya hari lahir Dewi Sartika juga dirayakan secara nasional.

"Dua pahlawan nasional emansipasi wanita itu Ibu Kartini dan Dewi Sartika. Ini harus menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Harapannya perlu ada hari Dewi Sartika juga nantinya," ungkap Sony. (bbs/int)

Baca Juga: Mengenang Gagasan-gagasan Indah RA Kartini


Sunday, August 28, 2016

Kisah Senduduk, Anggur Kenangan Masa Kanak-kanak


Tebu dan anggur barangkali tumbuh dari gengsi kaum borjuis. Maka tebu selalu menggoreskan luka sejarah. Ia selalu tumbuh jadi komoditas politik. Sebab darinya gula tersarikan. Gula, hmm...! Gula senyawa dengan anggur. Atau wine. Kau hanya bisa mengenalnya dengan kantong tebal.

Senduduk.
Tapi tokoh kita dalam kisah ini tak akan bicara tentang tebu dan anggur yang mahal itu. Anak-anak dalam kisah ini barangkali cuma jujur menerima berkah alam. Dan saya, sebagai pengenang, mencoba mengibaratkannya.

Anggur itu adalah senduduk. Ketika lahan-lahan di pedesaan belum diberangus traktor, tumbuhan rumpai ini masih berkuasa dan menghampar luas. Anak-anak di desa mengenalnya dengan baik. Mengapa? Karena buahnya yang berwarna ungu itu memang lezat, manis dan empuk.

Begitulah anak-anak itu, sepulang sekolah, atau sepulang membantu ayah ibu di ladang, menyuruk ke 'hutan senduduk' dan memetik buah-buah yang matang. Dan, nyam...nyam....! Setelah itu, mulut mereka jadi ungu. Adakalanya mereka tertawa dan saling unjuk gigi. Gigi berwarna ungu. Seperti mabuk. Seperti berpesta. Merayakan anggur yang tidak dikenal zaman.

Ritual itu hampir dilakukan setiap saat, setiap kali anak-anak itu memiliki kesempatan bermain. Tentu, permainan-permainan lain juga diakrabi, misalnya mandi-mandi di sungai, atau memanjat pohon kelapa, menjatuhkan buah-buahnya yang muda, untuk dicecap air dan lendirnya. Itu nikmat. Tetapi, senduduk menyuguhkan sebuah kisah mengharukan.

Di hutan senduduk itu pernah kami saksikan seorang anak terisak-isak. Ia tidur-tiduran beralaskan ilalang, dan tampak sedang dilanda kesedihan. Ia teman kami yang baik, dan itu terkejut. Ketika kami tanya, dia mengatakan bahwa ibunya telah murka dan menyebat kakinya teramat pedih, hanya karena ia lalai, tak mengambil air dari pancuran. Ia lari, lalu berteduh mendamaikan jiwanya yang hancur. Umur 8 tahun. Tapi hatinya bisa amat sensitif dan mengatakan tak akan kembali ke rumah. Ia ingin tinggal di hutan senduduk itu, karena memang bagian bawahnya teduh. Jika lapar, ia bilang, ia akan makan senduduk.

Lama kami membujuknya, hingga akhirnya, menjelang malam, ia bersedia pulang. Dan ibunya, seperti yang ia khawatirkan akan murka, ternyata benar. Kami juga kena getah: pergi kalian, dasar anak-anak bandal. Orangtua mati-matian di ladang, kalian main-main saja. Dengan mental ciut, kami menjauh perlahan-lahan. Kami tidak tahu apa yang terjadi malam itu, tapi esoknya, teman kami yang baik itu tidak muncul di sekolah. Juga hari-hari selanjutnya. Ia hanya sempat mengenal angka dan huruf. Dan kelak, kawan ini mati muda entah karena apa, tak lama setelah pulang dari rantau.

Dan senduduk selalu mengingatkan kami pada kawan itu. Tapi kini senduduk tidak lagi ditemukan di desa itu. Entah bagaimana semua itu raib dengan sempurna. Dan demikianlah anak-anak generasi baru, kelak mungkin hanya mengenal tumbuhan ini dari cerita ke cerita, jikapun dikisahkan, atau dikaji untuk keperluan ilmiah. Itulah anggur kami. Anggur masa kecil yang membuat haru.

Dan kisah lain yang sangat menyentuh, yang selama-lamanya akan mengendap dalam ingatan adalah kisah tentang tebu. Tebu yang manis. Tebu yang juga tragis. Desa kami memang tak akrab dengan tebu. Ia tidak pernah jadi komoditi yang bersengaja dibudidayakan untuk penghidupan. Ia hanya hadir sporadis, sebagai tanaman penghias di pekarangan rumah, hanya beberapa rumpun, untuk konsumsi keluarga ketika cuaca sangat panas. Tapi kejahatan tercipta dari situ. Sebab, anak-anak yang orangtuanya tidak punya tebu, sesekali belajar mencuri jika ingin menikmati manisnya tebu, manisnya kehidupan. Singkat kisah, beberapa dari anak-anak itu pernah disebat karena mencuri tebu.

Sejak itu, tebu menjadi mimpi yang menyakitkan. Dan anak-anak itu mengobati luka itu pada ilalang. Pada akar ilalang. Di lahan-lahan yang ditraktor, mereka keluyuran mencari-cari akar ilalang, dikumpul, lalu dikunyah. Manis. Serupa tebu. Jika ayah-ibu mencangkul di ladang, maka akar ilalang saluran kesenangan, melampiaskan hasrat makan tebu. Betapa menakjubkannya kisah itu. Dan kelak, tebu memang bukan milik orang-orang miskin. Gula tetap mahal. Politik senantiasa ikut memainkannya. Tapi, kemanakah anak-anak kini bisa mencari akar ilalang yang manis-manis seperti ketika itu? Entahlah...! (Panda MT Siallagan)***

Sunday, August 21, 2016

Menyedihkan, Unik dan Memalukan

Perkenalan saya dengan teks boleh dibilang menyedihkan, unik bahkan memalukan. Saya ingat mulai bisa membaca ketika duduk di bangku kelas II SD, tapi untuk sekian lama saya tidak bisa mempergunakan keahlian itu untuk membaca buku, sebab memang sulit menjumpai buku ketika itu.


Hingga kini, setiap ingatan itu melintas, saya selalu didera perasaan melankolis, percampuran antara kemarahan dan rasa sakit. Sebab kebanggaan sebagai anak yang baru bisa membaca, runtuh oleh kenyataan pahit sebuah dusun terisolir. Jangankan buku, anak-anak bahkan tidak mengenal listrik, apalagi televisi.

Ketika belanja atau memasarkan hasil tani ke ibukota kecamatan, warga harus melansir barang-barangnya dengan sepeda ontel, bertarung melintasi jalanan licin berlumpur. Seringkali, urusan belanja atau menjual hasil tani ke kota, berlangsung berhari-hari. Jika cuaca bagus, bisa satu hari. Saya ingat, ketika ibu ke kota, kami harus menunggu hingga tengah malam dengan perasaan was-was, sepi, dan terkadang takut. Sebab ayah biasanya pergi menjemput ke sebuah simpang (semacam terminal terakhir) yang bisa dijangkau angkutan. Dari simpang itulah warga berjalan kaki sejauh 5 kilometer memikul barang-barang belanjaan menuju dusun.

Di tengah situasi pedih itulah saya tumbuh dan mulai bercita-cita, tentu saja berawal dari kemampuan membaca. Meski buku adalah barang 'angker', saya tidak lantas kehilangan arah. Tetap saja teks hadir dan menari-nari dalam kepala saya melalui sampah, plastik-plastik, barang-barang bekas, atau  potongan-potongan suratkabar. Seandainya direkam, mungkin saya akan tampak seperti orang gila ketika memungut bungkus jajanan, kaleng roti, botol-botol minuman, atau benda-benda lain.

Lalu saya bacalah teks-teks di situ: roti marie, assorted biscuit, ingredients: ...sugar, milk, butter, salt..dll. Di lain waktu, jajanan anak-anak yang sangat kami kenal, saya ingat teks orong-orong 41 empatpuluh satu. Di kemasan lain, saya temukan tulisan Komposisi: tepung, garam, gula, mentega, dll. Saat itu saya belum memahami arti semua itu. Saya hanya merasa riang dan bangga bisa membaca tulisan-tulisan itu.

Saya tidak ingat berapa lama hal menyedihkan itu berlangsung. Tapi selanjutnya, saya menjadi akrab dengan banyak kata atau kalimat, misalnya tepung tapioka, garam beryodium, khong guan, 100% halal, ajinomoto, viva (bedak ibu), bodrex, entrostop, semoga lekas sembuh, roundup, paracol, theodan, jauhkan dari jangkauan anak-anak, pupuk urea, KCL, pupuk bersubsidi, anti pecah, deluxe (merek gelas), safety matches (pada kotak korek api), swallow, manufactured by, jangan pakai gancu, netto 50 kg, dan masih banyak dan akan sangat panjang jika dideretkan. Semuanya melekat pada benda-benda, sampah, kemasan, atau barang-barang bekas.

Satu-satunya buku berisi teks yang saya kenal adalah bibel, tapi saya tidak bisa sembarangan menyentuhnya karena selalu disimpan di tempat aman, biasanya di atas bufet. Ketika suatu kali saya berhasil membuka kitab itu, saya kebingungan dan tak mampu memahami bahasanya. Bibel itu menggunakan bahasa Batak lama, sangat berbeda dengan bahasa Batak yang kami kenal sehari-hari. Dan barangkali, akibat doktrin sakralitas bibel, saya tidak berani mencurinya meskipun untuk tujuan dibaca.

Di sisi lain, seperti halnya anak-anak lain, saya hanya membawa pensil dan buku tulis ke sekolah. Dan memiliki buku tulis yang agak tebal merupakan suatu kebanggaan ketika itu, sebab anak-anak biasanya hanya punya buku tulis atau buku halus-kasar 12 lembar. Dalam hal ini, saya sedikit beruntung sebab saya kerap memiliki buku tulis 30 atau 50 lembar.

Proses belajar mengajar di kelas berlangsung seperti ini: guru mencatat di papan tulis, murid memindahkan ke buku masing-masing. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan baca bersama. Polanya tetap sama: guru membaca terlebih dahulu di depan, murid mengikuti. Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa kalimat-kalimat itu sangat lucu dan menyedihkan: ini budi, ini wati, ini ibu, ini ayah...!

Untunglah, pelajaran menghitung bisa membebaskan suasana memalukan menjadi agak serius. Tapi celakanya, saya tidak menyukai pelajaran 'mari berhitung', sejak dari awal pengenalannya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Singkat kisah, tahun-tahun awal SD sama sekali tak menjanjikan ketersediaan teks.

Maka, pada masa-masa selanjutnya, saya merasa sangat gembira jika ibu pergi ke kota untuk belanja karena saya bisa menemukan bacaan baru. Sebab biasanya, beberapa belanjaan ibu dibungkus dengan kertas koran.  Saya akan baca kertas-kertas koran itu, meskipun saya tidak memahaminya. Membaca teks berbahasa Indonesia adalah sebuah 'pergumulan' hebat sebab kami tak mengenal bahasa itu.

Hingga suatu kali, ketika duduk di bangku kelas 3, saya tiba-tiba terpesona membaca sebuah syair yang tak utuh pada kertas koran bungkusan belacan. Itu tentang seorang ibu yang meninggal, yang entah bagaimana tiba-tiba sangat meresap ke hati saya. Setelah dewasa, saya yakin puisi itu adalah puisi remaja atau puisi anak-anak, sebab perbendarahaan kata ketika itu masih terbatas, tapi nyatanya saya dapat memahaminya dan merasa tersentuh.

Sejak itu, saya makin suka mencari-cari teks dan mulai gemar mencoret-coret kata di permukaan tanah dengan ranting kayu atau sapu lidi. Kenapa di atas tanah? Sebab mencoret atau menulis di buku adalah 'haram'. Buku tulis mahal dan memang dijatah sedemikian rupa. Ada satu kata kesukaan saya dan sering saya coretkan di permukaan tanah, yaitu: namanamauan. Sampai kini, dan mungkin selama-lamanya, saya tak akan berhasil mencari makna kata itu.

Barulah setelah duduk di bangku kelas 4, buku-buku mulai terhidang di meja kami. Sebuah babak baru dimulai, cahaya baru yang mencerahkan hati. Buku-buku itu adalah buku pelajaran yang ternyata disimpan di kantor guru. Sebelum proses belajar-mengajar dimulai, guru mengambil buku-buku itu dari kantor, dibagikan masing-masing satu buah untuk satu meja. Setelah jam pelajaran usai, buku itu dikumpul dan kembali disimpan di kantor guru.

Sejak itu, saya mulai berdosa dan berubah jadi penjahat. Benar-benar penjahat. Saya bergairah membayangkan buku-buku itu mengonggok di kantor guru. Saya mulai berpikir dan mencari-cari cara untuk mencurinya. Dan tak perlu waktu lama, saya menemukan caranya. Saya ambil tang milik ayah. Saya bawa kursi kecil yang terbuat dari kayu. Saya pergi ke sekolah itu pada petang menjelang malam.

Persis di bawah jendela kantor guru, saya letakkan kursi. Saya naik dan mulai mencungkil bilah logam penjepit kaca nako jendela di kedua sisi. Setelah agak longgar, saya tarik perlahan-lahan kaca itu, saya letakkan di tanah. Saya ulangi hal yang sama hingga 3 atau 4 kaca berhasil saya lepas. Lalu saya masuk ke ruangan itu. Sungguh pengalaman mendebarkan dan menakutkan. Saya begetar hebat menyaksikan buku bertumpuk-tumpuk di lemari yang terbuka. Bukan hanya buku pelajaran, tapi juga buku-buku cerita. Dengan kondisi tubuh berkeringat dingin, saya pasrah terjerumus ke dalam dosa. Saya ambil beberapa buku, lalu keluar dengan lutut gemetar. Saya pasang lagi kaca itu perlahan-lahan. Selesai.

Hingga masuk ke universitas, penyakit mencuri buku itu tidak bisa saya obati. Dan Tuhan maha tahu, saya tak punya keberanian mencuri barang apapun. Tapi untuk mencuri buku, saya adalah si cerdik berdarah dingin.

Demikianlah perjumpaan saya dengan teks. Sebuah perjumpaan yang tragis dan memalukan. Singkat kisah, bacaan-bacan itu perlahan-lahan 'memerintahkan' saya menulis. Dan selanjutnya adalah kesedihan demi kesedihan, sebab cita-cita saya menjadi sastrawan ternyata gagal juga. Dan untuk alasan itulah saya mengisahkan ini sebagai bentuk terimakasih kepada orang-orang sederhana yang menganggap saya penulis. Catatan ini adalah jawaban saya atas pertanyaan mereka: bagaimana sejarahnya kau bisa menulis? (Panda MT Siallagan)***

Wednesday, August 17, 2016

Kisah Marsinah, Pejuang Buruh Tangguh

Saya bayangkan gadis kecil itu mengendarai sepeda dengan keriangan khas anak-anak. Dan, ia bersepeda bukan bermain-main seperti anak-anak zaman kini. Gadis kecil tokoh kita ini bersepeda ke rumah-rumah penduduk di sekitar kampungnya untuk mengambil gabah atau jagung, lalu membawanya ke rumah neneknya.


Ya, sang nenek berprofesi sebagai pedagang-pengumpul gabah dan jagung di desa itu. Dan pekerjaan itu dilakukan Gadis Kecil itu agar bisa mendapat uang jajan dari sang nenek. Oh, tidak. Tidak sekedar ingin mendapatkan uang jajan, tapi ia mengerjakan itu dengan sadar: sebagai bentuk terimakasih kepada sang nenek yang telah merawat dan memeliharanya.

Ya, ketika Gadis Kecil itu berusia 3 tahun, ia ditinggal mati ibunya. Juga seorang kakak dan adik berusia 40 hari. Sungguh, saya bergetar membayangkan 3 anak perempuan hidup tanpa seorang ibu. Bergetar membayangkan tangis bayi berusia 40 hari tanpa perlindungan ibu, bagaimanakah mereka merasakan kepedihan itu? Dan seperti dikisahkan, sang ayah kemudian menikah lagi dengan perempuan lain.

Sejak itulah Gadis Kecil itu tinggal dan hidup bersama neneknya. Ia tumbuh tanpa siraman kasih sayang ibu. Ia tidak bisa bermanja-manja sebagaimana anak-anak seusianya. Tiada tempat mengadu, tiada tempat menumpahkan tangis dan rasa takut. Dia harus mandi sendiri, makan sendiri, dan mencuci baju sendiri. Sungguh, saya bergetar membayangkan kesunyian itu.

Kepadanya patut kita haturkan puji, sebab ia anak yang tahu berterimakasih. Ia dengan sadar membantu nenek menjalankan usahanya agar mereka bisa hidup. Ia tumbuh menjadi gadis tangguh, pemberani, dan tidak cengeng. Dan kesadaran lain membuatnya tumbuh jadi gadis cerdas: suka belajar, suka membaca. Imbalan yang diberi nenek atas jasanya mengangkut gabah dan jagung, sebagian ia pergunakan membeli buku. Ia haus ilmu. Jika tiada bacaan yang dipunyai, ia memungut potongan-potongan koran yang tercecer dimana saja sebagai bahan bacaan.

Dan, ia tumbuh jadi gadis terpelajar: cerdas, ramah, setiakawan, suka membantu orang lain, dan kritis terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nuraninya. Ia gadis yang bertanggungjawab bukan hanya pada hidupnya, tapi juga pada zamannya. Maka ia pemberani, sangat berbeda dengan gadis-gadis seusianya. Ia gemar menonton televisi di rumah tetangga untuk menambah ilmu, lalu pulang malam hari jika sajian televisi usai.

Ketika ia sudah duduk di bangku SMA, kegemaran membaca sejak usia dini itu tetap awet. Ia suka membaca biografi tokoh-tokoh terkenal. Dan ia mengagumi Hamka. Hamka adalah tokoh idolanya.

Tapi takdir memutus mimpi. Gadis cerdas dan pintar itu mengakhiri riwayat perjalanan pendidikannya hanya SMA. Tapi ia sadar, pengetahuan dan wawasan tak hanya diperoleh dari bangku pendidikan. Dan, diapun pamit kepada keluarga, berangkat menuju Surabaya untuk bertarung menantang hidup. Ia meninggalkan desanya yang sunyi: Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Dan di Surabaya, gadis itu menggetarkan dunia, membuat sibuk negara, ketika ia berteriak lantang bersama rekan-rekan buruh memperjuangkan hak dan melawan penindasan. Dan, seperti kita tahu, ia dibunuh secara keji. Sungguh keji. Dan para pelaku adalah petinggi-petinggi perusahaan dimana ia bekerja. Sungguh, saya bergetar membayangkan betapa sunyi ia ketika disekap, dianiaya dan disiksa. Saya bayangkan, dalam keheningan yang menyakitkan itu, dia terkenang pada neneknya, terkenang masa kecil bersepeda mengangkut gabah. Dan ketika tusukan demi tusukan merongrong tubuh dan jiwanya dengan rasa sakit, ia mungkin teringat ibunya, yang telah meninggalkannya di usia tiga tahun. Sungguh, saya bergetar mengenang gadis itu: MARSINAH. Marsinah, sesunyi apakah mimpimu? Andai kau bisa mengisahkan. ***

Friday, August 12, 2016

Kisah Antara Peci dan Kacamata

Ia selalu mengenakan peci, sehingga kadang-kadang, saya penasaran: apakah kepalanya botak atau penuh dengan rambut lebat. Dan ia juga selalu memakai kacamata, entah plus atau minus, tapi sangat khas: bentuknya bulat, tangkai agak tebal, dan bertengger serasi di atas hidungnya yang mancung. Lalu, di kedua pipinya, ada lekukan yang agak dalam, pertanda ia sudah tua.


Seperti itulah kesan saya terhadap foto-foto Ki Hajar Dewantara yang diperkenalkan pada saya sejak kanak-kanak, baik melalui buku-buku, atau yang tertempel pada potongan kisah-kisahnya di berbagai surat kabar atau majalah. Dan barangkali, generasi kini dan yang akan datang, masih akan tetap menyaksikan foto yang sama.

Ketika saya dewasa, setiap kali Hari Pendidikan Nasional diperingati, selalu banyak artikel atau atau bahasan mengenai Ki Hajar Dewantara, dan tak jarang fotonya itu juga muncul. Saya gemar mengamatinya. Dan setelah zaman internet merebak, saya usil mencari-cari fotonya di mesin pencarian otomatis, dan saya tersenyum menemukan bahwa: Ki Hajar Dewantara itu sedikit botak pada kepala bagian depan, di atas keningnya.

Tetapi secara keseluruhan, saya kagum. Saya terpesona pada tatapan matanya yang tajam, kuat, dan memiliki sorot yang tegas. Saya temukan api semangat menyala dari situ. Dan saya bayangkan mata itu lebih berapi ketika dia bicara atau berpidato menyampaikan propaganda. Dari lekukan pada wajahnya, saya tangkap sebuah jiwa yang keras dan berkarakter, penuh hasrat, penuh cita-cita. Lalu saya simpulkan secara pribadi: ia pantas jadi bapak bangsa, bapak pendidik. Matanya bersahaja, menyimpan kewibawaan. Kewibawaan?

Ya, kewibawaan. Sejarah meneguhkan kepada kita bahwa tokoh bangsa sejak masa kolonial hingga era sekarang, adalah orang-orang yang penuh wibawa. Saya pikir, kewibawaan itulah kini yang rasanya tak lagi dimiliki bangsa ini lewat tokoh-tokohnya. Terlebih guru atau pendidik. Pada sebagian orang, wibawa mungkin bawaan sejak lahir, tapi bagi kebanyakan, wibawa lahir dari proses panjang perwujudan integritas, termasuk kadar moralnya.

Maka kita heran, jangankan murid, orangtua pun sangat hormat pada guru, pada zaman dulu. Tapi kini, guru hampir-hampir tak lagi punya wibawa bahkan dianggap tak penting oleh masyarakat. Apakah karena guru tidak lagi memiliki ilmu dan moral mumpuni, ataukah memang masyarakat sudah terlalu cerdas sehingga tidak lagi perlu menghargai guru? Entahlah.

Pada konteks inilah barangkali Ki Hajar Dewantara perlu 'dihayati' ulang sebagai panutan. Saya pribadi sangat tertarik membaca kisahnya, yang pada berberapa sumber disebut sebagai wartawan. Dan tentulah ia merupakan wartawan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia pada zamannya. Ia handal menulis, dan gagasan-gagasannya hinggal kini masih abadi.

Semboyan Tut Wuri Handayani, yang terpatri dalam benak kita, adalah semboyan miliknya. Secara lengkap, semboyan itu sesungguhnya berbunyi: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. (di depan guru memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang memberikan dorongan dan arahan).

Dan kita tahu, semboyan itu akan ideal selama-lamanya. Selain sebagai wartawan, Ki Hajar Dewantara lebih dikenal sebagai peletak dasar pendidikan Indonesia. Ia juga politisi ulung yang getol menggugah kesadaran berbangsa ketika itu, dan menjadi motor gerakan kebangkitan organisasi nasionalisme awal yang kita kenal sebagai Boedi Oetomo. Ketika Indische Partij berdiri, ia ikut di dalamnya.

Pria bangsawan yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini pernah merasakan pengasingan di Belanda karena vokal memperjuangankan kemerdekaan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Ketika kembali ke Indonesia, ia mendirikan dan membangun sekolah untuk semua kalangan, yaitu Taman Siswa. Meski ia bangsawan, ia peduli pada pendidikan dan masa depan seluruh kaum. Maka tak salah Soekarno mengangkatnya sebagai Menteri Pengajaran Indonesia pertama. Dan atas jasa-jasanya, ia diangkat jadi Pahlawan Nasional dan dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, dan hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei.

Baiklah, saya tak bermaksud mengulang-ulang biografi bapa kita ini, tapi entah kenapa, saya senang mengamati fotonya, yang selalu mengenakan peci, memakai kacamata bulat, entah plus atau minus, tapi sangat khas: bentuknya bulat, tangkai agak tebal, dan bertengger serasi di atas hidungnya yang mancung. Peci dan kacamata yang bagi saya seperti sebuah kisah. Sungguh berwibawa. ***