Showing posts with label Seni Tari. Show all posts
Showing posts with label Seni Tari. Show all posts

Wednesday, November 6, 2019

Lirik Lagu Zaman Now dan Artinya - Hobasta Trio


Zaman Now

Voc: Hobasta Trio
Cipt: Tumbur Nababan
Prod: Putri Jaya Hobasta Record (2019)

Hobasta Trio.

Zaman now istilah zaman saonari
Nga rundut be sude akka na masa on
Holan alani dunia maya on
Nga godang na so tarpincang ama-ama ina-ina

(Zaman now istilah zaman sekarang
Semua situasi makin kacau
Hanya karena dunia maya
Banyak bapak-bapak dan ibu-ibu tak lagi mendengar nasehat)

Ina-ina perasaan gadis
Status facebook holan na galau
Ama-ama perasaan lajang
Mangalului rokkap hape nga bau tano

(Ibu-ibu perasaan gadis
Status facebook selalu galau
Bapak-bapak perasaaan lajang
Tebar pesona meski sudah tua bangka)

[Ima da tutu molo binereng zaman on
Gabe bingung do sipata panghilaan
Ina-ina perasaan anak boru
Ama-ama perasaan doli-doli
Oh zaman now, hancurrrr]

[Sungguh kalau kita lihat zaman ini
Kadang perasaan jadi jadi bingung
Ibu-ibu perasaan anak gadis
Bapak-bapak perasaan anak muda
Oh zaman now, hancurrrr]

***

Sunday, October 23, 2016

Jenis-jenis Tarian dari Simalungun


Simalungun merupakan salah satu etnis besar di Sumatera Utara yang juga memiliki khasanah kebudayaan yang kaya. Ssalah satu warisan kebudayaan Simalungun yang dapat dinikmati adalah tarian tradisional yang juga disebut tortor. Berikut beberapa tortor Simalungun: 

Tari toping-toping

* Tari Toping-toping

Tortor Toping-toping merupakan sebuah tarian unik yang biasanya dipertunjukkan untuk menghibur keluarga kerajaan yang sedang berduka. Sesuai sejarahnya, tarian ini hanya hiburan untuk kalangan keluarga kerajaan. Tapi sesuai perkembangan zaman, tarian ini sudah menjadi sarana hiburan masyarakat, bukan hanya di Simalungun tapi sudah menjadi tarian milik Sumatera Utara.

Secara singkat, toping-toping ditarikan beberapa orang mengenakan kostum menyerupai topeng dan diiringi alat-alat musik tradisional yang disebut gonrang sidua-dua. Alat musik ini terdiri sarunei bolon, mongmongan dan ogung.

Topeng pada tarian terdiri dari 3 jenis yaitu topeng dalahi (topeng menyerupai wajah pria, dipakai penari pria), topeng daboru (topeng menyerupai wajah wanita, dipakai penari wanita), lalu topeng huda-huda (menyerupai paruh burung enggang, dibentuk dari jalinan kain).

# Tari Manduda

Tari Manduda dipertunjukkan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya. Tarian menggambarkan kehidupan petani turun ke sawah dengan suasana gembira, mulai menanam padi hingga sampai kepada suasana panen. Gerak memotong padi, mengirik dan menampis padi tergambar lewat gerakan-gerakan tarian ini, yang dilakukan secara gemulai dan lincah.

# Tari Haroan Bolon

Tarian Haroan Bolon merupakan lagu iringan tari tradisional berjudul Haroan Bolon, salah satu tarian tradisional Simalungun ciptaan Tuan Taralamsyah Saragih pada tahun 1959.

Haroan Bolon merupakan tarian klosal atau sendratari yang berkisah tentang rangkaian proses kerja disawah mulai dari, pembibitan, menanam benih, perawatan, panen, hingga pada proses menumbuk padi menjadi beras.

Komposer dan penata tari itu adalah Tuan Taralamsyah Saragih, lahir di Pematang Raya, Simalungun, pada 18 Agustus 1918 dari keluarga keturunan Raja Simalungun. Sejak kecil Taralamsyah Saragih telah menunjukkan bakat seni terutama di bidang seni musik dan senitari. Dia sangat mencintai seni musik dan tari.

# Tortor Sombah

Tortor Sombah.

Tarian ini boleh dikata tarian yang sangat populer pada masa ini. Tarian ini lazim dilakukan untuk menyambut kepala daerah atau pejabat suatu instansi pada suatu acara sebagai bentuk penghormatan. Memang, tortor sombah adalah tarian yang dilakukan untuk menghormati Tuhan Maha Kuasa, raja dan undangan suatu hajatan. (bbs/int)

Tuesday, September 6, 2016

Jenis-jenis Tortor Batak Toba


Meskipun pada awalnya tortor dianggap sebagai perwujudan ritual masyarakat Batak pada roh-roh, namun di zaman modern makna dan tujuan tortor sudah berkembang. Tortor sudah melembaga sebagai karya budaya dan kesenian seni yang mendunia. Saat ini tortor dilakukan dalam pesta adat perkawinan, pesta peresmian rumah, pesta tugu, bahkan ada pesta naposo dengan manortor sebagai ajang hiburan.

Untuk melestarikaannya sebagai produk budaya, tortor sering sudah sering pula diperlombakan dalam bentuk festival. Dalam setiap acara perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, berbagai kecamatan di wilayah Toba lazim menggelar festival tortor tingkat Kabupaten. Tak hanya itu, tortor juga seringkali muncul di televisi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Masyarakat Batak bahkan telah membawa seni budaya ini ke perantauan di luar Toba bahkan hingga ke luar negeri.

Meskipun pengenalan akan tortor semakin populer, ada baiknya generasi baru tetap mengenal ragam tortor sejak zaman dahulu hingga tortor yang sering dipertontonkan zaman sekarang. Berikut jenis-jenis tortor:

1. Tortor Pangurason

Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut. Dengan demikian, lokasi pesta diharapkan jauh dari mara bahaya.

2. Tortor Sipitu Cawan 
Tortor Sipitu Cawan
Tari ini biasa digelar saat pengukuhan seorang raja. Tari ini dipercaya berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (pisau tujuh sarung).

Tortor ini tidak bisa dipelajari sembarangan orang kecuali kalau memang sudah jodoh. Lewat turun temurun, tarian tujuh cawan dianggap sebagai tarian paling unik karena sang penari harus menjaga keseimbangan tujuh cawan yang diletakkan di kedua belah tangan kanan dan kiri tiga serta satu di kepala.

Tarian tujuh cawan mengandung arti pada setiap cawannya. Cawan 1 mengandung makna kebijakan, cawan 2 kesucian, cawan 3 kekuatan, cawan 4 tatanan hidup, cawan 5 hukum, cawan 6 adat dan budaya, cawan 7 penyucian atau pengobatan. Kegunaan lain dari tarian ini adalah membuang semua penghalang, sebab orang Batak percaya manusia biasanya mengalami kegagalan karna ada penghalang.

3. Tortor Tunggal Panaluan
Tortor Tunggal Panaluan
Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan adalah tongkat tongkat sakti dan majis magis yang terbuat dari kayu berukir. Gambar-gambar dalam ukiran itu adalah kepala manusia lengkap dengan rambut, dan sejumlah binatang. Panjang tongkat kira-kira 2 meter dengan diameter 5 hingga 6 cm.

Tongkat panaluan dipakai oleh para datu dalam upacara ritus, dan tongkat ini dipakai para datu (dukun) dengan tarian tortor yang diiringi gondang (gendang) sabangunan. Tunggal Panaluan merupakan fakta mitologis tentang sebuah kisah asmara terlarang.

4. Tortor Sigale-gale
Tortor Sigale-gale
Sigale-gale merupakan pertunjukan kesenian di Toba. Sigale-gale adalah nama sebuah patung kayu yang berfungsi sebagai pengganti anak raja yang telah meninggal. Patung itu diciptakan untuk menghibur raja dan ia bisa menari digerakkan manusia.

5. Tortor Souan

Tari ini merupakan tari ritual, dahulunya tari ini dibawakan oleh dukun sambil membawa cawan berisi sesajen yang berfungsi sebagai media penyembuhan penyakit bagi masyarakat Tapanuli. (berbagaisumber/int)

Baca Juga: SEJARAH, ASAL-USUL DAN MAKNA TORTOR

Monday, September 5, 2016

Sejarah, Asal-usul dan Makna Tortor


Tarian tradisional masyarakat Batak Toba disebut dengan tortor. Secara harafiah, tortor dalam bahasa Batak berarti tari atau tarian. Sedangkan aktivitas menari disebut manortor.

Tortor. (Foto/Int)
Konon, kata tortor berasal dari 'tor-tor', bunyi hentakan kaki penari di lantai papan rumah adat Batak. Meskipun belum ada informasti detail kapan tradisi tortor mulak dipraktekkan dalam masyarakat Batak, namun para seniman dan praktisi tari percaya bahwa sejarah tortor sangat terkait dengan upacara-upacara ritual Batak.

Seorang pecinta dan praktisi tortor, Togarma Naibaho, menyatakan pendapat yang sama bahwa tor-tor berasal dari suara hentakan kaki penari  di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan gondang yang juga berirama mengentak. "Tujuan tarian ini dulu untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Tarian ini memiliki proses ritual yang harus dilalui," kata pendiri Sanggar Budaya Batak, Gorga, itu kepada National Geographic Indonesia.

Menurut sumber-sumber sejarah, tortor awalnya memang dilakukan saat acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh dipanggil dan 'masuk' ke patung-patung batu yang merupakan simbol leluhur. Patung tersebut lalu bergerak seperti menari. Tarian ini akhirnya bertransformasi seiring waktu hingga ke wilayah perkotaan. Namun dalam dalam konteks modern, tortor bukan lagi ritual, melainkan sudah hiburan semata.

Sesungguhnya, banyak jenis tortor yang dikenal dan dipraktekkan dalam kebudayaan Batak. Ada tortor pangurason (tari pembersihan), yang biasanya digelar pada pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi terlebih dahulu dibersihkan agar jauh dari mara bahaya. Pada pembersihan inilah digelar tortor pangurason dengan menggunakan jerut purut.

Kemudian ada tortor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sarung (pisau tujuh sarung). Kemudian tortor Tunggal Panaluan, yang biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk mengatasi musibah dimaksud. Lalu Tortor Sigale-gale yang dilakonkan sebuah patung kayu yang menggambarkan rasa cinta seorang raja terhadap anak tunggalnya yang meninggal akibat penyakit.

Dalam setiap jenis-jenis tortor itu, ada tiga pesan utama yang ingin disampaikan. Pertama, takut dan taat pada Tuhan pencipta alam. Itulah sebabnya, sebelum tari dimulai, harus ada musik persembahan pada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, pesan ritual untuk penghormatan leluhur dan orang-orang yang masih hidup. Terakhir, pesan untuk khalayak ramai yang hadir dalam upacara.

Durasi tortor bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit. Pada masyarakat Batak, hal ini tergantung permintaan rombongan atau kelompok yang ingin  menyampaikan sesuatu hal ke rombongan lain. Dimintalah  gondang (musik) terlebih dahulu sebelum memulai suatu acara atau pelaksanaan adat. Di zaman modern, meski tortor sudah hiburan semata, namun acara atau pesta adat baik pernikahan dan pemakaman, masyarakat Batak selalu mengggelar tortor. Pesta atau acara adat yang tidak diiringi tortor akan terasa kurang terhormat dan bisa menjadi pergunjingan.

Sebagaimana lazimnya tarian dari kebudayaan lain, maka tortor juga selalu diiringi gondang. Tidak ada tortor tanpa gondang. Dalam prakteknya, sebelum tortor dimulai, pihak yang ingin menari selalu terlebih melakukan acara khusus meminta musik yang disebut tua ni gondang. Permintaan ini juga disampaikan dengan bahasa santun berupa umpasa (pantun Batak). Setelahh gondang diminta, barulah acara manortor dimulai.

Jenis permintaan musik (gondang) yang akan dibunyikan umumnya diawali dengan penghormatan kepada dewa dan pada ro-roh leluhur, lalu gondang untuk keluarga yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, rezeki, dan upacara adat itu. Dan terakhir gondang untuk berkat bagi tuan rumah (penyelenggara pesta atau upacara) dan seluruh keluarga dan para undangan.

Dalam manortor, setiap penari memakai ulos. Ada beberapa pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas. Jika itu dilakukan, si penari dianggap arogan dan tidak hormat kepada segenap hadirin. Konon, zaman dulu, jika ada penari melanggar larangan itu, ia dianggap menantang ilmu perdukunan dan kebatinan.

Alat musik yang digunakan adalah ogung sabangunan yang terdiri dari 4 ogung, dan lazim dilengkapi dengan alat musik bernama hesek, taganing  dan sarune. Dalam manorotor, tahapan gondang (musik) yang diminta adalah gondang mula-mula, gondang domba, gondang mangaliat, gondang smonang-monang, gondang sibungajambu, gondang marhusip, dan seterusnya yang  diakhiri dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio.

Secara garis besar, terdapat empat gerakan dalam tortor. Pertama adalah Pangurdot, gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu. Kedua adalah Pangeal, merupakan gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu/sasap. Ketiga adalah Pandenggal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya. Gerakan keempat adalah Siangkupna yakni menggerakan bagian leher.

Dalam acara tortor biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok tortor dan pengatur acara (peminta gondang) yang berkemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang. (berbagaisumber/int)