Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Wednesday, September 25, 2019

Jenis-jenis Fiksi Beserta Contohnya


Fiksi atau teks fiksi merupakan karya sastra yang berisi cerita rekaan, atau kisah berdasarkan angan-angan (imajinasi) seorang pengarang atau penulis. Jadi fiksi bukan berdasarkan kejadian nyata, hanya berdasarkan imajinasi atau khayalan.
Ilustrasi.
Cerita fiksi biasanya berdasarkan sejarah, kejadian atau pengalaman hidup sang penulis atau orang lain yang dibumbui dengan imajinasi-imajinasi dari penulisanya.

Berikut jenis-jenis fiksi: 

1. Novel, yaitu suatu karangan fiksi yang menceritakan seorang tokoh utama dengan pro dan kontra di dalam ceritanya, mulai dari awal hingga akhir novel yang memiliki klimaks atau ending.

2. Cerita pendek (cerpen), yaitu suatu karang fiksi yang isinya jauh lebih sedikit ketimbang roman maupun novel. Akan tetapi, cerpen memiliki daya tarik tersendiri karena bisa menjadi pembelajaran awal bagi para penulis dalam membuat sebuah karya tulisan. Karya  sastra ini terdiri 2,000 kata namun diatas 7,500 kata. Batasan antara cerita pendek yang panjang dengan novel tidak begitu jelas.

3. Fabel, yaitu cerita fiksi yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Legenda, yaitu cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.

4. Roman, yaitu suatu karya fiksi yang menceritakan mengenai beberapa tokoh dalam alur ceritanya. Roman mengandung banyak hikmah dalam ceritanya dan cenderung mengarah pada cerita klasik.

5. Mitos atau mite, yaitu bagian dari suatu folklor yang berupa kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.

6. Dongeng, yaitu bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) yang dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi.

7. Epik atau epos atau disebut juga wiracerita adalah sejenis karya sastra tradisional yang menceritakan kisah kepahlawanan.

8. Puisi naratif, yaitu puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair.

9. Sandiwara (termasuk opera, teater musikal, drama, permainan boneka, dan berbagai jenis tarian teatrikal).

Selain itu, fiksi juga dapat mencakup buku komik, dan berbagai kartun animasi, stop motion, anime, manga, film, permainan video, program radio, program televisi (komedi dan drama), dan lain sebagainya.

Contoh-contoh Fiksi

- Contoh Fiksi Novel

Karya sastra dalam bentuk Novel ada banyak sekali saat ini dan mudah kita temukan di toko buku. Beberapa contoh novel diantaranya:

- Dilan 1990
- Siti Nurbaya
- Tenggelamnya Kapal Vander Wick
- Ketika Cinta Bertasbih

Contoh Fiksi Cerpen

Contoh cerita pendek (cerpen) sering ditemukan di media cetak Indonesia, misalnya koran dan majalah. Berikut beberapa judul cerpen diantaranya:

- Oh Mama Oh Papa
- Cinta Tak Kunjung Tiba

Contoh Fiksi Roman

Karya sastra berbentuk roman sangat banyak, seperti roman petualangan, roman psikologis, roman percintaan, dan lain-lain. Beberapa contoh karya sastra berbentuk roman, diantaranya yaitu:

- Katak Hendak Jadi Lembu (Roman Psikologi)
- Gadis Empat Zaman (Roman Percintaan)
- Si Dul Anak Jakarta (Roman Anak dan Remaja)
- Neraka Dunia (Roman Pendidikan)
- Mencari Pencuri Anak Perawan (Roman Kriminal dan Detektif)

***

Tuesday, September 24, 2019

Pengertian Teks Fiksi dan Unsur-unsurnya


Fiksi atau teks fiksi atau cerita fiksi adalah karya sastra yang berisi cerita rekaan, atau kisah berdasarkan angan-angan (imajinasi) seorang pengarang atau penulis. Jadi fiksi bukan berdasarkan kejadian nyata, hanya berdasarkan imajinasi atau khayalan.

Ilustrasi.
Fiksi berasal dari bahasa Inggris yaitu fiction yang berarti rekaan atau khayalan. Tapi, meskipun fiksi hanya imajinasi dari penulis namun cerita fiksi tetap masuk akal dan bisa mengandung kebenaran yang bisa mendramatisir hubungan-hubungan antar manusia.

Cerita fiksi biasanya berdasarkan sejarah, kejadian atau pengalaman hidup sang penulis atau orang lain yang dibumbui dengan imajinasi-imajinasi dari penulisanya.

Ada beberapa jenis karya seni yang termasuk ke dalam cerita fiksi, cerita pendek (cerpen), novel, roman, drama, sinetron, dan lain sebagainya.

Berdasarkan pengertian di atas, maka fiksi dapat dikenali dengan ciri-ciri, antara lain sebagai berikut:

- Fiksi bersifat rekaan atau imajinasi dari pengarang. - Dalam fiksi terdapat kebenaran yang relatif atau tidak mutlak.
- Pada umumnya fiksi menggunakan bahasa yang bersifat konotatif atau bukan sebenarnya.
- Karya fiksi tidak memiliki sistematika yang baku
- Umumnya karya fiksi menyasar emosi atau perasaan pembaca, bukan logika.
- Dalam karya fiksi terdapat pesan moral atau amanat tertentu.

Unsur-unsur Teks Fiksi

Fiksi memiliki unsur-unsur yang disebut dengan unsur intrinsik dan eksintrik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun cerita dimana unsur ini beraada di dalam cerita fiksi itu sendiri. Berikut unsur intrinsik fiksi:

- Tema, yaitu gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks.
- Tokoh, yaitu pelaku dalam karya sastra.  Karya sastra dari segi peranan dibagi menjadi 2, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan.
- Alur/Plot, yaitu cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.
- Konflik, yaitu kejadian yang tergolong penting, merupakan sebuah unsur yang sangat.diperlukan dalam mengembangkan plot.
- Klimaks, yaitu saat sebuah konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sebuah yang tidak dapat dihindari.
- Latar, yaitu tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
- Amanat atau pesan, yaitu pemecahan yang diberikan pengarang terhadap persoalan di dalam sebuah karya sastra.
- Sudut pandang, yaitu cara pandang pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
- Penokohan, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.

Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, yaitu:

- Keadaan atau kondisi subjektif individu pengarang, termasuk sikap, karakter dan aktivitas keseharian.
- Keyakinan dan Pandangan hidup pengarang akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.
- Psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial juga akan mempengaruhi karya sastra.
- Pandangan hidup suatu bangsa. (bbs/int)


Thursday, April 13, 2017

Begini Cara Mulajadi Nabolon Menciptakan Bumi dan Segala Isinya


SolupL - Seluruh bangsa di muka bumi mempercayai adanya Kekuasaan di luar dirinya. Kekuasaan itulah yang dipercaya sebagai Maha Pencipta, yang menjadikan langit, bumi dan segala isinya. Bangsa Batak juga termasuk puak yang percaya adanya Maha Pencipta, yang mereka sebut Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Raja Mula-mula atau Ompu Raja Mulajadi atau Ompu Mulajadi.

Ilustrasi.
Kepercayaan orang Batak terhadap eksistensi Mulajadi Nabolon tersiar secara jelas melalui mitos atau silsilah. Menurut silsilah, seluruh alam raya, manusia dan mahluk penghuninya diciptakan oleh Mulajadi Nabolon, dan tampak adanya kesamaan dengan ajaran agama modern: bahwa segalanya diciptakan dengan firman. Bagaimanakah proses penciptaan menurut mitos dan silsilah? Berikut disarikan dari berbagai sumber:

1. Langit Tujuh Lapis

Hal pertama yang diciptakan Mulajadi Nabolon adalah langit. Di dalam mitos dikisahkan, langit ini terdiri dari tujuh lapis (langit sipitu lampis). Mulajadi Nabolon menciptakan tingkatan langit ini sebagai tempat roh-roh sesuai dengan status dan martabat. Dan setiap lapis ada penjaganya. (BACA: LANGIT 7 LAPIS DAN PARA PENGHUNINYA).  Menurut mitos itu, langit diciptakan berdasarkan firman. Jadilah, maka jadilah.

2. Sistem Cahaya

Setelah menciptakan langit, Mulajadi Nabolon kemudian menciptakan sistem cahaya, yaitu matahari, bulan dan bintang. Uniknya, mitos Batak menyebutkan bahwa matahari memiliki anak yang disebut dengan angkalau. Ada juga kisah bahwa matahari dan bulan tidak akur sejak diciptakan. Pernah terjadi perkelahian hebat antara keduanya. Bintang-bintang juga demikian. Disebutkan bahwa bintang-bintang itu diberi nama Ilala, Sijombut, Sigaraniapi, Sidondong, Sialapariama, Sialasungsang, Marihur, Martimus, Bianu, Borma, Sori, dan masih banyak lagi. Antara bintang-bintang ini, sering terjadi perkelahian.

3. Penghuni Benua Atas (Dewa-dewa)

Disebutkan bahwa langit adalah banua ginjang (benua atas). Setelah benua atas lengkap dengan sistem tata surya, Mulajadi Nabolon kemudian menciptakan para penghuni banua ginjang. Mahluk benua atas yang pertama kali diciptakan adalah Manuk-manuk Hulambujati. Manuk-manuk Hulambujati ini kemudian bertelur, dan dari masing-masing telur menetaslah dewa-dewa. Dari telur pertama, menetas Dewa Bataraguru dan Raja Odap-odap. Dari telur kedua menetas Dewa Debata Sori dan Tuan Dihurmajati. Dari Telur ketiga menetas Dewa Bala Bulan dan Raja Padoha.

Bataraguru, Debata Sori, dan Bala Bulan kemudian dikenal sebagai Dewata Tri Tunggal atau debata na tolu. Dari dewa-dewa inilah kemudian muncul ciptaan-ciptaan berikutnya seperti bumi yang dalam silsilah disebut banua tonga (benua tengah) dan banua toru (benua bawah).

4. Bumi/Tanah

Mitos mengisahkan, Bataraguru memiliki satu putra dan 6 putri. Putri bungsunya bernama Siborudeakparujar. Pada masanya, Siborudeakparujar dijodohkan dengan Raja Odap-odap, tapi Deakparujar menolak karena Raja Odap-odap buruk rupa. Singkat kisah, ia minggat dari langit dan meluncur ke lautan yang kosong dan hampa. Mulajadi Nabolon kemudian memberikan segumpal tanah karena Deakparujar tak sudi lagi pulang ke langit. Segumpal tanah itu kemudian bertambah luas dan jadilah daratan.

5. Mahluk Hidup

Mulajadi Nabolon kemudian menciptakan tumbuh-tumbuhan, mahluk-mahluk di bumi dan burung-burung yang bisa terbang.

6. Manusia

Setelah alam raya lengkap, pada akhirnya Deakparujar setuju menikah dengan Raja Odapodap. Lahirlah Ihatmanusia. Ihatmanusia kemudian memperanakkan Raja Miok-miok. Raja Miok-miok memperanakkan Engbanua. Eng Banua memperanakkan Raja Bonang-bonang. Raja Bonang-bonang memperanakkan Raja Tantandebata. Raja Tantandebata memperanakkan Si Raja Batak, manusia pertama di Tanah Batak. (bbs/berbagai sumber)

Sunday, January 29, 2017

Mitologi Batak: Langit 7 Lapis dan Para Penghuninya


Sejak zaman kuno, leluhur Batak memercayai adanya kekuasaan besar di luar kemampuan nalar manusia yang menciptakan bumi dan segala isinya. Mereka menyebutnya Mulajadi Nabolon atau Debata Mulajadi atau Ompu Raja Mula-mula atau Ompu Raja Mulajadi. Dia-lah pencipta segala yang ada termasuk manusia dan mahluk-mahluk lainnya.

Ilustrasi.
Keberadaan Yang Maha Kuasa ini dipercaya secara turun temurun dan diwariskan para leluhur dalam bentuk silsilah atau mitologi. Dalam mitologi Batak itu terkisah proses penciptaan alam raya. Konon, Mulajadi Nabolon pertama-pertama menciptakan langit beserta isinya, termasuk bulan dan bintang-bintang. Setelah itu, barulah diciptakan tanah (bumi) dan manusia.

Tapi kali ini, kita hanya mengetengahkan soal penciptaan langit. Menurut mitologi itu, langit diciptakan Mulajadi Nabolon berdasarkan titah atau perkataan. Langit itu terdiri dari 7 lapis, diciptakan sebagai tempat bagi orang yang sudah meninggal, sehingga masing-masing lapis ada penjaga dan penghuninya. Berikut dikisahkan:

1. Langit Pertama

Ini tempat mahluk berperilaku buruk. Sebelum manusia diciptakan, Mulajadi Nabolon sudah menyiapkan tempat ini sebagai tempat bagi orang-orang jahat, yang perbuatannya tidak sesuai dengan kebenaran. Di Langit Pertama ini, Mulajadi Nabolon akan menghukum roh mereka dengan cara membalikkan kenyataan fisik: kaki ke atas, kepala ke bawah. Begitulah posisinya mereka menjalani hidupnya di langit ini hingga selama-lamanya.

2. Langit Kedua

Ini adalah tempat para maling dan perampok. Setiap orang yang pernah mencuri dalam kehidupannya, di Langit Kedua ini akan dihukum dengan cara berdiri sambil memikul barang-barang curiannya, dari awal sampai akhir. Itulah hukuman bagi mereka.

3. Langit Ketiga

Ini adalah tempat bagi orang-orang yang selama hidupnya suka menyebarkan berita bohong. Setelah meninggal, Langit Ketiga menjadi tempat bagi roh mereka. Di sini, Mulajadi Nabolon akan menarik lidah mereka hingga sepanjang 100 depa, dan mereka akan menderita menyeret-nyeret lidah sendiri ketika berjalan dan beraktivitas.

4. Langit Keempat

Ini adalah tempat orang-orang yang bunuh diri. Di tempat ini, roh yang bunuh diri tetap ditawan dengan rantai besi, sehingga tidak bisa kemana-mana. Selain itu, Langit Keempat juga merupakan tempat bagi mereka yang suka ribut karena utang piutang. Roh mereka akan terus ribut. Si pemberi utang akan terus menagih haknya kepada si pengutang. Begitupun si pengutang yang tak melunasi utangnya, akan terus diburu-buru orang yang memberikannya utangan. Sehingga Langit Keempat ini selalu berisik dan ricuh.

5. Langit Kelima

Ini adalah tempat bagi orang-orang baik yang selama hidupnya gemar membantu orang susah dan orang miskin. Di Langit Kelima ini mereka akan hidup bahagia dan mendapatkan pemberian berlimpah-limpah dari Mulajadi Nabolon sebagai imbalan dari kebaikannya semasa hidup.

6. Langit Keenam

Di tempat inilah Mulajadi Nabolon menciptakan takdir manusia. Jika takdirnya kelihatan baik di langit ini, maka baiklah takdir manusia dalam kehidupannya. Jadi sebelum manusia lahir ke bumi (banua tonga), takdirnya telah diciptakan terlebih dahulu. Dan itulah yang akan diterima manusia dalam kehidupannya.

7 Langit Ketujuh

Ini adalah langit terakhir, tempat Mulajadi Nabolon bertahta, sehingga disebut juga langit ni langitan (langit di atas segala langit). Di langit ini jugalah Mulajadi Nabolon menempatkan manusia atau raja-raja berhati mulia, yang dalam hidupnya selalu melakukan kebaikan dan kemaslahatan orang banyak. Demikianlah. Semoga bermanfaat. (Panda MT Siallagan)

* Disadur dari buku Pustaha Batak, Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak, karangan WM Hutagalung, Penerbit Tulus Jaya, 1991
 

Tuesday, November 22, 2016

Sekilas tentang Hadatuon, Eksotisme Batak


Leluhur orang Batak pada zaman dahulu menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan itu hingga kini masih tersisa dan dipraktekkan oleh orang-orang tertentu. Tentu saja, terkait dengan kepercayaan Batak lama itu, ada diwariskan ilmu supranatural yang disebut hadatuon.


Ilustrasi lembaran Pustaha Laklak.
Namun perlu ditegaskan, hadatuon yang dimaksud di sini bukanlah bermakna negatif sebagaimana dipahami generasi baru bangsa Batak di zaman modern ini. Hadatuon sesungguhnya mencakup keseluruhan kearifan lokal Batak baik dari aspek religius maupun sekuler.

Hadatuon adalah merupakan ilmu supranatural sekaligus natural yang dapat diajarkan dan dipelajari orang-orang tertentu, terutama oleh mereka yang diberi anugerah istimewa. Anugerah ini disebut sahala hadatuon. Proses penyampaian ilmu tersebut selalu bersifat tertutup: dilakukan di luar lingkungan antara seorang guru (datu) dan seorang ‘murid’.

Konon, datu hanya seorang guru bagi seorang murid, artinya ia tidak bisa sembarangan mengajarkan ilmunya kepada sembarangan orang. Proses penurunan ilmu itu selalu berlangsung dengan cara-cara yang juga sulit dipahami.

Jadi dengan kata lain, datu bukanlah guru masyarakat sebagaimana guru-guru lain, katakanlah guru silat atau bela diri. Secara umum, orang Batak memahami bahwa eksistensi datu di tengah-tengah masyarakat berfungsi sebagai ahli pengobatan, atau pemimpin dalam ritual keagamaan Batak lama. Selain itu, datu juga sering dianggap sebagai cenayang (medium) dalam memanggil atau berhubungan dengan roh-roh nenek moyang, dan juga sebagai peramal atau dukun tenung.

Seperti dikatakan di atas, dengan demikian, datu dan hadatuan adalah ilmu yang dikuasai oleh seseorang dan cakupannya sangat luas dan bersifat khusus. Proses penurunan ilmu itu juga merupakan rangkaian ritual yang aneh, unik, irasional, tapi sungguh nyata dan diyakini.

Menurut orang-orang tua, ilmu hadatuon sebenarnya telah dituliskan di sebuah kitab yang disebut pustaha agong (pustaka arang). Orang Batak lebih mengenal kitab ini sebagai pustaha laklak, kitab yang terbut dari kulit kayu. Konon, di dalamnya tersaji secara lengkap ilmu hadatuon.

Menurut mitologi, pustaha laklak diwariskan Si Raja Batak kepada anaknya Guru Tatea Bulan yang menjadi datu. Dengan demikin, Guru Tatea Bulan dapatlah dikatakan sebagi datu pertama suku Batak yang mengajarkan ilmu itu kepada anak-anaknya.
Sebagaimana diketahui, pustaha laklak itu berisi ilmu untuk memelihara kehidupan seperti diagnosa penyakit, terapi, ramuan obat-obatan magis, ajimat, parmanisan dan sebagainya.

Sebaliknya, buku laklak juga berisi ilmu untuk membinasakan kehidupan seperti seni membuat racun, seni mengendalikan atau memanfaatkan kekuatan roh tertentu memanggil pangulubalang dan seni membuat dorma, guna-guna pemikat cinta.

Kemdudian, ada juga ilmu meramal, perintah para roh dan leluhur, sistem almanak atau kalender (parhalaan) dan perbintangan (astrologi) untuk menentukan hari baik bulan baik untuk menyelenggarakan suatu hajatan, pekerjaan berat atau perjalanan jauh.

Isi pustaha itu kemudian dipraktekkan dan dikembangkan dalam upacara-upacara magis untuk berkomunikasi dengan kekuatan supranatural, baik roh leluhur, roh penghuni alam (pangingani) maupun roh-roh jahat. (berbagaisumber/int)

BACA JUGA: Pustaha Laklak, Aksara Batak, Mistik Gubahan Datu

Wednesday, November 2, 2016

Suku-suku di India Ini Sangat Mirip dengan Batak


Pertunjukan tari Koireng pada perayaan Golden Jublee Celebration di Longa Koireng, India.
Hingga saat ini, belum ada kepastian tentang asal-usul leluhur Batak. Meski sudah banyak upaya riset yang dilakukan para peneliti, namun kepastian soal geanologi Batak sepertinya belum akan tuntas.

Menurut mitologi, orang Batak merupakan keturunan langsung dewa-dewi yang diturunkan Dewata (Mula Jadi Nabolon) di Pusut Buhit. Manusia pertama atau leluhur paling awal orang Batak adalah Si Raja Batak. Silsilah mengatakan, Si Raja Batak tinggal dan hidup di Sianjurmula-mula, dan dari sanalah keturunannya bertambah banyak, lalu berdiaspora ke seluruh wilayah Tanah Batak dan daerah-daerah lain.

Tentu, silsilah mitologi itu tak bisa dipertanggungkan jawabkan secara ilmiah. Maka banyak kemudian orang Batak mencari-cari asal-usul leluhur Batak melalui penelitian ilmiah. Maka berkembanglah berbagai pendapat tentang hal itu.
Salah satu toko Mizo Puan penjual garmen di Mizoram, India. Kain tenunnya mirip Ulos Batak.
Ada yang mengatakan, leluhur Bangsa Batak berasal daratan Thailand, sebab struktur fisik orang Batak mirip dengan orang Thailand. Ada yang mengatakan berasal dari Burma (Myanmar sekarang) sebab selain struktur tubuh mirip, beberapa seni budaya juga mirip, antara lain kain tenun suku minoritas di Burma.

Sejumlah hasil penelitian juga mengatakan bahwa leluhur orang Batak berasal dari Yunnan, China bagian Selatan, yang terusir oleh invasi bangsa Mongol, sehingga terdesak ke daerah pesisir. Mereka juga terdesak oleh bangsa Arya dan bangsa Hindu dan akhirnya tersebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara, mulai dari daerah Indochina, Formosa hingga ke pulau dan kepulauan di Asia Tenggara. Mereka inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang orang batak, yang terpecah ke Sumatera dan sebagian ke Philipina.

Informasi lainnya, nenek moyang Bangso Batak berasal dari keturunan suku Mansyuria, Ras Mongolia. Ataukah Batak berasal dari Toraja? Sebab jika dilihat dari budaya, gaya hidup, rumah adat dan seni patung, mereka sungguh mirip dengan Orang Batak.

Salah satu acara paduan suara di gereja Mara. (Foto/Internet)
Yang paling banyak diperbincangkan adalah: Batak berasal dari India atau Hindia Belakang. Sebagian orang percaya, nenek moyang suku Batak berasal dari daerah Assam di India, atau dari daerah lain seperti di Mizoram, Manipur, Mizoram, Tripura dan lain-lain. Suku di Mizoram, suku Mara (atau Chin atau Mizo), Lai, Manipuri, sungguh mirip dengan orang Batak. Suku Naga di India Selatan juga memiliki budaya mirip dengan orang Batak, baik rumah adat dan kain tenun yang bisa dikatakan mirip dengan ulos Batak.

Yang terakhir inilah yang ingin saya ketengahkan. Berdasarkan penelusuran di internet (googling), ternyata memang benar ada kemiripan orang Batak dengan beberapa suku di India. Suku yang paling mirip adalah suku Mara, Mizo, Chin, Munsong Naga, Koireng, Lai, Zomi dan lain-lain. Sesuai hasil googling, berikut beberapa suku yang mirip orang Batak:

1. Suku Mizo

Tarian ritual suku Mizo di Mizoram, India. Motif busana mirip ulos Batak.
Suku Mizo hidup di Mizoram, salah satu negara bagian India. Mereka tergolong keturunan mongoloid. Umumnya menganut agama Kristen Protestan. Konon, Mizo diidentifikasi sebagai salah satu dari 10 suku Israel yang hilang. Pakaian tradisional mereka sangat mirip dengan pakaian etnis Batak. Kain yang disandang di bahu sangat mirip dengan Ulos, juga bahan kain dan cara mereka berpakaian. Karakter juga mirip orang Batak, juga rumah tradisionalnya.

Dalam salah satu penelusuran saya, saya temukan sebuah Toko Garmen bernama Mizo Puan, yang khusus menjual kain-kain tenun suku Mizo. Tampaknya, usaha ini berkembang bagus sebab bisa dilacak atau di-follow di Facebook dengan akun page House of Mizo Puan.

2. Suku Koireng

Suku Koireng dahulunya dikenal sebagai Kolram, tanah Timur yang diyakini sama dengan keadaan Karen di Burma Timur (kini Myanmar). Pakaian suku Koireng juga sangat mirip dengan pakaian orang Batak pada era Sisingamangaraja. Bentuk bahan dasar dan coraknya sangat mirip.

3. Suku Monsang

Suku ini tinggal di Chandel, sebuah kabupaten di India. Nama Monsang ini sekilas terasa seperti nuansa Bahasa Batak. Dalam Bahasa Batak, misalnya, dikenal kata munsung (mulut hewan) atau monsak (bela diri Batak), monang (menang) dan lain-lain. Namun, nama suku Monsang ini ternyata berasal dari nama desa mereka, yaitu desa Monsang.

Seorang perempuan tua suku Monsang sedang menenun. (Foto/Internet)
Beberapa sumber menyebut, suku Monsang juga disebut Suku Naga, atau kadang digabung: Suku Monsang Naga. Kalau diterjemahkan ke Bahasa Batak, seolah-olah memiliki arti: mulut naga atau rahang naga. Sayang sekali, populasi suku ini tinggal sedikit.

Tarian tradisional Monsang Naga. (Foto: Internet)
Konon, orang Monsang juga memiliki marga dan silsilah (tarombo) yang mirip dengan orang Batak dan sistem kekerabatan juga mirip dengan orang Batak. Beberapa kain tradisional suku Monsang juga mirip dengan Ulos. Tariannya juga ada yang mirip dengan tortor.

4. Suku Mate

Suku Mate merupakan komunitas adat di Manipur, India. Mereka menganut agama Kristen. Aliran gereja tumbuh pesat di kalangan suku Mate, dan banyak denominasi gereja seperti Katolik Roma, Kuki Gereja Kristen, Injili Congregational Church, Kuki Baptist Convention dan Fellowship of Bible Church of India (FBCI). Selain itu, suku Mate telah membentuk denominasi sendiri, yang disebut Mate Christian Fellowship Church (MCFC), dengan sekitar 15 gereja lokal saat ini.

5. Suku Mara

Salah satu bentuk tarian Suku Mara di bagian selatan-timur Burma. (Foto/INT)
Mara merupakan kelompok masyarakat adat salah satu dari suku Kuki yang berdiam di India. Suku Mara adalah suku asli di India Timur Laut, terutama di Mara Otonomi Dewan Distrik negara bagian Mizoram. Mereka membentuk kelompok mayoritas penduduk.

Orang Mara sebelumnya dikenal sebagai Lakher, sedangkan orang luar menyebut mereka sebagai Lusei. Di India sendiri suku Mara terdaftar dalam Daftar Suku Terjadwal di negara bagian Mizoram pada tahun 1978 menggantikan identitas lama mereka "Lakher". Orang Mara menyebut daerah pemukiman asli mereka sebagai Maraland (Tanah Mara).

Sebuah foto momen menunjukkan pria dari Suku Mara mengenakan busana gaya Batak.

Maraland sebagai tanah asli orang Mara, berada di antara dua negara Burma dan India. Asal usul orang Mara seperti halnya suku-suku lain di wilayah ini diselimuti misteri karena tidak ada catatan tertulis. Sejarah lisan menceritakan bahwa mereka turun dari daerah Cina Barat, mereka melakukan perjalanan ke lembah Kabaw dan akhirnya menetap di Maraland hingga saat ini.

Sebuah pameran busana orang Mara di negara bagian Chin, India. (Foto/INT)

Orang Mara mengklaim diri mereka adalah 100 persen Kristen, kebanyakan Injili dan berbagai denominasi Kristen lainnya. Kedatangan Rev & Mrs Reginald Arthur Lorrain pada tahun 1907 yang sebelumnya telah mendirikan Lakher Pioneer Misi di London pada tahun 1905, dalam satu dekade orang Mara semuanya menerima kekristenan . Meskipun misionaris dari Baptist asal, yang baru ditemukan di Gereja Maraland tidak berafiliasi dengan Gereja luar atau denominasi, dan disebut Gereja Independen Maraland . Gereja Injili saat ini memiliki dua cabang, satu di Maraland India dan lainnya di Burma, cabang-cabang ini dipisahkan setelah Pemisahan India.

 Sebuah pertunjukan tari dalam event Cut 2010 di India. (Foto/INT)
Selain kelima suku di atas, sebenarnya masih banyak yang bisa ditelusuri dari masyarakat etnis di India, baik di Mizoram, Manipur, Tripura, Assam, Meghalaya dan lain-lain) yang seluruhnya berada di wilayah India Timur Selatan, bisa dibilang banyak memiliki kemiripan dengan orang Batak. (berbagaisumber/int/pandamtsiallagan)

Wednesday, October 26, 2016

Solup Sama dengan Paradaton


Sebagaimana telah diceritakan pada tulisan sebelumnya (BACA: Arti dan Makna Solup dalam Kehidupan Orang Batak) bahwa solup adalah perkakas kehidupan tradisional orang Batak pada zaman dahulu. Secara umum, solup dikenal sebagai alat takar (tumba) beras. Alat minum (semacam cangkir) juga disebut dengan solup.
Ilustrasi Solup.
Alat takar atau cangkir itu terbuat dari bambu. Untuk tumba, biasanya terbuat dari bambu besar. Bambu itu dipotong dan dikikir secara kreatif sehingga wujudnya sama seperti tumba, atau literan beras. Bagian buku bambu menjadi dasar atau alas. Hal serupa terjadi pada solup alat minum.

Oleh karena ia terbuat dari bambu secara alami, dan ukuran bambu yang digunakan si pengguna tidak mungkin sama, maka volume atau isi literan solup ini tentu tidak sama. Maka dalam konteks inilah orang Batak zaman dulu menggunakan solup ini sebagai salah satu perangkat adat (ukuran paradaton). Jadi disepakatilah bahwa solup yang berlaku adalah solup dimana transaksi atau aktivitas menakar berlangsung.

Contoh, seseorang ingin menukar ayam jantan miliknya dengan beras (barter). Jika diseakati harga ayam itu sebesar 3 solup beras, maka solup yang berlaku adalah solup pemilik beras, meski mungkin si penjual ayam juga memiliki solup sendiri. Artinya, si pemilik ayam tidak bisa membawa solupnya sendiri ke desa atau kampung lain. Solup yang berlaku adalah solup di tempat tujuan.

Contoh lain, jika seseorang meminjam beras dari satu desa, maka solup di desa itulah yang berlaku. Ini senyawa dengan pepatah Malayu: di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

Dalam konteks paradaton, hal ini juga sudah menjadi kesepatakan alami bahkan bisa dikatakan sebagai alat untuk menghargai antara satu puak dengan puak lain. Itulah kenapa acara-acara adat selalu mengikuti atau menyesuaikan adat setempat. Sebutlah misalnya ada acara pesta di Huta (desa) A. Maka tamu dan undangan yang datang dari huta B atau atau C dst, harus mengikuti atau merujuk tatacara adat di Huta A. Huta B, C dan seterusnya tidak bisa memaksakan adat yang berlaku di daerahnya. Solup di Huta A sepenuhnya harus dihormati oleh Huta B.

Dalam salah satu umpasa (pantun) Batak, hal ini juga sangat tegas dinyatakan: disi tano diinganhon disi solup niparsuhathon (dimana tanah dipijak, di situ solup jadi ukuran), atau dalam pribahasa disebut sidapot solup do na ro (tunduk pada solup yang dituju).

Dengan demikian, solup bisa dikatakan sebagai paradaton. Maka masyarakat adat Batak yang tinggal di satu daerah, solup atau adat isiadatnya juga sama. Itulah sebabnya dalam acara adat, masyarakat setempat (dongan sahuta), selalu dimintai pendapat oleh pihak yang ingin melakukan pesta, sehingga acara bisa berlangsung sesuai dengan adat (solup) di daerah itu, atau dalam bahasa Batak disebut adat na somal hu ulahon di huta i.

Namun demikian, meskipun makna terkandung dalam umpasa sidapot solup do na ro sudah menjadi hukum tradisional, bukan berarti hal itu dipahami secara kaku atau harga mati. Dalam adat Batak, berlaku juga istilah mangelek (memohon pengertian) dari salah satu pihak kepada pihak lain, tentu alasan atau argumen harus sesuai kewajaran dan tidak menyimpang terlalu jauh dari paradaton/solup di daerah tersebut.

Demikianlah makna solup secara lebih rinci. Semoga bermanfaat dan perlu kiranya nilai-nilai kearifan lokal ini dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan di zaman modern ini. Masih sangat kontekstual. Horas...! (Panda MT Siallagan)

Monday, October 17, 2016

Jenis, Ragam dan Kegunaan Ulos

Orang Batak seharusnya bangga, sebab Pemerintah Indonesia telah menetapkan ulos sebagai warisan tak benda Indonesia pada 17 Oktober 2014 lalu. Dan hari penetapan itu sekaligus dirayakan sebagai Hari Ulos.

Ulos Bintang Maratur
Perayaan Hari Ulos sudah dilakukan untuk pertama kali pada 17 Oktober 2015 lalu. Dan Senin 17 Oktober 2016 merupakan Perayaan Hari Ulos kedua. Untuk merayakan Hari Ulos, ada baiknya diketengahkan lagi ragam jenis ulos dan kegunaannya.

Sebagaimana diketahui, Ulos Batak adalah jati diri orang Batak dan konteks budaya dan adat. Ulos dipercaya memiliki nilai-nilai sesuai dengan makna dan fungsi berdasarkan ragam dan jenisnya. Dan ulos merupakan karya seni estetis dan merupakan hakekat eksistensi masyarakat Batak.

Untuk mengenal ulos lebih jauh, berikut disajikan jenis-jenis ulos dan fungsinya:

Ulos Mangiring

Ulos mangiring dipakai sebagai selendang, tali-tali, dan diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama, sebagai Simbol atas keinginan terhadap si anak agar kelak diiringi kelahiran anak yang seterusnya. Ulos ini juga dapat digunakan sebagai selendang gendong.

Ulos Pinuncaan

Ulos ini terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu ulos. Kegunaannya antara lain:
- Untuk keperluan acara-acara duka cita maupun suka cita, dalam   acara adat ulos ini dipakai/ di sandang oleh Raja-Raja Adat.
- Dipakai oleh rakyat biasa selama memenuhi beberapa pedoman, misalnya pada pesta perkawinan atau upacara adat di pakai oleh suhut sihabolonon/ Hasuhuton (tuan rumah).

Ulos Antak-antak

Ulos ini dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat orang yang meninggal, selain itu ulos tersebut juga dipakai sebagai kain yang dililit pada waktu acara manortor (menari).

Ulos Si bunga Umbasang dan Ulos Simpar

Secara umum ulos ini hanya berfungsi dan di pakai sebagai Selendang bagi para ibu-ibu sewaktu mengikuti pelaksanaan segala jenis acara adat-istiadat yang kehadirannya sebatas undangan biasa yang di sebut sebagai Panoropi (yang meramaikan) .

Ulos Sitolu Tuho

Ulos ini di fungsikan atau di pakai sebagai ikat kepala atau selendang.

Ulos Suri-suri Ganjang

Ulos ini di pakai sebagai Hande-hande (selendang) pada waktu margondang (menari dengan alunanan musik Batak) dan juga di pergunakan oleh pihak Hula-hula (orang tua dari pihak istri) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya) karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe (berkat).

Ulos Simarinjam

Ulos ini berfungsi sebagai kain dan juga di lengkapi dengan Ulos Pinunca yang di sandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani (mendahului di depan). Yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan.

Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan

Zaman dulu dipakai sebagai selimut bagi keluarga yang berasal dari golongan keluarga kaya,  dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal akan di saput (di selimutkan, dibentangkan kepada jasad) dengan ulos yang pakai Ragi di tambah Ulos lainnya yang di sebut Ragi Pakko  karena memang warnanya hitam seperti Pakko.

Ulos Tumtuman

Dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan di pakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah).

Ulos Tutur-tutur

Ulos ini dipakai sebagai tali-tali (ikat kepala) dan sebagai Hande-hande (selendang) yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya (keturunannya).

Ulos Bintang Maratur

Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat. Bisa diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru. Dan bisa juga diberikan pada acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada anaknya. Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang  selanjutnya, kemudian ulos ini juga di berikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa di pakai sebagai selendang.

Ulos Bolean

Ulos ini biasanya di pakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.

Ulos Ragi Hotang

Ulos ini diberikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat yang disebut dengan nama Ulos Hela. Pemberian ulos Hela memiliki makna bahwa orangtua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya dipersunting atau diperistri oleh laki-laki yang telah disebut sebagai “Hela” (menantu).

Pemberian ulos ini selalu disertai dengan memberikan mandar Hela (Sarung Menantu) yang menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku layaknya seorang laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua.

Ulos Ragi Huting

Ulos ini sekarang sudah Jarang di pakai, konon pada jaman dulu sebelum Indonesia merdeka, anak perempuan (gadis-gadis) memakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari yang dililitkan di dada (Hoba-hoba) yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) batak Toba yang ber-adat.

Ulos Sibolang Rasta Pamontari

Dipakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang, Ulos Sibolang bisa dikatakan sebagai simbol duka cita, yang dipakai sebagai Ulos Saput (orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu) dan di pakai juga sebagai Ulos Tujung untuk Janda dan Duda dengan kata lain kepada laki-laki yang ditinggal mati oleh istri dan kepada perempuan yang di tinggal mati oleh suaminya. (berbagaisumber/int)

Wednesday, September 21, 2016

Legenda Asal-mula Munculnya Aksara Batak


Zaman dahulu di Tanah Batak, tersebutlah seorang anak bernama Mangarapintu. Suatu hari saat ayahnya membangun rumah, ia memain-mainkan salah satu peralatan tukang ayahnya, yaitu pahat.
Tapi entah bagaimana, pahat itu hilang. Akibat peristiwa itu, Mangarapintu ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan amarah ayahnya.

Ilustrasi aksara Batak.
Dia lalu kabur dari rumah dan pergi ke negeri antah-berantah yang tidak dikenalnya. Ia terlantar, tidak punya tempat, dan tidak ada orang lain yang sudi memberinya makan.

Suatu hari, dia tiba di sebuah tempat pemujaan yang dihuni orang sakti. Orang sakti itu berkata padanya, "Kemarilah, aku akan memakanmu."

Mangarapintu menjawab, "Syukurlah, Ompung. Itu yang kutunggu dan kucari. Lebih baik aku mati daripada hidup sebatangkara di dunia ini," katanya bersedih.

Mendengar itu, si orang sakti jadi kasihan dan prihatin kepada Mangarapintu. Orang sakti itu akhirnya menerima kehadiran Mangarapintu, merawat dan menjaganya, bahkan kepadanya diajarkan banyak ilmu dan ragam pengetahuan.

Setelah beberapa lama, Marangarapintu meninggalkan gurunya dan pergi lagi mengembara. Lalu ia bertemu dengan seekor harimau belang. Harimau itu berkata padanya, "Kau akan kumakan."

Mangarapintu menjawab, "Terimakasih, Ompung. Aku pasrah. Aku tak mengharapkan apa-apa lagi dalam kehidupan ini," katanya.

Mendengar itu, sang harimau menjadi prihatin dan kasihan. Harimau itu kemudian menjaga dan menemaninya. Kepada bahkan diajarkan ragam ilmu, termasuk ilmu terawang. Dan Mangarapintu akhirnya bisa menyaksikan dari jauh di mana letak pahat milik ayahnya yang hilang itu.

Setelah itu, lagi-lagi dia meninggalkan tempat tersebut. Dia pergi ke suatu tempat di puncak Pusuk Buhit, yaitu tempat pemandian putri-putri dewata. Saat dia tiba di sana, ada tujuh putri dewata sedang mandi-mandi. Ketika putri-putri dewata itu menyadari kehadiran Mangarapintu, putri-putri itu langsung terbang ke langit.

Tapi Mangarapintu berhasil menangkap salah satu ujung benang pakaian putri dewata. Dan dia pun ikut terbang dan terbawa ke langit. Ia bertemu Debata Batara Guru. Batara Guru sangat baik kepadanya. Batara Guru kemudian mengajarkan berbagai hal tentang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu surat-menyurat. Seiring waktu, Mangarapintu menjadi pandai menulis.

Setelah bisa menulis, Mangarapintu mengambil kulit kayu, lalu dikeringkan. Setelah kulit kayu (laklak) itu kering, Mangarapintu menuliskan semua ilmu pengetahuan yang ia peroleh mulai dari orang sakti, harimau dan Batara Guru. Itulah konon pustaka (pustaha) pertama orang Batak.

Setelah hitungan tahun, Mangarapintu kemudian kembali ke bumi. Konon, di bumi ia menikah dan memiliki putra-putri. Tapi karena ilmu dan kesaktian (hadatuan) yang ia miliki, ia selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Selama hidupnya, ia lebih banyak berada dalam perjalanan.

Demikianlah legenda (turi-turian) tentang asal-mula aksara Batak. Legenda ini disadur dari buku Jambar Hata karangan TM Sihombing. Berdasarkan legenda itu, dapat kiranya disimpulkan: orang Batak percaya bahwa aksara Batak itu asli, tidak dipinjam, dan merupakan hasil cipta-karsa orang Batak sendiri.

Legenda tentu saja berbeda dengan hasil riset atau kajian akademis. Aksara Batak itu sendiri terdiri atas dua perangkat huruf yang disebut ina ni surat dan anak ni surat. Sistem tulisan serupa itu juga dipakai oleh semua abjad India dan abjad-abjad turunannya.

Dan, aksara Batak dan semua aksara Nusantara memang berinduk pada aksara India. Hanya saja, kerabat aksara Batak yang paling dekat adalah aksara-aksara Nusantara. (Panda MT Siallagan)

Thursday, September 15, 2016

Kepercayaan Orang Batak Sebelum Kehadiran Agama


Sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke Tanah Batak, leluhur orang Batak juga mengenal konsep 'kekuatan lain' di luar dirinya. Mereka percaya bahwa bumi dan segala isinya tercipta oleh 'kekuatan lain' itu. Itulah tampuk segala kuasa yang mereka sebut Debata Si Tolu Sada (Debata Tri Tunggal) atau Debata Mulajadi Na Bolon.
Ilustrasi.
Debata Sitolu Sada kalau di benua atas disebut Debata Batara Guru, kalau di benua tengah disebut Debata Mangalabulan, sedangkan di benua bawah disebut Tuan Pane na Bolon atau Debata Asiasi. Pane na Bolon ini dipercaya sebagai pengatur berkat atas ladang, pemberi hujan dan matahari, penentu hari baik, pencipta petir, gempa, badai dan gelombang. Pane na Bolon juga dipercaya sebagai penyagang (penyanggah) bumi. Pane na Bolon disebut juga Raja (Gaja) Padoha.

Dengan demikian, berdasarkan konsep kepercayaan akan Pencipta itu, orang Batak kuno mengenal 3 benua, yaitu:

1. Benua Bawah (banua toru) untuk menyebut tanah berpijak dan segala lapisan bebatuan di dalamnya.
2. Benua Tengah (banua tonga) untuk menyebut bumi dan udara dimana mahluk-mahluk hidup.
3. Benua Atas (banua ginjang) untuk menyebut angkasa raya (kosmos) yang tidak terjangkau.

Namun demikian, banua ginjang tidak berarti surga, dan banua toru bukan berarti neraka. Kepercayaan orang Batak kuno, yang disebut Sipelebegu, tidak mengenal adanya konsep surga dan neraka sebagaimana diperkenalkan agama modern. Mereka percaya, orang jahat akan menangungkan kejahatan itu selama hidup.

Orang baik akan berkembangbiak dan menjadi kaya. Jika orang kaya meninggal, rohnya akan senang sebab keturunannya yang banyak akan datang menyembahnya. Dan dia akan terhormat di antara roh-roh yang lain. Tempatnya juga secara khusus akan berada di ketinggian. Sementara orang jahat akan mati dan tidak berketurunan. Di kematian, rohnya tidak terhormat, sebab tak ada keturunan yang menyembahnya.

Sesuai namanya Sipelebegu, mereka percaya pada kekuatan begu-begu. Begu dalam konteks kepercayaan itu sesungguhnya tidak negatif seperti dipahami sekarang. Begu sesungguhnya adalah roh orang yang sudah mati (sumangot). Baik orang yang meninggal secara terhormat (karena tua), maupun roh-roh orang yang meninggal secara tidak wajar. Inilah yang dipercayai sebagai begu. Konsep ziarah zaman modern sesungguhnya bertolak dari kepercayaan kuno ini. Hingga kini, orang Batak yang sudah menganut agamapun masih selalu ziarah ke makam orangtua.

Memang, kata 'begu' mengandung makna negatif karena orang Batak lama juga percaya bahwa begu bermacam-macam, sesuai dengan kekuatan atau latar belakang kematiannya. Begu-begu ini dipercaya memiliki pengaruh terhadap kehidupan mereka, baik mengenai hal-hal baik maupun hal-hal buruk. Begu-begu yang dikenal antara lain begu jau, begu siharhar, begu antuk, begu nurnur, begu pane, begu rojan, begu namora dan lain-lain.

Begu-begu ini memiliki peran masing-masing dalam mempengaruhi hidup manusia. Dan orang Batak kuno sangat percaya pada kekuatan begu-begu ini, sehingga mereka menyembahnya agar terhindar dari kesusahan dan penyakit yang bisa disebabkan sumangot (begu) tadi. Dengan demikian, menurut ilmu pengetahuan, Sipelebegu kita kenal sebagai animisme.

Demikianlah sekilas-lewat tentang kepercayaan Batak kuno. Artikel ini tidak dimaksudkan agar kita menjalankan lagi praktek-praktek animisme itu. Tapi dalam konteks kebudayaan, ini penting diketahui sebagai bagian dari kekayaan khasanah budaya Batak. Artikel ini merupakan saduran dari buku Jambar Hata karangan TM Sihombing, Penerbit Tulus Jaya (1989). (Panda MT Siallagan)

Thursday, August 25, 2016

Kisah Sanggar, Tinittip Baen Huru-huruan


Oleh Panda MT Siallagan

Ada satu jenis rumputan liar yang sangat terkenal dan akrab dalam kehidupan masyarakat Batak. Mereka menamainya sanggar. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di tepi jalanan desa, dan hingga saat ini masih mudah ditemukan.

Sanggar atau riang-riang.
Sesungguhnya, tumbuhan ini sangat tidak bersahabat. Daun atau pelepahnya tajam dan bisa menyayat tangan atau tubuh jika tergesek. Terlebih bunga dan malai (bulir) biji-bijinya, terasa sangat gatal jika terkena ke bagian tubuh. Begitupun, tumbuhan ini sangat akrab deengan budaya Batak.

Sebuah lagu terkenal berjudul Tinitip Sanggar, misalnya, sangat populer di kalangan masyarakat Batak, terutama generasi muda dalam konteks pergaulan. Demikian lirik lagu itu:

Natinitip sanggar ito da
Lao bahen huru-huruan da
Jolo sinukkun marga
Asa binoto ito da partuturan da


Lirik lagu itu kental dengan nuansa pantun atau umpasa. Dua larik pertama merupakan sampiran, dan dua larik terakhir merupakan isi. Jika diterjemahkan secara bebas, kira-kiranya maknanya seperti ini:

Potong dulu sanggar
Membuat sangkar burung
Tanya dulu marga
Agar tahu pertalian


Ini menjadi pesan bagi generasi muda bahwa pergaulan harus terlebih dahulu mengedepankan perkenalan, saling mengetahui marga masing-masing, dengan demikian tahu memposisikan diri dalam langkah selanjutnya. Sama seperti membuat sangkar burung, harus terlebih dahulu sanggar dipotong-potong sebagai bahan.

Sesungguhnya, sangat banyak lagu Batak menggunakan frasa tinitip sanggar ini. Maestro opera Batak Tilhang Gultom juga pernah menciptakan sebuah lagu yang menggunakan frasa tinitip sanggar.

Saya kadang sangat gembira setiap kali melihat rumpun-rumpun sanggar ini masih banyak berada di tepi-tepi jalan. Ingatan masa kanak-kanak bangkit. Bagi kami anak-anak desa, sanggar adalah pertaruhan kreativitas. Masih nyata di ingatan, saya bersama teman-teman sebaya masih mahir membuat huru-huruan (sangkar burung) dari batang-batang sanggar ini.

Batangnya memang lunak, berbuluh dan berbuku (punya ruas seperti tebu), bagian dalamnya menyerupai gabus. Batang rumput itulah dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan, dilubangi sesuai kebutuhan, kemudian dirangkai atau dibuhul dengan lidi.

Bentuk sangkar yang tercipta bisa bermacam-macam. Bisa berbentuk alakadarnya, bisa menyerupai rumah adat, dan biasanya dibuat pintu yang bisa naik turun. Huru-huruan memang bukan sekedar tempat burung, tapi sekaligus berfungsi sebagai alat jerat.

Dengan memasukkan burung pipit ke dalam sebagai umpan pemanggil, pintu sangkar didesain terbuka. Begitu burung-burung pipit lain datang dan masuk, maka burung tersebut akan menyentuh semacam 'kunci', dan pintu tertutup. Pipit yang datang akan terjebak. Alangkah bangga dan riang jika kita berhasil mendapatkan banyak burung. Saya selalu terharu mengenang kisah itu.

Adakalanya saya rindu menyaksikan kreativitas anak-anak serupa itu, yang sungguh bersahabat dengan alam. Tapi zaman terus berubah, hal-hal indah di masa lalu semakin banyak yang hilang.

Selain kreativitas itu, sanggar juga menyisakan kenakalan, sebagaimana lazimnya kegemaran anak bermain dan terkadang usil. Bulir-bulir sanggar yang gatal itu, kadang digunakan sebagai alat untuk saling mengusili. Misalnya, seorang anak sengaja memetik dan mengumpulkan biji-biji sanggar, lalu digenggam diam-diam. Ketika seorang teman lalai, biji-biji itu dimasukkan melalui kerah baju di leher, masuklah biji-biji itu ke badan. Dan si teman yang jadi korban itu merasa gatal pada sekujur badan. Dan si anak usil akan tertawa-tawa.

Tapi demikianlah, meski sanggar sangat populer di kalangan masyarakat Batak, tak banyak yang tahu, apa sesungguhnya bahasa Indonesia tumbuhan ini. Setelah saya telusuri, ternyata namanya rumput pimping atau riang-riang. Pimping atau rumput riang-riang, nama latinnya themeda gigantea, sejenis rumput mirip gelagah, anggota dari suku padi-padian. Tumbuhan ini menyebar luas bukan hanya di Indonesia, tapi juga terdapat di wilayah Indocina hingga Pasifik.

Belakangan, rumput ini juga banyak digunakan sebagai obat alami penurun demam. Untuk obat demam ini, konon yang digunakan adalah tunasnya atau sanggar yang baru tumbuh. Setelah dibersihkan, tunas itu direbus, lalu airnya diminum pagi dan sore hingga penyakit demam itu sembuh.

Sumber lain menyebutkan, batang-batang sanggar itu sangat baik digunakan sebagai bahan pembuat kertas. Hanya saja, karena jumlahnya terbatas, kapitalis kemudian memggunduli hutan untuk memproduksi kertas, lalu diganti dengan eukaliptus. Baiklah, lupakan kapitalisme itu, mari bernyanyi:

Natinitip sanggar da
Lao bahen huru huruan da
Jolo sinukkun marga
Asa binoto ito da partuturan da 


***

Sunday, August 21, 2016

Kalender Batak Tidak Mengenal Hari dan Tanggal


Kalender Batak yang dipergunakan para leluhur Batak pada zaman kuno disebut dengan parhalaan. Jika dalam kalender modern kita mengenal hari mulai Senin hingga Minggu, maka hal itu tidak ditemukan dalam kalender Batak. Tanggal yang kita kenal setiap bulan mulai dari tanggal 1 hingga 30, juga tidak terdapat dalam kalender Batak. Tanggal itu bukan berbentuk angka, tapi nama.


Menurut berbagai sumber, parhalaan memiliki bulan sebanyak 12, yaitu Sipaha Sada (Januari), Sipaha Dua (Februari), Sipaha Tolu (Maret) , Sipaha Opat (April), Sipaha Lima (Mei), Sipaha Onom (Juni), Sipaha Pitu (Juli), Sipaha Ualu (Agustus), Sipaha Sia (September), dan Sipaha Sampulu (Oktober). Sedangkan bulan ke-11 (November) disebut dengan Bulan Li, bulan ke-12 (Desember) disebut dengan Hurung.

Sedangkan tanggal atau 30 hari dalam sebulan diberi nama dan makna masing-masing, yaitu:

Artia (1), Suma (2), Anggara (3), Muda (4), Boraspati (5), Singkora (6), Samisara (7), Artia ni Aek (8), Sumani Mangodap (9), Anggara Sappulu (10), Muda ni Mangodap (11), Boraspati ni Mangodap (12), Singkora Purnama (13), Samisara Purnama (14), Tula (15), Suma ni Holom (16), Anggara ni Holom (17), Muda ni Holom (18), Boraspati ni Holom (19), Singkora Maraturun (20), Samisara Maraturun (21), Artia ni Angga (22), Suma ni Mate (23), Anggara ni Begu (24), Muda ni Mate (25), Boraspati ni Gok (26), Singkora Hundul (27), Samisara Bulan Mate (28), Hurung (29), Ringkar (30).

Dalam praktek sehar-hari, parhalaan (kalender) ini sesungguhnya tidak digunakan untuk penanggalan waktu, tapi lebih bertujuan mencari hari baik dalam manjalankan aktivitas, yang disebut dengan maniti ari atau manjujuri ari. Sekelompok minoritas Batak hingga saat ini masih menggunakan parhalaan dalam kehidupan sehari-hari yaitu Parmalim, agama leluhur Batak.

Karena parhalaan pada umumnya digunakan untuk menentukan hari baik, maka setiap nama itu memiliki makna. Demikian ringkasannya:

- Atia: Hari baik untuk mengadakan musyawarah dalam membicarakan segala rencana kegiatan.
- Suma: Merupakan hari kedua, baik untuk melakukan pekerjaan berburu ke hutan atau menjaring hewan-hewan di sungai.
- Anggara: Hari sial, sebaiknya digunakan untuk berperang dan membuat obat, juga berburu. Hari ini juga baik membantu orang lain.
- Muda: Disebut juga hari padi, baik untuk musim tanam.
- Boraspati: Hari baik untuk berpesta, membangun rumah, memasuki rumah baru, memulai usaha, atau mencari pekerjaan.
- Singkora: Hari baik untuk pergi merantauan, melamar kerja, menemui raja (orang berpangkat), berdagang, melamar kekasih atau menikah.
- Samisara: Disebut juga hari milik raja, sangat baik untuk pesta, kawin lari, memanggil roh, mandi bunga.
- Artia ni Aek: Hari baik untuk semua pesta, musyawarah, memasuki rumah baru, maaf-maafan, dan usaha baru.
- Suma ni Anggara: Hari yang kurang baik melakukan segala kegiatan.
- Anggara Sappulu: Hari sial, jangan sembarangan bicara, harus sopan, sebaiknya pergi memancing.
- Muda ni Mangadop: Hari baik bersantai dan berpesta
- Boraspati ni Mangodap: Hari yang pas untuk menyuap raja (pejabat), melamar kerja dan bersekutu dengan Tuhan.
- Sikkora Purnama: Hari baik untuk pesta perkawinan, mendirikan rumah, mengunjungi orang tua atau mertua, memasuki rumah baru dan mandi bunga.
- Samisara Purnama: Hari raja, baik mengadakan pesta besar, pesta muda-mudi, mengantar anak ke rumah mertua, dll.
- Tula: Hari sial, sebaiknya digunakan membuka lahan atau menanam kelapa.
- Suma ni Holom: Hari yang kurang baik, sebaiknya pergi memancing dan berburu.
- Angggara ni Holom: Hari buang sial, mandi bunga dan membuat obat.
- Muda ni Holom: Hari baik untuk panen
- Boraspati ni Holom: Hari baik untuk menebang pohon untuk bangunan rumah.
- Singkora Maraturun: Hari baik untuk mengunjungi sanak famili, pindah rumah dan mengongkal holi.
- Samisara Maraturun: Hari baik untuk memasang jerat, memancing dan berburu.
- Artia ni Anggara: Baik turun ke laut, membuang penyakit, mandi bunga, membuat obat, memancing dan meramu obat.
- Suma ni Mate: Hari baik untuk berburu dan memancing.
- Anggara ni Begu: Hari baik untuk memanjatkan doa, minta rejeki dan mandi bunga.
- Muda ni Mate: Hari padi, panen dan pesta.
- Boraspati na Gok: Hari baik untuk istrahat, membawa makanan untuk orang tua, mengganti pakaian orangtua, mengunjungi mertua, pesta pernikahan dan meramu obat.
- Singkora Hundul: Hari penyakit, sebaiknya digunakan meramu obat, berburu dan memancing.
- Samisara Bulan Mate: Hari baik turun ke laut, membuat penyakit, berburu dan memancing.
- Hurung: Hari kurang baik, hari hati-hati dalam melangkah.
- Ringkar: Hari baik untuk saling memaafkan dan memanjatkan doa kepada Tuhan.

Demikianlah, semoga bisa menambah pengetahuan. Bagaimanapun, warisan nenek moyang Batak ini tidak memungkinkan lagi diterapkan di zaman sekarang, namun perlu kiranya kekayaan budaya ini diketahui agar nilai-nilai tidak musnah di kemudian hari. ***

Kisah Mistis Kelahiran Sisingamangaraja I (Bagian-2)

Kejadian gaib membuat masyarakat dihantui rasa takut, sebab hal seperti itu belum pernah mereka alami sepanjang masa. Tapi akhirnya, misteri itu sedikit terungkap setelah seseorang memberitahukan bahwa putra Boru Pasaribu bergelantung terbalik di pohon. Kata seseorang itu, "Kemarin putra Boru Pasaribu bergelantungan terbalik di pohon di Hutan Sulusulu, kakinya ke atas, kepalanya ke bawah. Mungkin itulah penyebab keanehan ini."

Ilustrasi.
Setelah mendengar itu, para raja dan tetua adat di wilayah itu berkumpul dan bermusyawarah membahas peristiwa itu. Mereka lalu sepakat menemui Raja Bona Ni Onan. Melihat kedatangan raja-raja itu, Bona Ni Onan bertanya, "Apa kiranya penyebab Saudara-saudara sekalian datang kemari?"

Para raja dan tetua adat menjawab, "Saat ini telah terjadi hal-hal yang belum pernah terjadi, padi di sawah sudah sungsang, akar ke atas, bilur ke bawah. Kami dengar berita bahwa penyebabnya adalah anak Boru Pasaribu. Kemarin ia bergelantungan sungsang di pohon, besoknya terjadilah keganjiln ini. Kami kiranya bermohon kepada Tuan, agar kiranya kita bertanya kepada datu agar kita bisa mengetahui cara mengatasi persoalan ini. Sebab Anda tuan rumah dalam hal ini."

Raja Bona Ni Onan setuju, mereka kemudian memanggil datu (supranatural). Dan pada hari yang ditentukan, para raja dan orang-orang berkumpul. Dalam acara itu, mereka menggunakan ayam sebagai medium untuk mendapatkan jawaban dari Sang Pencipta. Datu dan Raja Bona Ni Onang kemudian berdoa:

"Wahai Ompung Na Martua Debata, Mula Jadi Na Bolon, Engkaulah pencipta segala yang ada, sudilah kiranya Engkau mendengarkan kami. Di kampung kami ini telah terjadi hal yang belum pernah terjadi, dan kami dengar anak Boru Pasaribu menjadi penyebab. Jikalau memang benar Engkau yang mengirimkan anak itu sebagai raja tempat bagi kami bertanya dan harus dihormati, kami memohon kepadaMU agar kiranya diberitahukan kepada kami."

Singkat cerita, setelah doa kepada Mula Jadi Na Bolon itu, melalui gerakan ayam itu mereka diberitahu bahwa benarlah anak Boru Pasaribu merupakan titisan, dan bukan anak haram sebagaimana dicurigai Raja Bona Ni Onan. Akhirnya, datu berkata kepada Raja Bona Ni Onan.

"Sudah nyata kita dengar bersama, wajah Rana Bona Ni Onan, Allah telah memberikan kepadamu dasar hukum dan dasar kerajaan Batak. Selama ini Boru Pasaribu selalu menangis menanggungkan hinaan orang banyak, tapi apa yang terjadi padanya ternyata kehormatan. Kepadanya ternyata telah diberkahi anak seumpama singa. Singa hukum, singa kerajaan, singa petuah, singa pemegang kekuasaan."

Lalu, orang banyak itu meminta kepada Raja Bona Ni Onan agar kiranya bersedia menerima Boru Pasaribu kembali sebagai istri yang harus dihormati. Raja Bona Ni Onan dengan senang hati menerima kembali istrinya.

Lalu, anak sakti itu dipanggil dan didudukkan layaknya seorang raja. Mereka bertanya kepada anak tersebut apa yang harus dilakukan atas kejadian itu. Dan anak itu menjawab: "Kita harus berpesta dan margondang sabangunan. Dan sekalian dibuatkan satu dangau di halaman ini," katanya.

Masyarakat desa lalu melakukan segala hal yang dikatakan anak itu. Setelah segalanya dipersiapkan, anak tersebut juga meminta kemenyan. Dia kemudian membawa kemenyan itu ke kolong dangau dan membakarnya. Setelah itu, anak itu menari-nari disaksikan orang banyak yang hadir pada kesempatan itu. Tidak ada seorangpun yang berani menemaninya menari, sebab tariannya maha indah. Setelah itu, dinobatkanlah anak itu jadi raja. Raja tempat bertanya. Raja yang harus dipatuhi karena kebenaran kata-katanya. Anak itulah Raja Si Singamangaraja I, yang kemudian secara turun temurun memperanakkan raja. Raja terakgir dinasti ini adalah Raja Sisingamangaraja 12 yang tewas melawan kolonial dan ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. (Habis/***).

Baca: Kisah Mistis Kelahiran Sisingamangaraja I (Bagian-1)

Catatan: Kisah ini diterjemahkan dari buku Jambar Hata, karangan TM Sihombing.



Saturday, August 20, 2016

Kisah Mistis Kelahiran Sisingamangaraja I (Bagian-1)


Tersebutlah pada zaman dahulu kala seorang raja bernama Raja Bona Ni Onan, memperistrikan Boru Pasaribu. Mereka memiliki seorang putri, yang lahir dengan wajah cacat. Raja tidak senang melihat kondisi putrinya seperti itu, sehingga ia meninggalkan istri dan putrinya, mengembara dari satu tempat ke tempat lain.

Ilustrasi
Sikap suaminya membuat Boru Pasaribu bersedih hati. Ia sungguhlah seorang ibu yang baik dan mulia. Ia membenci hal-hal buruk yang bertentangan dengan budaya dan adat.

Suatu hari, Boru Pasaribu dan putrinya pergi ke hutan bernama Hutan Sulusulu untuk mencari kayu. Di tengah jalan, Boru Pasaribu menangis tersedu-sedu dan berkata: "Wahai suamiku Raja Bona Ni Onan, sungguh benarkah kasih sayangmu sudah hilang kepada kami? Sedikit kabar saja tak pernah kau kirimkan kepada kami? Tapi ada Ompu Mulajadi Na Bolon yang sayang kepada kami. Biarlah Mula Jadi Na Bolon jadi teman kami," katanya sambil menangis.

Setelah rampung mengambil kayu di Hutan Sulusulu, Boru Pasaribu beranjak ke sungai yang ada di hutan itu untuk mandi. Pada saat itulah dia terkejut karena seorang pria berparas sangat tampan muncul dari langit dan berkata kepada Boru Pasaribu.

"Tak usah engkau bersedih lagi. Bagimu akan lahir seorang putra yang bijak dan perkasa, dan ia akan menjadi raja yang dihormati dan panutan semua orang di daerah ini," ujar pria tampan itu, lalu menghilang.

Boru Pasaribu dan putrinya tercengang menyaksikan peristiwa gaib itu. Dan ketika mereka pulang ke kampung, peristiwa itu mereka ceritakan kepada semua orang.

Setelah beberapa lama, benarlah kejadian itu. Boru Pasaribu mengandung. Kabar itu sampai ke Raja Bona Ni Onan dan membuatnya murka, sebab ia berpikir bahwa istrinya telah berbuat serong dan bercampur dengan pria lain. Meskipun ada niatnya kembali, tapi setelah mendengar berita itu, ia memutuskan tidak akan kembali dan pergi meninggalkan istri dan putrinya. Dia hidup di desa yang lain.

Setelah kandungan Boru Pasaribu berusia 10 bulan, dia berkeinginan menikmati ikan naniura dan minum air jeruk purut. Dia kemudian menyuruh putrinya menemui Raja Bona Ni Onan dan menyampaikan keinginan ibunya dan agar sudi kiranya Raja Bona Ni Onan menyiapkan makanan tersebut. Tapi Raja Bona Ni Onan tidak peduli, malah berkata kepada putrinya: "Kepada laki-laki itulah suruh ibumu meminta keinginannya."

Pedih hati Boru Pasaribu mendengar jawaban suaminya. Tapi dia tidak langsung menyerah, disuruhnya lagi putrinya untuk kedua kali menyampaikan hal itu. Tapi Raja Bona Ni Onan tetap menolak.

Setelah pupus harapan mendapatkan makanan itu dari suaminya, Boru Pasaribu menyuruh putrinya menemui tulang atau pamannya pihak marga Pasaribu. Saudaranya itu berwelas kasih, maka disiapkanlah makanan sebagaimana diinginkan Boru Pasaribu, dan akhirnya kesampaianlah hasrat Boru Pasaribu menikmati makanan tersebut.

Ketika Boru Pasaribu merasa bahwa waktunya akan tiba melahirkan, dia memberitahukan hal itu kepada seluruh orang. "Saudara sekampung sekalian, malam ini akan datang topan yang sangat dasyat, yang bisa merontokkan pohon dan rumah-rumah. Supaya rumah kalian tidak roboh, tolong kalian buat tonggak penyanggah dari batang sanggar (sejenis rumput liar, pen). Kalau hal itu tidak kalian lakukan, maka rumah kalian akan hancur."

Banyak orang mempercayai perkataaan Boru Pasaribu, tapi banyak juga yang tidak percaya sebab bagaimana mungkin batang rumputan bisa menahan rumah dari terpaan topan. 

Dan malam hari itu juga terjadilah angin topan yang sangat kencang. Pohon-pohon dan rumah milik orang yang tidak mempercayai perkataan Boru Pasaribu, tumbang dan roboh. Tapi rumah yang disanggah sesuai saran Boru Pasaribu, aman dan tetap berdiri seperti semula. Pada malam berbadai itulah Boru Pasaribu melahirkan seorang anak.

Setelah anak tersebut berusia 7 tahun, Boru Pasaribu mengajak anaknya menemaninya ke Hutan Sulusulu mengambil kayu. Ketika dia asyik mencari kayu, Boru Pasaribu merasa tanah bergoyang seolah-olah gempa bumi sedang terjadi. Dia mengarahkan pandang untuk mencari tahu penyeban bumi bergoyang, dan dilihatnya anaknya memanjat dan bermain-main di atas pohon. Dilihatnya anaknya itu bergelantungan di dahan sebuah pohon dengan kaki menjepit dahan, sementara kepalanya terulur ke bawah. Lalu Boru Pasaribu berkata, "Turunlah kau, anakku!"

Si anak lalu turun, dan goyangan bumi itupun berhenti. Tapi keesokan harinya, peristiwa mengerikan terjadi di kampung itu. Ketika orang-orang bangun dan mulai melakukan aktivitas, mereka menyaksikan keanehan luar biasa di areal persawahan penduduk. Seluruh tanaman padi tampak terbalik. Akarnya ke atas, bulirnya ke bawah.

"Ada apa ini, mengapa begini, dosa apa yang kita perbuat?" begitulah para penduduk bergumam dengan rasa takut dan kebingungan menyaksikan kegaiban itu. (bersambung/***)

Baca: Kisah Mistis Kelahiran Sisingamangaraja I (Bagian-2)

Thursday, August 18, 2016

Anak Muda Itu Mencipta Dosa di Hatiku


Kehadiran pengamen itu mendorong saya tercebur menyelami makna sebuah kata: fakta. Dan ternyata, kata ini menyimpan bahaya di tengah pemuliaan terhadapnya. Akan tetapi, lagu-lagu dan musik mungkin akan terus dilantunkan, meski malam dan dingin mendera, hidup harus berlanjut.



Pengamen itu, seorang anak muda berwajah segar, hadir menciptakan dosa di hati saya. Sebab, emosi menjadi tidak stabil setiap kali melihatnya muncul dan mulai bernyanyi. Tatapan mata dan senyumnya tampak ‘bebal’, menghadirkan semacam chaos bagi orang-orang yang gemar menikmati makan malam di kafetaria dan pusat jajanan malam. Ia selalu datang menenteng gitar butut, memberikan salam dan memperkenalkan diri kepada pengunjung kedai atau warung. Ia bangga mengatakan bahwa ia seorang mahasiswa dan sengaja mengamen pada malam hari untuk biaya kuliah. Ia menggambarkan hidupnya seperti derita. Dan ia mengaku telah menciptakan lagu atas derita itu, yang senantiasa ia lantunkan bagi pendengar. Ia bangga mengabarkan capaian itu.

Tapi pendengar dan pecinta musik, mungkin bukan hanya kecewa, tapi juga marah setiap mendengar pengamen muda ini bernyanyi. Suaranya jelek. Petikan gitarnya hancur. Lagu yang konon diciptakannya itu jauh di bawah standar. Dan itu fakta yang sulit dibantah. Beberapa teman-teman yang kerap menikmati malam sambil menyeruput kopi, mengatakan hal yang sama ketika dimintai komentar. Tapi sesekali, saya menebus dosa sembari melihat sisi positif dalam setiap kemunculannya. Anak muda itu semacam lorong kreativitas, sebuah kenyataan yang berani tegak mengesampingkan gengsi dan rasa malu demi menjalankan rencana hidupnya.

Kadang-kadang kesedihan menyergap ketika ia muncul menenteng gitar butut itu dengan tubuh basah karena hujan atau gerimis. Betapa gigihnya kawan itu menyusuri jalan-jalan kota, mencari kedai atau café yang ramai pada malam hari. Dari sana, ia akan menyusuri lagi jalan hingga kadang-kadang kita temukan juga di di kafe-kafe lain. Maka, ia juga seperti lorong imajinasi, sebab kita kemudian bertanya: betulkah hidupnya susah, benarkah ia mengamen untuk memperjuangkan hidup, atau sekedar memenuhi obsesinya sebagai artis jalanan?

Tapi satu hal yang kita lihat, ia tidak macam-macam. Ia polos. Ia tidak mengenakan atribut khas anak jalanan yang kadang membuat kita muak dan marah: rambut panjang, gimbal atau berjambul, tubuh kurus dan kotor. Kita lalu dikejutkan tingkah anak-anak muda lain yang melakukan aksi balap liar, yang juga dilakukan malam hari. Mereka berkumpul sambil menghidupkan mesin sepedamotor yang kasar dan meraung-raung. Setiap Sabtu malam hingga Minggu dinihari, mereka bahkan berani melakukan aksi itu dengan melawan arah. Andai seseorang sedang terburu-buru melintasi jalan untuk urusan genting, lalu muncul sepedamotor anak-anak berandal itu dengan kecepatan liar, betapa remuknya. Betapa mengerikan bahaya yang ditimbulkannya.

Dan inilah cikal bakal munculnya geng-geng motor di berbagai tempat di Indonesia yang kini kian meresahkan dan sulit diatasi. Inilah bentuk kegagalan pendidikan terutama pendidikan karakter dalam keluarga. Faktor yang mendorong remaja berkumpul-kumpul, mungkin karena di kelompok itu mereka merasa nyaman, bisa mengekspresikan diri. Barangkali, mereka tidak mendapatkan rasa nyaman di rumah, dan lokasi balapan liar adalah realisasi kenyamanan yang dicari. Di mana-mana, seorang anak muda yang bermasalah secara psikologis, akan sangat mudah bergabung pada kelompok yang anti kultur. Dan di situ, mereka gampang tersulut dan dihasut.

Dua sisi kehidupan anak muda di atas adalah fakta, sebuah realitas sosial yang hari-hari ini bisa kita saksikan dan rasakan. Tapi sungguhkah situasi itu bisa kita rasakan? Di sinilah makna ‘fakta’ itu terselami. Fakta adalah sesuatu yang eksternal dan memaksa individu. Fakta menjauhkan kita dari sisi emosional, sebab terhadap fakta kita dimungkinkan melakukan kebaikan dan kejahatan. Kebaikan meluncur ketika kita ikut bersimpati dan berbuat untuk sebuah fakta yang menuntut campur tangan.

Dan memang, sisi termurni jiwa akan selalu tersentak melihat luka atau suka. Dan kejahatan akan menggelegak ketika terhadap fakta kita hanya berperan sebagai hakim. Menjaga jarak dengan fakta itu, tapi seolah-olah paling dekat dengan kebenaran. Tapi, musik dan lagu-lagu harus selalu berkumandang untuk kehidupan. Dan suara-suara sepedemotor yang meraung itu akan selama-lamanya menjadi mimpi buruk.(Panda MT Siallagan) ***

Antara Figuran dan Tokoh Utama

Tiba-tiba, saya ingin bicara, oh bukan bicara, tapi menulis, tentang figuran. Tepatnya tokoh figuran. Tapi saya tidak tahu kenapa saya tiba-tiba ingin menulis figuran. Saya hanya bisa menduga: mungkin karena akhir-akhir ini saya melihat makin banyak tokoh utama yang lupa cara menghargai.


Dan memang demikian realitasnya. Tokoh utama selalu merasa superior. Saking superiornya, kadang-kadang ia lupa bahwa drama yang dimainkannya adalah gubahan mahluk lain, yang juga belum tentu cerdas. Sesungguhnya, tanpa kemampuan menghargai, kecerdasan tokoh utama adalah kebohongan terbesar dalam sejarah. Dan sejauh ini, saya masih percaya: kebohongan adalah rongrongan paling ampuh di muka bumi yang terberkati ini.

Sebetulnya, saya agak bingung memaknai figuran ini. Kita tahu, figuran merupakan bentukan dari kata 'figur', yang artinya: bentuk, wujud, atau tokoh. Jadi, 'figur' itu sangat agung, mulia dan harum. Maka ketika terdengar oleh telinga kita 'figur publik', khalayan segera diantarkan pada sosok gemerlap nan hebat lagi disegani. Tapi, kenapa ketika berubah jadi 'figuran', yang hanya ditambahkan akhiran -an, maknanya runtuh menjadi 'tokoh yang tak berarti'. Bahasa pun ternyata bisa sedemikian tragis.

Entahlah. Hidup ini mungkin memang benar cuma drama. Atau sandiwara. Tapi setidaknya, saya mencoba memahami bahwa 'figur sentral', 'tokoh utama', sesungguhnya tak lebih agung dari figuran. Bagi saya, itu hanyalah rekayasa samar dari hasrat-hasrat jahat. Sebab tak ada tokoh utama jika tokoh figuran tak muncul. Demikian sebaliknya.

Misalkanlah film itu berjudul SURAT KABAR. Dan mari kita jawab, mana lebih penting antara pemimpin umum, pemimpin redaksi, redaktur, layouter, loper atau pembaca? Kalau peran salah satunya ditiadakan, saya yakin film bernama SURAT KABAR itu tak akan pernah rampung apalagi tayang.

Dan sungguh, saya tidak tahu kenapa saya membuat ibarat seperti itu. Padahal, sesungguhnya saya sedang kecewa pada layanan sebuah bengkel mobil. Kebetulan mobil tua dan butut milik saya hasil kredit itu sedang batuk-batuk, tapi tak bisa diperbaiki karena ahli dinamo tak lagi bekerja.

"Itulah, Tuan," kata rekan kerjanya pada saya, "Bos kami ini terlalu sepele sama dia karena kerusakan dinamo memang jarang-jarang terjadi. Dia kadang tak digaji, mana tahan. Dia resign dari bengkel ini."

Saya agak terhibur mendengar dia menyebut kata 'resign'. Betapa hebatnya kata itu merasuki hidup para pekerja. Singkat kisah, dari pergaulan sesama pekerja di bengkel itu, mereka akhirnya berhasil memanggil orang yang kompeten. Jadi, bukan cuma wartawan yang harus kompeten. Montir juga harus kompeten. Apalagi pemimpin. Hehe...

Pengalaman itu membuat saya membolak-balik pemahaman. Di zaman modern ini, atau di era digital ini, jangan-jangan pemain figuran itulah sesungguhnya tokoh utama. Jabatan mungkin cuma soal takdir. Petinggi-petinggi instansi atau perusahaan, dalam praktek sehari-hari, justru terkadang adalah figuran-figuran lucu yang kapan saja bisa runtuh dan berkeping-keping. Tentu saja jika ia terus menerus memupuk karakter pongah, degil dan tak belajar menghargai figuran.

Sebagai contoh, di tengah merajalelanya jurnalisme digital, media-media online bisa hancur seketika hanya dengan satu titik atau satu garis. Jika seorang webmaster gelap mata, satu titik cukup menghabiskan segalanya. Saya ngeri membayangkannya. Sungguh, saya tidak tahu kenapa saya tiba-tiba menuliskan ini. Tapi saya melihat, keruntuhan rezim seringkali tidak muncul karena kelalaian prajurit, tapi oleh sikap megah dan arogansi akut dari seorang pemimpin. Atau, mungkin saja buku Strategi Samudera Putih itu membuat saya agak panik, sebab kenyataan terasa makin jauh. Seolah tak ada jalan memahaminya.

Danai Chanchaochai, begitu nama pengusaha dan penulis itu. Nama yang aneh dan unik bagi telinga lokal. Sama anehnya dengan perasaan saya, kenapa begitu banyak tokoh utama kian alpa memaknai teamwork?

Dari semua keanehan yang saya rasakan tentang coretan ini, saya tetap yakin: strategi apapun hanyalah mimpi-mimpi kosong jika kita masih selalu menganggap orang lain sebagai figuran. Demikianlah....!


Monday, August 15, 2016

Konsep Waktu Menurut Batak, Bermula dari Beringin

Dalam kehidupan ini, kita hidup menjalani waktu. Ada pagi, siang dan malam. Ada hari, minggu, bulan dan tahun. Di dalam tradisi Batak, konsep waktu ini sudah ada sejak zaman dahulu kala dan terekam dalam sebuah mitos. Konsep waktu menurut Batak lama ini, semua berawal dari pohon hariara sundung di langit atau pohon beringin. Berikut legendanya:

FOTO/Int
Pada awalnya dunia ini hanya terdiri dari hamparan laut yang luas. Pada suatu pagi (manogot), Debata Mula Jadi Na Bolon (Allah) menjatuhkan satu buah pohon beringin ke tengah hamparan lautan itu, lalu biji itu tumbuh. Peristiwa ini disebut Komis. Menjelang siang (pangului) kira-kira pukul 10.00, pohon itu mulai memiliki daun, waktu ini dinamai Bisnu. Lalu tengah hari (hos ni ari) kira-kira pukul 12.00, kayu tersebut berbunga, waktu ini disebut Sori. Selanjutnya menjelang sore (guling ari) kira-kira pukul 15.00, kayu tersebut berbuah, waktu ini disebut Hala. Sore (bot ari) kira-kira pukul 18.00 yang disebut Borma, satu biji pohon itu jatuh. Pohon itu pun kemudian mati.

Keesokan harinya biji pohon yang jatuh itu tumbuh lagi di pagihari (manogot), berdaun menjelang siang (pangului), berbunga tengah hari (hos ni ari), berbuah  menjelang sore (guling ari), lalu buahnya gugur pada sore hari (bot ari), lalu pohon itu mati. Demikianlah terus menerus hingga muncul daratan yang ditempati manusia sekarang.

Dengan demikian, berdasarkan legenda mitos itu, Batak memiliki konsep 5 waktu, yang disebut dengan hatiha silima, yaitu:

- Manogot (komis): Pukul 06.00 pagi
- Pangului (bisnu): Pukul 10.00 pagi
- Hos ni Ari (sori): Pukul 12.00 siang
- Guling Ari (hala): Pukul 15.00 sore
- Bot Ari (Borma): Pukul 18.00 sore


Adapun pohon yang terus tumbuh itu secara terus menerus disebut dengan hariara sundung di langit (pohon beringin). Pohon beringin ini memiliki 5 akar, yang disebut hatiha silima tadi. Sedangkan batang pohon itu dinamai taon bolon, cikal bakal terciptanya tahun. Sedangkan cabang pohon itu dipercaya berjumlah 8, dan itulah cikal-bakal terciptanya desa na ualu (desa na 8), yaitu delapan penjuru mata angin. Kedelapan penjuru mata angin itu adalah:

Julu (utara) - Irisanna (timur laut) - Purba (timur) - Anggoni (tenggara) - Dangsina (selatan) - Nariti (barat daya) - Pastima (barat) - Manabia (barat laut).

Selanjutnya, legenda ini menyatakan bahwa ranting pohon itu memiliki jumlah 30. Itulah permulaan jumlah hari selama sebulan. Sedangkan buah pohon itu berjumlah 12, inilah permulaan permesa na 12, yaitu zodiak Batak (BACA: Mengenal Zodiak Batak, Namanya Permesa Na-12).

Demikian kisah atau konsep permulaan waktu dalam tradisi Batak, semoga bermanfaat. (disadur dari buku Jambar Hata karangan TM Sihombing)