Showing posts with label Seni Rupa. Show all posts
Showing posts with label Seni Rupa. Show all posts

Wednesday, November 6, 2019

Lirik Lagu Cinta Kaleng-kaleng dan Artinya - Hobasta Trio


Cinta Kaleng-kaleng

Voc: Hobasta Trio
Cipt: Jonar Situmorang
Prod: Putri Jaya Hobasta Record (2019)

Hobasta Trio.
Unang ma dirimpu ho au hasian jolma na oto
Alai attar hubaen tu ho songon na sip saleleng on
Na huapus-apus do ate-atekkon hupasabar dirikkon

(Jangan kau pikir sayangku aku orang bodoh
Karena selama ini aku selalu diam padamu
Aku selalu mengusap dada menyabarkan diri)

Dang biasana ho da hasian ro laho mandulo au
Marsipalessem ho jala tabo pandokmu abang sayang
Sudahlah sudah cukuplah cukup sandiwara cintamu

(Tidak biasanya kau datang padaku
Bermanis-manis kau datang dan berkata lembut abang sayang
Sudahlah sudah cukuplah cukup sandiwara cintamu)

Na dirippu ho do dang huboto i lakkami di pudikki
Dung hansit roham dibahen si doli i ro ma ho sumolsol bagi
Dianggap ho do au songon boneka i sai digotili dihansiti

(Jangan kau pikir aku tak tahu langkahmu di belakangku
Setelah hatimu sakit diperlakukan pria itu kau datang padaku
Kau anggap aku seperti boneka selalu dicubit disakiti)

Ai dang arga di ho holongki
Percuma cintakki tu ho
Dianggap ho do hape cintakki
Cinta na so jelas cinta kaleng-kaleng i

(Cintaku tak berharga bagimu
Cintaku sia-sia untukmu
Kau anggap cintaku
Cinta yang tak jelas cinta kaleng-kaleng)

***

Sunday, November 20, 2016

Filosofi Cicak dan Payudara bagi Orang Batak


Orang Batak sangat dekat dengan cicak. Hewan melata ini oleh orang Batak bahkan dijadikan pedoman hidup yang diwujudkan dalam seni ornamen atau gorga. Di setiap rumah adat Batak atau Rumah Bolon, kita akan menemukan ukiran atau gorga cicak terpampang pada bagian depan rumah.

Gorga Boraspati dan Adop-adop (bagian bawah)

Dalam konteks ilmu seni rupa Batak, ornamen cicak ini disebut dengan gorga boraspati. Sebagaimana tatanan masyarakat lain, pergaulan sosial masyarakat Batak juga memiliki ragam filosofi. Dan nampaknya, leluhur Batak memilih cicak sebagai salah satu filosofi hidup berdasarkan pengamatan dan perenungan yang cerdas, cermat dan mendalam. Cicak dijadikan simbol kebijaksanaan, kehormatan, kesetiaan dan kekayaan.

Saya mencoba memahami filosofi cicak ini dengan perenungan sederhana. Dulu, ketika masih kanak-kanak, saya kerap menyaksikan cicak di dinding gubuk di tengah ladang yang terbuat dari rajutan bambu. Selama periode cukup lama, saya ingat kami sekeluarga pernah hidup di ladang dan tinggal di sebuah gubuk kecil.

Bertahun-tahun kemudian, kami pindah ke sebuah rumah di tengah desa yang terbuat dari papan. Di rumah ini saya juga kerap menyaksikan cicak. Bahkan kerap menjadikannya tontotan pada malam hari, terutama ketika cicak mengintip dan menerkam nyamuk atau serangga yang terbang di sekitarnya, persis seperti lagu anak-anak yang terkenal itu: cicak-cicak di dinding...

Ketika di kemudian hari rumah orangtua saya di desa itu bisa diperbaiki menjadi gedung, cicak-cicak itu tetap ada. Bahkan, ketika kini saya tinggal di kota dan usia terus bergulir menuju uzur, cicak tetap saya temukan di rumah. Kadang berlarian di dinding bersama teman-temannya, bahkan sesekali membuat terkejut ketika saya mengambil buku dari rak, cicak tiba-tiba melompat.

Saya ingat, suatu pagi di halaman rumah, seekor cicak terperangkap di bawah ancaman induk ayam. Dengan perasaan seru, saya saksikan sang ayam berusaha mematuk si cicak. Lalu, tiba-tiba ekor cicak itu putus. Si ayam mematuk ekor yang tertinggal dan menggeliat (bergerak-gerak), tapi cicak tanpa ekor itu lari dan berhasil menghilang ke semak-semak dekat rumah. Belakangan saya tahu, cicak juga memberikan ekornya sebagai umpan untuk mengelabui kucing yang menyerangnya.


Itulah mengapa saya katakan, leluhur orang Batak sangat cerdas dan cermat ketika memilih cicak sebagai salah satu simbol filsafat dalam kehidupan mereka. Baik di gubuk, rumah papan, gedung, pedesaan dan perkotaan, cicak selalu eksis dan mampu melanjutkan hidup. Demikianlah kiranya orang Batak bisa hidup dan beradaptasi dan bertahan di setiap situasi dan kondisi.

Zaman dulu, konon orang Batak akan merasa bahagia jika cicak muncul di lahan pertanian baik ladang dan sawah, sebab hal itu diyakini sebagai pertanda bahwa tanaman akan subur dan produktif. Semakin sering cicak muncul, tanaman semakin subur, dan produksi akan semakin memuaskan.

Memang, cicak adalah hewan yang kontroversial bagi suku tertentu jika dihadapkan pada pemahaman dan pemaknaan suku Batak. Orang Jawa, misalnya, konon menganggap cicak sebagai hewan pembawa sial. Dalam agama tertentu, beberapa pendapat mengatakan bahwa cicak adalah hewan yang tidak bersahabat dengan nabi.

Tapi terlepas dari perbedaan itu, secara luas dapatlah dipahami bahwa generasi penerus bangsa Batak harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi lingkungan. Orang Batak yang gemar merantau ke daerah lain tentu sangat terbantu dengan filosofi ini, sehingga mereka bisa bertahan dalam segala kondisi. Dia harus mampu bertahan seperti ciccak mencengkeram dinding, tiang, atau masuk ke celah-celah sempit.

Dalam konteks pergaulan, filosofi ini mendidik orang Batak menjadi lentur dan dapat bergaul dengan siapa saja, dan memiliki kebijaksanaan yang unggul menghadapi perbedaan di suatu lingkungan. Jadi tidak heran, meskipun stereotip orang Batak dikenal sebagai suku keras, berani dan bernyali, tapi setelah mengenal mereka, siapa saja bisa terbius dan merasakan nilai persahabatan yang istimewa.

Menariknya, gorga cicak selalu berhadapan dengan ornamen 4 payudara, yang disebut gorga adop-adop. Adop-adop berjumlah 4 memiliki makna: 1. Simbol kesucian. 2. Simbol kesetiaan. 3. Simbol kesejahteraan. 4. Simbol kesuburan wanita.

Gorga adop-adop ini diibaratkan sebagai ibu yang selalu menyusu pada anak-anaknya. Cicak bisa dimaknai sebagai orang Batak yang harus menghormati ibu kapanpun dan di manapun. Menurut orang-orang tua, ornamen ini diletak di bagian depan rumah sebagai tanda bahwa ke mana pun dan dimana pun orang Batak hidup apalagi sudah sukses, dia tidak boleh lupa pada kampung halaman.

Empat payudara itu juga melambangkan sosok ibu yang penuh dengan unsur kehidupan, kasih sayang, kesucian, dan kesuburan. Itulah sebabnya orang Batak sangat hormat dan menjunjung tinggi martabat ibunya. (Panda MT Siallagan/int)

Monday, October 31, 2016

Sigale-gale, Kisah Si Raja Deang yang Sunyi


Patung Sigale-gale yang terknenal dari tanah Toba itu merupakan hasil kreativitas seniman Batak pada zaman dahulu. Dari sisi capaian artistik, patung Sigale-gale bolehlah dikatakan sebagai karya seni bernilai tinggi dalam perjalanan seni rupa Batak. Dan si pematung, dengan demikian, bisa dikatakan sebagai perupa ulung.

Patung Sigale-gale.
Patung Sigale-gale merupakan tiruan manusia, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Keduanya dibentuk dari batang kayu dengan kekuatan seni ukir dan seni pahat. Keahlian si seniman dan teknik pembentukan patung tampak jelas dari wujudnya yang mistis, menggerunkan dan bisa menari seperti manusia. Tarian inilah yang kemudian dikenal Tortor Sigale-gale.

Menurut cerita turun-temurun, permulaan Sigale-gale bermula dari kisah hidup Datu Niantan dan Datu Manggeleng, dua abang-beradik dari sebuah keluarga pada zaman Batak lama. Kedua abang beradik ini sangat terkenal dan tersohor karena ilmu supranatural (hadatuon) yang mereka miliki.

Suatu ketika setelah cukup umur, sang abang Datu Niantan menikah dan berkeluarga. Ini kondisi ideal dalam tatanan sosial masyarakat Batak yang patriarkal: bahwa setiap lelaki harus menikah agar kehidupannya dianggap sempurna dan memiliki generasi penerus marga. Dan hal itu pulalah yang menjadi keresahan dalam keluarga itu, sebab si adik, Datu Menggeleng, tidak kunjung menikah.

Seluruh keluarga berharap dan menyarankan agar dia segera menikah, tapi Datu Manggeleng sepertinya lebih memilih hidup sendiri. Bersama pelayannya, dia kemudian pergi ke daerah lain yang masih berwujud hutan. Di sana, ia menebang kayu, lalu mengukirnya. Setiap hari ia hanya mengukir dan tidak lagi berbaur dengan masyarakat. Dan entah dapat ide dari mana, ia berkeinginan membuat ukiran dan patung menyerupai manusia.

Pada awalnya, Datu Manggeleng membentuk bagian-bagian patung itu secara terpisah. Kepala, tangan, tubuh, kaki dan lain-lain, dibentuk secara bertahap. Setelah itu, bagian-bagian patung itu disatukan atau dibuhul dengan tali, hinga akhirnya menyatu seperti wujud manusia.

Setelah patung hasil ciptaannya rampung dan menjadi baik adanya, Datu Manggeleng kembali memikirkan bagaimana caranya agar patung manusia itu bisa bergerak. Ia kemudian merancang ruas-ruas patung, dan akhirnya, dengan bantuan tali, patung bisa bergerak jika ditarik. Dan selanjutnya, patung itu tak hanya sekedar bergerak, tapi juga bisa menari.

Hasil karya Datu Manggeleng itu kemudian tersebar luas dan menjadi tersohor. Datu Manggeleng memberi nama patung ciptaannya itu Si Raja Deang. Dan begitulah, Si Raja Deang menjadi sakral bagi ketika itu.

Hingga akhir hayatnya, Datu Manggeleng hidup sendiri dan ketika ia meninggal, ia tidak meninggalkan keturunan. Dalam tradisi Batak, seseorang yang meninggal tanpa punya keturunan disebut dengan mate pupur. Demikianlah Datu Manggeleng meninggalkan dunia ini dengan status mate pupur.

Belakangan hari, setelah Datu Manggeleng tiada, orang-orang mengubah nama Si Raja Deang menjadi Sigale-gale. Konon, nama Sigale-gale merujuk pada nama Raja Manggeleng. Tapi sebagian menyebut, Sigale-gale merujuk pada gerakan patung yang gale (lemah gemulai) ketika menari.

Dan demikianlah, sesuai kisah hidup Datu Manggeleng sang seniman itu, orang-orang Batak kemudian mempertontonkan Tortor Sigale-gale jika ada orang mate pupur. (Panda MT Siallagan)

* Catatan: Kisah ini merupakan versi yang disadur dari buku Jambar Hata karangan TM Sihombong, Penerbit Tulus Jaya (1989).