Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Wednesday, November 6, 2019

Lirik Lagu Unang Be dan Artinya - Arghado Trio


Unang Be

Voc: Arghado Trio
Cipt: Abidin Simamora

Arghado Trio.
Dang na alani jais rohakku
Dang alani takkang ni rohakki
Alai ho da ito na mamukka i sude
Gabe paturtar do tongtong rohatta i

(Bukan karena aku tak peduli
Bukan karena hatiku bebal
Tapi kaulah yang memulai semuanya
Hati kita selalu gaduh)

Sai dibahen ho lomo-lomom
Dang ditangihon ho be hatakki
Ai sibolis do ito na maringan di roham
Ai holan bada do dipukka ho tu au

(Kau selalu bersikap sesukamu
Tak lagi kau dengarkan kata-kataku
Iblis selalu merasuki hatimu
Kau selalu membuat pertengkaran)

Hasian unang ho songoni
Dame ma boan tu rohakku
Sae ma i akka na masa i
Unang be ulahi mambahen hansit rohakku

(Sayang, kau jangan seperti itu
Bawalah damai ke hatiku
Yang lalu biarlah berlalu
Jangan kau ulangi lagi menyakitiku)

***

Tuesday, January 10, 2017

Marjalekkat dan Marsitekka, Permainan Tradisi yang Hilang


Teknologi menghadirkan banyak hal, tapi sekaligus memberangus banyak hal. Kini manusia lintas generasi sangat akrab dengan benda-benda ajaib yang lahir dari rahim teknologi. Ragam alat komunikasi modern seperti smartphone dan gadget, kini sudah jadi mainan semua kelompok usia. Bahkan memenjara.
Ilustrasi marjalengkat.
Saya terkenang permainan masa kanak-kanak yang menggembirakan: marjalengkat (dilafalkan: marjalekkat) dan marsitengka (dilafalkan: marsitekka). Bagi generasi yang lahir tahun 70-an hingga 80-an, dua jenis permainan tradisional ini mungkin masih familiar dan tersimpan sebagai kenangan yang indah. Alangkah menakjubkan kebersamaan yang tercipta karenanya.

Anak-anak generasi kini mungkin tak akan pernah lagi menyaksikan permainan-permainan tradisonal semacam itu, apalagi melakoninya. Mereka sudah punya alat permainan yang canggih. Ragam aplikasi game (permainan) kini tersedia dan dapat dengan mudah dinikmati. Tapi ini menjadi kesedihan yang lain: kemajuan zaman itu telah menyebabkan mereka jadi manusia yang asosial, egois, serba praktis dan hampir-hampir tak memiliki kreativitas.

Tak akan kita saksikan lagi anak-anak di sekitar kita bermain dengan alat tradisional. Bagi sebagian orang tua, itu hanya kenangan. Nilai-nilai sosial dari interaksi anak-anak zaman dulu juga pada akhirnya tidak akan ditemukan lagi saat ini, seperti halnya keriangan dan solidaritas dalam permainan marjalengkat dan marsitekka.

Saya sengaja memilih marjelengkat dan marsitengka untuk mewakili gender. Sebab marjalengkat umumnya permainan untuk anak laki-laki, meski tak jarang ada juga anak perempuan yang mahir memainkannya. Sedangkan marsitengka umumnya adalah permainan untuk anak-anak perempuan.

Marjalengkat adalah permainan dengan dua tongkat yang masing-masing diberi bilah sebagai alas kaki. Permainan ini sering dilakukan sebagai ajang adu ketangkasan untuk meningkatkan kemampuan berlari. Di tanah Batak, tongkat tersebut umumnya terbuat dari batang bambu.

Ketika memainkan permainan ini, si anak naik dan menginjakkan kaki di bilah penahan, sementara tangan berpegangan pada ujung tongkat bagian atas. Kunci keberhasilan dalam permainan ini adalah keseimbangan tubuh. Berat tubuh akan dipikul bilah dan dua tongkat. Orang yang sudah mahir biasanya bisa berlari, bahkan melewati sungai atau berjalan di medan-medan yang sulit.

Sementara marsitengka merupakan permainan yang biasanya dilakukan di sekolah atau di halaman rumah. Permainan ini biasanya dilakukan dua orang. Caranya adalah membuat beberapa kotak persegi empat yang digariskan di tanah dengan menggunakan kayu atau alat gores yang memungkinkan. Untuk lokasi permainan berlantai semen, kotak-kotak bisa digambar dengan kapur.

Dalam permainan ini, ada semcama alat bantu, biasanya batu berbentuk pipih atau uang logam. Batu pipih itu dilemparkan ke salah satu kotak, lalu melompat-lompat di dalam kotak untuk mengambil alat bantu tadi (batu pipih atau uang logam). Selama melompat, kaki tidak boleh mengenai tepi garis kotak tersebut.
Marsitengka (Foto/INT)
Selain marsitengka dan marjalengkat, sebenarnya masih banyak jenis permainan tradisional anak-anak, antara lain Pat ni Gajah. Permainan ini memakai potongan tempurung kelapa yang sudah kering dengan bantuan tali yang diikatkan ke lubang tempurung kelapa serta saling berhubungan. Permainan ini memerlukan kekuatan tenaga yang kuat karena harus berlari di atas kedua tempurung yang diikatkan tadi.

Lalu ada juga marultop  (tembak dari bambu). Permainan ini menggunakan alat yang terbuat dari bambu dan pelurunya terbuat dari biji atau buah pohon atau dari pilinan kertas yang dibasahi. Jenis-jenis permainan lain yang tanpa alat juga masih sangat banyak seperti margala, marsappele-sappele, dll. (Panda MT Siallagan/berbagaisumber/int)

Friday, December 23, 2016

Kita, Meriam Bambu dan Om Telolet Om


Oleh Panda MT Siallagan

Anak-anak bermain meriam bambu. (Foto/Internet)
Ini akhir tahun yang menggembirakan sekaligus mencemaskan. Menggembirakan karena tiba-tiba muncul demam 'Om Telolet Om' yang ringan dan menyenangkan. Dunia heboh dan ceria karenanya. Ketika saya saksikan video tentang "om Telolet Om' itu lewat saluran youtube, saya ikut larut di dalamnya: tertawa dan bahagia.

Tapi di balik kegembiraan itu, sesungguhnya terselip kecemasan yang dalam. Situasi politik nasional yang panas, produksi isu SARA yang meresahkan, pemberantasan terorisme yang gencar, ekonomi yang lamban bergerak, masalah-masalah sosial lain, sungguh membuat jantung gemetar.

Dan kita tahu, kegembiraan dan kecemasan itu hadir secara tak terkendali di dunia maya berbasis teknologi yang kita kenal dengan media sosial (medsos) itu. Kegembiraan dan kecemasan itu dikirimkan ke hati dan pikiran kita lewat media sosial dan media konvensional melengkapinya sebagai fenomena yang harus diterima sebagai kenyataan.

Dan saya tiba-tiba terkenang meriam bambu. Situasi bangsa yang kita saksikan hari-hari ini menjelang pergantian tahun, sungguh seperti letupan-letupan yang mengejutkan di satu pihak, menyenangkan di pihak lain, dan mencemaskan bagi kelompok tertentu. Hal semacam inilah yang saya tangkap dari kenangan tentang meriam bambu. Tak akan lekang dari ingatan: letupan-letupan meriam bambu adalah perayaan penuh warna setiap pergantian tahun, dulu, pada masa kanak yang jauh itu.

Setelah menonton beberapa video Om Telolet Om, saya tiba-tiba berhenti tertawa. Saya tiba-tiba sedih menyaksikan anak-anak berdiri di pinggir jalan, lalu berteriak-teriak kepada supir bus agar membunyikan klakson yang tiruan bunyinya 'telolet'. Betapa riskannya aksi itu. Dan anehnya, sebagian orang mengambil kesimpulan dari aksi itu: bahagia itu sederhana. Benarkah demikian? Benarkah kebahagiaan yang sederhana harus diraih dengan cara berbahaya semacam itu?

Saya merenung, lalu menyimpulkan bahwa anak-anak dan generasi muda itu adalah para pemburu. Pemburu klakson. Pemburu telolet. Pemburu kebahagiaan. Pemburu keriangan. Itu mungkin hal baru yang sangat menyenangkan bagi mereka, tapi bagi saya, atau bagi anak-anak yang tinggal di Sumatera Utara, telolet bukanlah hal baru. Rentang tahun 90-an hingga 2000-an, hampir setiap angkutan kota dan angkutan desa sudah punya klakson telolet seperti yang heboh sekarang. Bahkan, seingat saya, klakson telolet ada yang menggunakan lagu Indonesia Raya atau lagu-lagu daerah. Fenomena itu kemudian hilang, hingga akhirnya muncul lagi sebagai viral di medsos yang membuat dunia gempar.

Diam-diam saya bertanya: mengapa bunyi klakson harus diburu? Apakah tidak ada lagi sarana lain untuk mencari kebahagiaan bagi anak-anak itu? Saya agak marah ketika ada yang bilang bahwa Om Telolet Om adalah bentuk kreativitas. Saya justru berpendapat bahwa hal itu dimungkinkan karena ketiadaan kreativitas. Anak-anak itu tidak punya aktivitas kreatif yang bisa memenuhi hasratnya pada kebahagiaan terutama dalam hal bunyi-bunyian.

Pada titik inilah saya terkenang masa kanak yang riang itu. Saya mahir membuat mobil-mobilan dari bambu dengan roda terbuat dari sandal swallow bekas, bentuknya mirip dengan mobil balap yang digunakan di arena balapan F1. Kami anak-anak desa, ketika itu, juga sangat mahir membuat truk dari papan. Kedua jenis mobil-mobilan ini didorong dengan tongkat yang berfungsi sebagai setir, yang dikaitkan dengan tali pada kedua sisi as roda bagian depan. Dan tentu, masih sangat banyak jenis-jenis permainan lain yang akan sangat panjang jika dideretkan satu per satu.

Dan setiap akhir tahun seperti ini, salah satu kreativitas yang saya kenang adalah meriam bambu. Ia bagian dari sejarah kita. Sejarah beberapa generasi yang kini sudah hampir hilang. Meriam bambu adalah alat keriangan paling mengagumkan pada masa itu, yang kini telah digantikan petasan, mercon atau kembang api. Anak-anak tak perlu lagi kreatif, tinggal beli, lalu meletuplah kebahagiaan-kebahagiaan semu.

Ilustrasi membobol sekat ruas bambu.
Akan halnya meriam bambu, proses kreatif sudah dimulai sejak anak-anak pergi ke hutan mencari bambu berdiameter besar, paling tidak 10 cm. Pengetahuan tentang usia bambu itu juga sangat penting di sini. Bambu harus tua. Bambu muda tentu tak layak dijadikan meriam. Proses selanjutnya adalah membuat meriam. Bambu dipotong dengan panjang 1,5 hingga 2 meter. Bambu yang dijadikan meriam tidak memiliki cacat seperti berlubang atau pecah.

Umumnya ruas bambu pada bagian bawah akan dijadikan pangkal. Lalu, sekat-sekat ruas bambu akan dibobol dengan batang besi atau kayu yang diruncingkan, dan pada bagian pangkal dibuat lubang picu di permukaan bambu dengan jarak sekitar 10 cm dari ruas pangkal meriam.

Lalu, permainan dimulai. Saatnya memasukkan minyak tanah sebagai bahan bakar. Lalu dipanaskan melalui api yang ditiup di lubang picu. Setelah panas, maka mulailah proses bermain-main dengan letupan. Lubang picu ditiup, api dicelup dengan api. Dan duarrrr...! Begitu seterusnya.

Suara letupan meriam bambu ini akan bersahut-sahutan dari satu dusun dengan dusun lain. Dan 'kepahlawan' anak-anak itu akan tampak dari suara meriam bambu miliknya: meriam siapa bunyinya paling keras berdentam, maka dialah pemenang, atau paling dipuji.

Ilustrasi cara membuat lubang picu.
Tapi kini, permainan tradisional ini sudah nyaris punah. Selain cara pembuatannya yang tidak praktis, banyak orang tua melarang anak-anaknya memainkan meriam bambu karena sangat berbahaya. Dan kini, tentu tak mudah lagi mencari bambu dan minyak tanah sebagai bahan bakar. Tapi tentang bahaya, saya merenung: apakah petasan dan mercon tidak berbahaya? Apakah Om Telolet Om tidak berbahaya?

Demikianlah, sesungguhnya saya sedang merenung: alangkah dasyatnya kehilangan kita atas kreativitas, terutama di kalangan anak-anak kota yang kian praktis dan terjajah medsos. Alangkah dasyatnya! ***

Sunday, December 4, 2016

Ini Manfaat Facebook untuk Kesehatan


SolupL - Setiap orang hampir mengenal Facebook, jejaring sosial paling populer sejagad. Mulai dari remaja hingga orangtua, mulai dari warga desa hingga perkotaan, media ini sangat akrab dengan kehidupan masing-masing pribadi.
Ilustrasi.
Mereka yang memiliki akun Facebook, pasti sering mengunggah banyak hal di Facebook. Ketika mereka sedih dan tentunya status dan jenis gambar yang Anda unggah pasti juga berubah. Ternyata, Facebook sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Menurut sebuah studi baru, status Facebook dan sejenisnya bisa membantu dalam mendeteksi dini adanya gangguan jiwa yang menunjukkan bahwa jaringan sosial bisa membantu memberikan dukungan dan intervensi.

"Facebook sangat populer dan bisa memberikan Anda banyak data untuk meningkatkan pengetahuan tentang gangguan kesehatan mental seperti depresi dan skizofrenia," kata peneliti bernama Dr. Becky Inkster, sebagaimana dilansir India Times, baru-baru ini.

Michal Kosinski, co-author dari Stanford Graduate Business School di AS, mengatakan bahwa data Facebook cenderung lebih bisa diandalkan.

Dengan menganalisis bahasa, emosi dan topik yang digunakan dalam update status, para peneliti mengatakan bahwa mereka bisa mencari gejala atau tanda-tanda awal dari penyakit mental.

Bahkan foto-foto pengguna Facebook mungkin memberikan wawasan baru. Informasi yang dikumpulkan dari media sosial bisa membantu mendeteksi tahap awal depresi.

"Facebook bisa membantu memberikan pendampingan bagi individu yang terisolasi secara sosial. Kita tahu bahwa remaja yang terisolasi secara sosial lebih mungkin untuk menderita depresi dan memiliki pikiran untuk bunuh diri, sehingga online melalui Facebook bisa mendorong pasien untuk mereformasi hubungan sosial offline mereka," demikian Inkster.(bbs/int)

Baca Juga: KETIKA WANITA BATAK BERGAYA DI FACEBOOK


Wednesday, October 26, 2016

Mengenal Karakter Sejati Orang Batak


Salah satu etnis paling eksotis di Indonesia mungkin adalah Batak. Banyak 'cap' dilekatkan pada orang Batak. Ada yang bilang kasar. Ada juga yang bilang, orang Batak hanya kedengaran kasar ketika bicara, tapi sesungguhnya hatinya lembut, bahkan melankolik. Banyak citra negatif dilekatkan menjadi semacam stigma buruk terhadap orang Batak.

Ilustrasi.
Tentu, banyak juga cap positif yang inspiratif tentang orang Batak, antara lain pekerja keras, pantang menyerah dan siap mengerjakan apapun demi memperjuangkan hidup. Dan yang tak kalah menarik, orang Batak umumnya sangat menghargai pendidikan. Hampir semua orang Batak berlomba-lomba menyekolahkan anak ke jenjang perguruan tinggi.

Dalam bidang kebudayaan, Batak juga sangat kaya akan kesenian, adat istiadat, kekerabatan, bahasa, kepercayaan, sastra dan ragam mitologi. Jika begitu, sesungguhnya, bangsa seperti apakah Batak itu? Ada baiknya, kita mengenal karakter dan prinsip-prinsip orang Batak. Berikut ini beberapa contoh kehebatan orang Batak yang perlu diketahui:

# Filosofi Dalihan Natolu

Dalam kehidupan sosial, orang Batak memiliki filosofi yang sangat mengakar, yaitu dalihan na tolu (tiga tungku), bunyinya: Somba marhula-hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu. Secara bebas, dapat diterjemahkan seperti ini: Hormat kepada keluarga pihak istri, bersikap mengayomi kepada saudara perempuan, dan bersikap hati-hati kepada kerabat semarga.

Sejak zaman dulu hingga sekarang, filosofi ini masih berlaku dan nilainya dianggap sakral oleh orang Batak. Ini pedoman mutlak bagi orang Batak menjalankan keluarga dan insitusi sosial. Dalihan Na Tolu ini menjadi perekat sehingga kekerabatan orang Batak sangat erat.

Pondasi nilai dalihan na tolu ini juga sangat relevan diterapkan dalam kehidupan berbangsa. Hula-hula bisa dimaknai sebagai raja atau pemerintah, boru bisa dimakna sebagai lingkungan, dan dongan tubu bisa dimaknai sebagai masyarakat atau warga sekitar.

# Biar Miskin, tetapi Kaya dalam Adat

Sejumlah generasi baru (muda) orang Batak, kini mulai sering mengeluh, kata mereka: "Habis-habis ke adat uang. Dasarlah Batak ini." Tapi meski begitu, mereka tetap menjalankannya. Sebab dalam kehidupan adatlah kehormatan seseorang senantiasa ditegakkan.

Orang yang secara ekonomi dikategorikan miskin, dalam praktek adat Batak, bisa justru sangat kayak. Misalkan saja raja-raja adat, ia sangat terhormat posisinya dalam masyarakat, meskipun mungkin secara ekonomi ia tidak memiliki apa-apa. Terlebih ketika ada acara adat, maka eksistensi orang itu akan sangat dibutuhkan bahkan bisa dibilang sangat vital.

# Anak adalah Kekayaan


Di masyakarat Batak, sudah lazim orangtua mengenakan pakaian buruk atau sama sekali tidak pernah beli baju baru, yang penting anaknya bisa sekolah atau menempuh pendidikan yang kelak bisa membawa jalan kehidupannya ke arah yang lebih baik. Inilah yang dipahami orang Batak sebagai kekayaan. Anak adalah kekayaan, yang dalam bahasa Batak disebut anakkonhi do hamoraon di au. Istilah anakhonhi do hamoraoon di au sangat populer di kalangan orang Batak, bahkan dijadikan lagu.

Makna lain dari istilah itu tentu terkait dengan konsep patriarkal dalam tatanan kehidupan orang Batak. Oleh karena itu, memiliki anak adalah kekayaan yang tidak ternilai bagi suku Batak. Terlebih jika anak itu adalah laki-laki dan anak sulung, ini ibarat sebuah berkat yang sangat besar bagi keluarga.

Namun demikian, bukan berarti anak perempuan bukan kekayaan. Sama halnya dengan anak laki-laki, anak perempuan juga sama harga dan derajatnya bagi orang Batak, sebab ada konsep gabe (berhasil) dalam kehidupan orang Batak. Orangtua harus memiliki anak laki-laki dan perempuan supaya bisa mendapatkan status gabe. Dalam adat, status gabe memiliki tempat yang sangat terhormat.

# Hagabeon, Hasangapon, Hamoraon

Secara sederhana, hagabeon, hasangapon, hamoraon dapat diartikan sebagai keberhasilan, kehormatan, kekayaan. Ini juga merupakan prinsip orang Batak dalam menjalankan kehidupannya.

Namun, seperti sudah disinggung di atas, hagabeon (keberhasilan) dalam filosofi ini tidak terkait dengan materi. Keberhasilan yang dimaksud di sini adalah keberhasilan memiliki keturunan, baik anak laki-laki maupun perempuan. Harus lengkap.

Setelah hagabeon terwujud, status kehormatan orang Batak dalam kehidupan sosial kemudian dilihat lagi dari hasangapon. Hasangapon ini adalah status sosial seseorang, karir, pangkat, dan lain-lain yang terkait dengan eksitensi dan aktualisasi diri, tentu tingkat pendidikan.

Sedangkan hamoraon adalah kekayaan materi yang diperoleh seseorang dalam perjuangan hidupnya. Inilah uniknya orang Batak, kadang walaupun hartanya melimpah, jika ia tidak gabe, ia dianggap tidak sempurna.

Dalam hal kekayaan ini, orang Batak juga kerap memaknainya sebagai ukuran moral. Orang kaya yang tidak mau membantu orang susah, meski berpangkat dan kaya raya, bagi orang Batak akan dipandang sebelah mata, terutama oleh keluarga.

# Marga Penting dalam Perjuangan

Sebagaimana kita ketahui, marga adalah identitas utama bagi orang Batak. Marga ini sering menjadi 'penyelamat' bagi seseorang di perantauan. Tidak akan ada orang Batak yang membiarkan orang semarganya terlantar atau mengalami kesulitan. Mereka akan saling membantu atau saling memberikan jalan.

Jadi, seperti sebuah harga mati, setiap orang Batak bertemu, pertanyaan pertama dan utama adalah 'marga apa?". Setelah itu, barulah mereka mencari silsilah. Meskipun marganya berbeda, akan selalu ada pertalian melalui filsafat dalihan na tolu itu. (Panda MT Siallagan). ***

Saturday, September 3, 2016

Marsege, Keterampilan Khas Wanita Batak yang Pudar


Zaman dulu, masyarakat Batak belum mengenal mesin atau pabrik penggilingan padi. Untuk memisahkan beras dari kulit (sekam), maka padi atau gabah harus ditumbuk di dalam alat yang disebut losung (lesung) dan andalu (alu).
Aktivitas marsege dilakukan seorang ibu. (Foto/int)
Tentu saja, padi yang ditumbuk harus terlebih dahulu dijemur hingga benar-benar kering. Padi yang kurang kering akan menyebabkan beras pecah atau sulit terpisah dari kulitnya ketika ditumbuk. Proses menumbuk ini disebut manduda. Duda dalam bahasa Batak berarti tumbuk, dengan demikian manduda adalah menumbuk.

Demikianlah, setelah padi ditumbuk dan beras terpisah dari sekam, proses selanjutnya adalah menampi. Alat yang digunakan adalah tampi, yang biasanya berbentuk bujur sangkar atau lingkaran, yang dianyam dari bilah-bilah bambu. Dalam masyarakat Batak, tampi ini disebut sege-sege atau anduri. Dan pekerjaan menampi disebut marsege, atau sering juga disebut mamiar atau mamiari.

Dalam proses marsege, gabah yang sudah ditumbuk dimasukkan ke atas tampi, lalu digerakkan dengan pola atas-bawah. Sederhananya, tumbukan gabah dilambungkan (diayun) ke atas, lalu beras terhempas lagi ke permukaan tampi. Saat itulah ampas sekam padi terbuang dari tampi karena perbedaan berat jenis. Beras utuh tetap berada dalam tampi, sementara sisa-sisa sekam terbuang atas bantuan dorongan angin yang muncul dari gerakan sege-sege.

Tak sampai di situ, proses marsege masih terus berlanjut. Setelah sekam terbuang, proses selanjutnya adalah memisahkan beras dengan monis atau menir (beras-beras halus yang pecah saat proses menumbuk). Di sini, diperlukan keahlian atau keterampilan khusus. Gerakannya penuh trik menyerupai tarian, sehingga menir terkumpul di ujung tampi dan selanjutnya, dengan gerakan khusus juga, menir dilemparkan keluar dari tampi. Menir ini kemudian masih dibersihkan untuk dipergunakan. Lazim juga menir ini dimasak jadi campuran sayur daun ubi tumbuk, rasanya sangat lembut dan enak.

Setelah zaman pabrik penggilingan padi mulai masuk ke desa-desa, aktivitas marsege memang masih tetap berlangsung, sebab hasil mesin gilingan padi pada awal-awal belum bersih secara sempurna, masih terdapat sekam-sekam kecil atau menir menyatu dengan beras. Barulah kemudian setelah teknologi makin canggih, beras dari penggilingan padi bisa langsung dimasak, cukup dengan mencuci sekilas maka sisa-sisa sekam terbuang bersama air cucian. Belakangan, beras dalam bentuk kemasan karung sudah sangat bersih. Dengan demikian, aktivitas marsege pun perlahan-lahan hilang.

Hilangnya aktivitas marsege ini juga mengubur banyak kisah dan rangkaian kreativitas. Misalnya, perajin lesung dengan sendirinya juga perlahan hilang. Hal yang sama terjadi pada perajin tampi atau anduri. Dengan berkurangnya aktivitas marsege, maka tingkat kebutuhan akan tampi semakin berkurang dan hilang.

Kemajuan zaman dan perkembangan tekonologi memang harus dihadapi dan diikuti untuk kemudahan-kemudahan hidup. Tapi kemampuan-kemampuan khas ini ada baiknya dirawat agar tidak punah secara total. Paling tidak, ia akan abadi sebagai catatan atau aktivitas historis. Kekayaan tradisi ini harus tersalur ke generasi baru sebagai pengetahuan bahwa pada masa yang jauh, manusia memiliki kreativitas khusus menjalani hidupnya. Demikianlah, semoga bermanfaat. Horas...! (Panda MT Siallagan)

Tuesday, August 30, 2016

Kisah Parmahan, Meniup Seruling di Punggung Kerbau


Oleh Panda MT Siallagan

Sekarang sudah sulit menemukan kerbau di desa-desa. Pemanfaatan tenaga hewan itu untuk mengelola lahan pertanian memang sudah tersingkir sedemikian sempurna oleh hadirnya teknologi modern bernama traktor yang sangat praktis, efisien dan efektif.

Ilustrasi. Foto/Internet
Takdir modernisme mungkin memang begitu. Kita dimudahkan di satu ruang, tapi di ruang lain, kita merasa banyak kehilangan. Kenangan-kenangan terhapus secara lembut tanpa pernah disertai daya penolakan. Tapi pada jiwa yang lelah dan sunyi, kita kadang merasa trenyuh menyadari bahwa ada banyak hal yang tak mungkin kembali.

Sungguh, sekarang sudah sulit menemukan kerbau di desa-desa. Di sejumlah tempat, generasi baru yang lahir tahun 2010-an, bahkan mungkin takkan lagi bisa menyaksikan wujud kerbau di kelak hari, apalagi menyentuh dan bersahabat dengannya.

Saya terkenang masa kanak yang jauh, masa yang penuh keakraban dengan kerbau. Kita tahu, kerbau memunculkan banyak tradisi indah pada kehidupan lampau. Membajak sawah, misalnya, akan selalu terkenang keriuhannya. Si pembajak sawah yang berada di belakang kerbau menarik luku, sungguh pemandangan indah, meski terbersit juga rasa sakit ketika kerbau dicambuk manakala lamban atau malas bergerak.

Dan saya akrab dengan suara-suara lantang mengarahkan kerbau, "Housss...etah...husss, eta...!" Itu suara pembajak memerintah kerbau menarik bajak. "Siamun.....siamun....! Birrrang...birrrrang!" Itu teriakan pembajak mengarahkan kerbau ke kanan atau ke kiri. Dalam bahasa Batak, siamun artinya  kanan,  hambirang artinya kiri. Dalam aktivitas membajak, hambirang lebih sering diteriakkan 'birrrrang' untuk memudahkan pelafalan.

Aktivitas membajak ini berlangsung pada pagi dan berakhir menjelang tengah hari. Selanjutnya, kerbau dihantarkan ke areal penuh rerumputan, biasanya di dekat areal persawahan atau daerah yang tersedia air. Setelah kerbau berhasil mengumpulkan banyak rumput di salah satu kantong perutnya, dia harus istirahat di kubangan berair sambil mengeluarkan lagi rumput-rumput itu, mengunyah hingga lumat, lalu ditelan.

Di sinilah pentingnya peran pengangon (parmahan). Bentuk kata kerja parmahan adalah marmahan (mengangon). Dalam melaksanakan tugasnya, parmahan akan menggiring kerbau ke tempat-tempat yang penuh rerumputan. Setelah kenyang, kerbau dituntun untuk minum ke tempat yang tersedia air, dan dibiarkan mengaso.

Saat mengangon ini, tak jarang kerbau dibawa ke tempat yang sangat jauh di pinggiran desa. Lazim juga para pengangon bergerombol ke suatu padang membawa kerbau angonan masing-masing. Sambil mengangon, saat kerbau ditambatkan merumput atau sedang mengaso, anak-anak itu lazim pula melakukan berbagai aktivitas, misalnya mencari buah senduduk matang, lalu memakannya. Atau menguras saluran air atau ngarai-ngarai kecil mencari ikan, memancing, nengambil buah-buah alam dan lain-lain. Dulu, di mana ada air, di situ peluang ikan beragam spesies hampir selalu ada. Alam masih menawarkan banyak makanan dan buah-buahan.

Lalu, ketika senja tiba, para parmahan itu pulang. Mereka akan menunggang kerbau masing-masing. Hasil tangkapan ikan, jika ada, akan digantungkan di leher atau di tanduk kerbau. Dan, selalu ada anak yang mahir meniup seruling dengan bakat alam. Dan akan terdengarlah lantunan seruling bertalu-talu dari tiupan anak di punggung kerbau. Sungguh lengkingan seruling yang syahdu, mewarnai senja, menemani orang-orang pulang dari ladang.

Demikianlah kisah itu tertinggal jadi kenangan yang indah. Dan bagaimanapun, sebuah kisah lain tentang kerbau terkait juga dengan status sosial masyarakat Batak. Para pemilik kerbau selalu memiliki status sosial yang lebih tinggi. Mereka adalah kalangan atas desa. Dan parmahan, umumnya, adalah anak-anak dari kelompok kurang mampu yang diberi upah sebagai pengangon. Memang tak seluruhnya. Ada juga anak-anak itu marmahan kerbau milik ayahnya. Dan adakalanya, bunyi seruling yang mendayu menggigit jiwa itu lahir tiupan seorang anak miskin, yang sangat paham memaknai pedih dan sunyi hati.

Dan uniknya, di desa kami misalnya, status sosial soal kerbau tak selalu utuh sebagai satuan ekor. Artinya, orang tak hanya dinilai dari jumlah kerbau miliknya. Sudah pasti orang yang memiliki kerbau satu ekor, dua ekor, tiga ekor dan seterusnya, adalah orang berada. Tapi orang yang memiliki seperempat atau setengah kerbau juga sudah memiliki status dan kebanggaan tersendiri.

Bagaimana maksudnya memiliki seperempat kerbau? Inilah uniknya. Satu kerbau bisa dimiliku 2, 3 atau 4 orang. Satuan ukuran pembagiannya adalah paha kerbau, yang dalam bahasa Batak disebut hae. Jadi, seekor kerbau dinilai dengan 4 paha (4 hae). Seseorang bisa memiliki 1 hae kerbau (sahae/sakkae), sedangkan sisanya milik orang lain.

Dan, saya ingat dengan jelas, ketika saya anak-anak, ayah saya pernah punya prestasi memiliki 2 hae kerbau. Demikianlah...! ***

Monday, August 29, 2016

Demoralisasi di Lingkungan Intelektual


Membaca judul tulisan ini barangkali akan segera muncul beragam interpretasi dalam dalam pemikiran kita sebagai respons terhadap kalimat yang sekaligus jadi premis. Salah satu pertanyaan yang mungkin relevan untuk diajukan, mungkinkah di lingkungan intelektual bisa terjadi patologi sosial gawat semacam itu? Paradigma yang bagaimana yang dikembangkan memandang persoalannya, sehingga muncul terminologi menakutkan tersebut?

Ilustrasi.
Tulisan ini akan mencoba menjabarkan dengan cara menyoroti fenomena-fenomena aktual dan mutakhir di lingkungan akademis Unri yang belakangan dilihat cukup meresahkan.

Simak misalnya laporan khusus yang diangkat Bahana Mahasiswa edisi Juli 2002 tentang adanya sinyalemen beberapa dosen yang memakai gelar imitasi. Kasus tersebut bukan hanya mencoreng wajah dunia akademis yang dikenal dengan intelek. Tapi juga memunculkan gugatan yang kurang lebih sama sebagai penghinaan terhadap kaum intelektual. Dari perpspektif moral, kasus ini bisa dipandang sebagai bentuk dekadensi akhlak yang menjangkiti sebagian akademisi kita. Hampir bisa dipastikan bahwa motivasi oknum-oknum yang memilih jalan pintas tapi memalukan itu adalah semata-mata untuk kepentingan pribadi yang tidak rasional. Mereka praktis abai terhadap tanggung jawab sebagai pedadog, baik tanggungjawab moral maupun tanggungjawab profesi.

Gelar itu sejatinya didapat dari kerja keras, dedikasi pengabdian, dan sumbangan ilmu yang dapat memajukan peradaban masyarakat. Pendidikan bukan aktivitas yang money oriented. Mentang-mentang punya duit, lalu beli gelar yang ujung-ujungnya digunakan sebagai sarana kemudahan cari duit.

Parahnya, fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan dosen. Para mahasiswa juga tampaknya turut terjangkiti. Tidak sedikit mahasiswa untuk meraih gelar sarjananya, tidak benar-benar melakukan penelitian. Banyak skripsi yang datanya fiktif. Kondisi ini didukung oleh menjamurnya penyedia jasa pembuat skripsi dengan memungut biaya sejumlah tertentu. Dengan bahasa yang lebih ofensis boleh dikatakan bahwa banyak sarjana itu yang tidak pantas jadi sarjana. Mereka miskin ilmu. Miskin apresiasi. Kurang memiliki sensivitas terhadap budaya akademis. Padahal, konsensus yang disepakati bersama perihal kaum intelektual adalah berilmu, berakal, berbudaya, punya personalitas dan karakteristik yang fokus pada kemajuan. Ketiadaan akan hal inilah yang saya coba rumuskan sebagai demoraslisasi di lingkungan intelektual.

Jika dikaji lebih jauh dan diungkap lebih jujur, masih panjang deretan yang menjadi indikasi adanya demorasliasi di lingkungan akademis kita. Bukan hanya di Unri, tapi di seluruh pendidikan tinggi di Indonesia sinyalemen itu pasti ada. Masalahnya narkoba, misalnya. Hampir tidak bisa disangkal bahwa kualitas dan kuantitas pengguna barang-barang laknat itu sangat tinggi persentasenya. Bahkan media massa pernah melansir berita tentang tertangkapnya pengedar narkoba berstatus mahasiswa.

Hal yang tak kalah miris, ada kecenderungan gaya premanisme yang diterapkan para mahasiswa baik di lingkungan organisasi maupun dalam aktivitas keseharian. Menyadur apa yang ditulis Suka Hardjana di harian KOMPAS (1/9/2012), banyak orang yang bangga bila disebut beringas dan buas. Padahal beringas dan buas itu secara etimologi digunakan orang-orang zaman dahulu untuk menggambarkan keliaran binatang seperti singa, harimau dan binatang-binatang buas lainnya. Ini berarti banyak orang yang bangga disamakan binatang. Sikap beringas dan buas itu sadar atau tidak cenderung diekspresikan sebagai upaya menunjukkan superioritas yang keliru.

Dalam konteks keorganisasian hal tersebut sering terlihat dalam bentuk-bentuk perdebatan dan adu argumentasi yang terkadang sampai menghujat. Padahal, saling menyerang itu merupakan salah satu tanda merosotnya moral, atau makin terpinggirkannya etika prilaku dalam aktivitas keseharian kita.

Tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan organisasi tertentu, ada organisasi mahasiswa yang membuat pertandingan domino. Saya kira ini sangat bertentang dengan predikat kita sebagai mahasiswa. Bukankah lebih baik, jika dibuat program lomba pidato bertema kondisi aktual yang terjadi di sekitar kita? Program semacam ini selain bermanfaat untuk mengembangkan diri, juga sangat baik dijadikan momen untuk belajar mempertanggungjawabkan julukan kita sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.

Lalu apa sebenarnya moral itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia secara eksplisit dijabarkan bahwa moral adalah ajaran tentang baik-buruk, akhlak, budi pekerti, susila, keadaan mental yang membuat seseorang bersemangat, bergairah dan berdisiplin. Moral inilah yang menjadi refleksi bagi seseorang untuk menentukan apakah ia berperilaku baik atau tidak. Sopan atau tidak. Kebaikan perilaku, ketidaksopanan dan miskin budi pekerti inilah yang sebenarnya disebut demoralisasi.

Pertanyaannya, adakah ukuran baku yang secara tepat mendeskrispsikan dikotomi antara yang amoral dan bermoral? Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, dalam bukunya berjudul Genealogi Moral menjabarkan bahwa tindakan-tindakan moral yang sebenarnya ditujukan untuk daya guna.

Dikotomi baik dan buruk tidak lagi dimaknai dari esensi dan substansinya, tapi sudah dipolitisir. Baik untuk kelompok yang satu belum tentu baik untuk kelompok yang lain, dan sebaliknya.

Orang-orang yang merasa superior, lebih pintar, lebih kuat, sering mengklaim konsep baik baginya, dan buruk adalah untuk orang-orang yang dianggapnya bodoh dan lemah.


Organisasi kemahasiswaan nampaknya perlu lagi disoroti untuk menjelaskan hal ini. Kita banyak memiliki organisasi yang berbasis banyak ideologi. Para aktivis atau pelaku organisasi itu secara faktual sering menganut ideologi organisasinya dengan fanatisme berlebihan, sehingga forum diskusi dan kosolidasi antar organisasi yang berbeda ideologi, cenderung tidak pernah ada. Banyak ada sinyalemen permusuhan antara organisasi yang satu dengan organisasi lainnya. Fenomena ini kurang lebih sering melanda organisasi berbasis religius. Konsekuensinya, muncul klaim: kami benar (baik), mereka salah (buruk).

Primordialisme, sukuisme dan paham-paham kedaerahan ternyata masih sangat kuat kuat mengikat kita. Para mahasiswa masih sering menyebut ukuran baik dan buruk berdasarkan suku, daerah dan agama masing-masing. Dengan demikian, sikap hormat dan penghargaan terhadap pihak lain di luar dirinya sering terabaikan. Ada pandangan-pandangan sinis, kurang respek, bahkan kecenderungan melecehkan pihak lain di luar primordialnya. Inilah bentuk laten demoralisasi paling berbahaya dan sulit dicari akar masalah dan solusinya.

Penjabaran di atas kiranya cukup menggambarkan betapa demoralisasi sangat kompleks cakupannya. Bentuk eksplisit dan implisitnya sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Maka, kita harus menumbuhkan kesadaran terhadap bahaya-bahaya demoralisasi itu. Jika tidak, kita tidak akan pernah tumbuh jadi intelektual sejati.

Beberapa solusi yang bisa disikapi adalah sebagai berikut. Pertama, menanamkan kesadaran dalam diri bahwa kita adalah subjek paling bertanggungjawab terhadap stagnasi moral dan mandeknya dekadensi peradaban. kedua, mengesampingkn subjektivisme pemikiran dan absolutisme gagasan, yang sering menyeret sikap dan karakter kita tumbuh menjadi manusia yang kurang toleran.

Terakhir, menumbuhkan kehidupan spritual yang bebas dan intervensi sekteranisme dan fanatisme sesuai dengan agama masing-masing. Sehingga, nilai-nilai spritual itu bisa kita terjemahkan dalam berbagai konteks dengan tetap berpijak pada kebenaran. ***

* Artikel lawas saat belajar menulis, terbit di Surat Kabar Kampus (SKK) BAHANA MAHASISWA Universitas Riau (Unri), Edisi Agustus-September 2002.

Sunday, August 28, 2016

Mike Mohede, Harga Rokok dan Olimpiade


Sebulan terakhir, Indonesia diguncang tiga peristiwa sedih, sensasional dan penuh mimpi: Mike Mohede, wacana harga rokok, dan Olimpiade 2016.

Ilustrasi.
Meninggalnya Michael Prabawa Mohede atau akrab disapa Mike Mohede, terasa sangat mengejutkan. Paling tidak, ada dua hal yang menyebabkan kematian penyanyi penuh talenta yang dicintai publik itu menjadi topik trending. Pertama, usianya masih sangat muda, ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 32 tahun, pada Minggu 31 Juli 2016 yang kelabu itu. Kedua, Mike meninggal pada saat tidur, tidak dalam kondisi sedang sakit.

Maka, riuh pulalah pertanyaan dan pernyataan, Mike korban serangan jantung. Dan pembahasan tentang penyakit jantung pun riuh pula lewat artikel-artikel di medsos dan media-media digital. Ringkasnya, kematian jantung mendadak memang bisa terjadi pada orang berusia muda.

Menurut sejumlah referensi, ada beberapa penyebab kematian mendadak pada orang usia muda, antara lain penebalan otot jantung (hypertrophic cardiomyopathy), kelainan arteri koroner dan peradangan di dalam jantung (long QT syndrom). Intinya, semua penyebab ini menyebabkan penyumbatan yang mengakibatkan jantung gagal memompa darah.

Memang, penyakit jantung disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Sayangnya, banyak orang tak sadar memiliki masalah jantung hingga muncul serangan. Sebab gejalanya sering kali tidak muncul sehingga banyak orang tak sadar ada masalah pada jantungnya.

Mengapa orang bisa terkena penyakit jantung? Para ahli mengatakan, masalah jantung bisa disebabkan oleh kelainan bawaan, genetik, dan gaya hidup yang tidak sehat.

Dan, risiko yang dapat meningkatkan penyakit jantung antara lain merokok, minum alkohol, berat badan berlebih atau obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol, stres, penyumbatan aliran pernapasan, hingga kurang aktif bergerak.

Nyata disebutkan, rokok menjadi salah satu faktor risiko. Nah, tidakkah sebaiknya kita berterimakasih atas wacana pemerintah menaikkan harga rokok hingga Rp50 ribu per bungkus?

Kita tahu, wacana itu sangat heboh, penuh pro dan kontra, bahkan mendapatkan pembahasan lebih dari porsi yang kita duga. Wajar, sebab jumlah perokok aktif di Indonesia sangat tinggi. Orang yang menggantungkan hidupnya dari rokok, mulai dari pengusaha, distributor, pedagang, buruh pabrik, petani tembakau dll, juga sangat besar jumlahnya, sehingga isu kenaikan harga rokok pun melambung tinggi. Pembahasan menyebar sesuai konteks kehidupan masing-masing, tak terkecuali perokok.

Perokok berat yang bisa menghabiskan 3-4 bungkus sehari, tentulah merinding dan ngeri membayangkan harga itu. Mereka juga pasti ngeri membayangkan upaya apa yang akan dilakukan agar bisa berhenti merokok? Apakah harus mengasosiasikan diri sebagai orang yang sudah terkena gejala serangan jantung?

Sebab, sebuah sumber sangat jelas mengutip Anhari Achadi bahwa tujuan dari wacana kenaikan cukai rokok hingga dua kali lipat atau menjadi Rp50 ribu per bungkus, bertujuan untuk menyelamatkan generasi muda dari berbagai macam penyakit.

Anhari menyebutkan, banyak penyakit yang disebabkan oleh rokok, seperti diabetes, serangan jantung, impotensi dan lainnya yang menyebabkan generasi muda ke depannya tidak lagi produktif dan tidak sehat.

"Merokok menyebabkan terganggunya kesehatan, saya ingin mengingatkan tujuan bukan saat ini, tetapi masa yang akan datang. Kalau tidak, kita akan memiliki generasi yang sakit-sakitan, kita tidak memiliki penduduk yang produktif dan berkualitas, kita ingin generasi ke depan sehat, produktif dan bisa berperan pada pembangunan bangsa," ujar Anhari dalam acara Polemik Radio Sindo Trijaya Network di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu 27 Agustus 2016.

Soal dalih dan motif ekonomi nasional, biarlah tuan-tuan di kabinet itu yang membahasnya. Pertanyaannya, apakah generasi muda Indonesia tidak produktif karena memang disebabkan rokok? Apakah merosotnya prestasi atlet-atlet kita di ajang-ajang internasional juga berkaitan dengan rokok? Apakah produktivitas generasi muda bisa semena-mena dikukur dengan budaya rokok dan merokok?

Entahlah! Yang pasti, perolehan medali kontingen kita di Olimpiade 2016 sungguh jauh dari harapan. Dan pada sejumlah atlet, rokok memang kenyataan yang menyakitkan. Saya banyak tahu anak-anak berusia muda yang bercita-cita jadi atlet, tekun latihan, mimpi sangat tinggi, tapi setiap kali selesai bertanding atau latihan, mereka langsung mencari rokok. Bahkan pemain sepakbola lokal konon ada yang merokok di ruang ganti. Bagaimana mau berprestasi?

Baiklah, mari bertekad: SELAMATKAN JANTUNG MASING-MASING, selamatkan Indonesia. (Panda MT Siallagan) ***

Friday, August 26, 2016

Lalu, Baju Setengah Jadi Itu Mereka Sebut Yukensi


Sehelai tikar anyaman pandan digelar di bawah pohon rambutan. Sekelompok perempuan merumpi atau markombur di atasnya dengan beragam polah: ada yang tidur-tiduran, duduk berselonjor kaki, atau telentang menghadap langit. Sejuk dan teduh. Angin desa yang berhembus dari bebukitan, terasa lembut melengkapkan segalanya.

Ilustrasi.
Itulah salah satu model gosip kaum perempuan desa yang saya kenang di masa kanak yang murni. Dan biasanya, itu terjadi pada hari Minggu atau hari libur lainnya, sebab pada hari biasa mereka sibuk menguras peluh, mengurus ladang. Hal-hal yang meluncur sebagai topik diskusi biasanya  berpusar pada harga sembako, biaya produksi, harga jual komoditi, atau sekadar berbincang tentang anak-anak yang merantau dan menuntut ilmu di kota.

Kini pemandangan semacam itu sudah sulit ditemukan: televisi sudah masuk desa, kaum ibu mulai paham infotainment bahkan mulai candu pada sinetron. Perlahan-lahan, mereka mulai jarang berkumpul. Dan pohon-pohon di pekarangan rumah mulai terlupa. Sejak itu, satu sama lain mulai merasa terasing dan semakin mudah saling curiga.

Gaya hidup kota, denyut modernitas atau laku postmodern, mulai merangsek sebagaimana dihasratkan kapitalisme. Dan suami-suami yang tadinya lekat pada sahaja warung kopi, mulai tergiur merambah hutan, menjual batang batang kayu, atau manghabisi liukan rotan di hutan-hutan yang hijau dan basah. Bertahun-tahun kemudian, kita terkejut merasakan cuaca dan iklim yang tadinya sejuk, kini mendera kita dengan hawa panas.

Produsen kulkas merambah dan terus memperluas pasar, juga kipas angin. Mesin pendingin udara atau AC, ikut ambil bagian bersamaan dengan datangnya kabel dan tiang listrik. Kaum ibu desa, mau tidak mau, harus belajar lagi mengenakan pakaian ‘setengah jadi’ akibat cuaca panas. ‘Pakaian setengah jadi’ itu mereka sebut yukensi. Hmmm....

Begitulah pembangunan, industrialisasi dan modernisasi menunjukkan wajahnya. Dan kini, kaum intelektual kota ikut pula cari makan atau berbisnis dengan rekayasa isu global warming. Tentu, perempuan ikut jadi isu mahal, bias jender terus digugat, feminisme terus diproduksi sebagai wacana. Maka jangan heran, lipstik masuk desa kini berperan besar melenyapkan tradisi makan sirih di kalangan perempuan desa. Betapa kacaunya!

Imajinasi saya begitu saja bergerak mencomot pohon dan perempuan. Kita telah begitu banyak belajar dari kedua hal ini. Seseorang yang kehilangan jati diri, baik dari tujuan, norma dan adat istiadat, kerap diistilahkan sebagai kehilangan akar. Seseorang yang jatuh atau sengaja dijatuhkan dengan pelbagai trik fitnah, kerap membentengi diri dengan pepatah, “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus." Lalu, sebuah petuah akan selalu lekat di ingatan, “jika kau ingin ditinggikan, lentur dan lembutlah seperti pucuk pohon, jangan serupa batang yang keras dan kaku.”

Kita tahu, setiap ibu yang pernah menganut petuah itu, akan menanamkan juga nilai-nilai itu pada anak-anaknya, pada generasi baru yang diharap bisa menegakkan marwah keluarga. Seberapa panjangkah pusaran hidup ini? Pada akhirnya, tentang kematian atau kebenaran, kita diingatkan bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Sampai di sini, kita patut merenung, jangan-jangan seluruh persoalan hidup sesungguhnya sudah selesai ketika kita berhasil mencintai pohon dan perempuan. Bah!

Demikian memang, pohon menawarkan kepada kita kelembutan yang tiada habis, tapi ia juga menyimpan bahaya. Negara hampir tak pernah tenang karena pohon. Kita tentu ingat bagaimana ribuan petani terusir dan terampas kehidupannya karena pohon, dituding melakukan illegal loging atau merambah hutan. Mereka tercerai berai, lalu meneruskan hidup yang selanjutnya tak pernah kita saksikan lagi. Setelah mereka ditangkap, dipenjara, lalu bebas lagi, kita tak pernah bertanya, ke mana mereka pergi setelah itu? Kita hanya tahu, meski mungkin tak pernah menyadari, bagi mereka hidup terus berjalan dan bagaimana mereka menyiasati derita, negara tak pernah peduli.

Para perempuan yang suaminya ditangkap itu, betapa ngilu: mereka harus tampil sebagai pahlawan membela darah dan marwah keluarga. Dan, keteguhan dan kehancuran berada di tangan para perempuan ini. Dan politik jeli melihat peluang dari sisi ini. Iblis juga sangat cermat mempelajari rumus ini. Maka pelacuran kian menggila dengan bermacam kedok, penjahat-penjahat berdasi kerap memperalat perempuan memuluskan ambisi atau menghancurkan lawan. Dan kita hampir terkecoh, perempuan-perempuan yang diidentifikasi sebagai pahlawan seringkali hanya bentuk paling lembut dari kejahatan kapitalisme.

Dan ajaibnya, perempuan cantik atau artis yang sekilas bicara tentang lingkungan, selalu lebih terkenal ketimbang kaum agamawan dan guru-guru yang menyerahkan hidupnya menjaga desa dan lingkungan terpencil. Begitulah, kota-kota kian gersang. Dan kenyataan itu merongrong keteguhan dan kepekaan kita sebagai manusia, sebab kita juga mulai ikut menghabisi pohon-pohon demi hedonisme yang ditularkan kapitalisme. Tapi kita tahu, Negara tak pernah menjadi gemilang hanya karena kesedihan dan kesepian sekelompok jiwa yang terbatas. (Panda MT Siallagan)***

Tuesday, August 23, 2016

Marsiadapari, Terharu Mengenang Kehangatannya

Ketika fajar pagi bersinar, sayup-sayup terdengar suara itu: "Beta hamu bo, Beta hamu, dongan! (Ayo, ayo teman-teman). Itu artinya, satu per satu warga desa mulai bergegas ke sawah atau ke ladang. Dan mereka saling mengajak satu sama lain.

Foto/Internet
Sawah atau ladang tujuan mereka tentu sama. Milik seorang warga. Ya, mereka akan bergotong royong menuai atau memanen padi milik salah seorang warga. Gotong royong itulah yang dinamai marsiadapari.

Saya beruntung pada masa kanak yang jauh itu masih sempat menyaksikan dan menikmati kebersamaan dan hangatnya tradisi marsiadapari itu. Satu hal yang selalu mengagumkan dikenang: betapa mufakatnya warga desa, betapa tulus bekerja, betapa tingginya tanggungjawab, dan senantiasa penuh keriangan.

Mufakat dalam kegiatan marsiadapari sudah dimulai sejak penentuan jadwal. Misalnya tanggal sekian ke sawah si A, tanggal sekian ke ladang si B, dan seterusnya. Maka, sesama warga desa akan saling memberitahu jadwal itu. Adakalanya, pada malam hari, tuan rumah atau si empunya sawah datang lagi ke rumah teman-teman sedesa mengingatkan. "Unang lupa da, sogot tu hami (jangan lupa ya, besok ke kami)."

Begitupun keesokan harinya, saat fajar pagi bersinar, mereka saling mengajak.

Satu hal paling saya ingat, setiap jadwal marsiadapari masuk giliran ke sawah kami, baik menuai maupun memanen, maka jiwa akan bergembira. Sebab, pada hari itu, ibu akan memasak makanan enak. Sebab begitu lazimnya, saat gotong royong menuai padi, wajib bagi tuan rumah menyiapkan makan siang. Dan acara makan siang ini juga menyuguhkan kisah indah. Sebab acara makan siang biasanya berlangsung di dangau atau sekitar dangau dengan hanya menghamparkan tikar atau pelepah daun pisang. Makan di ruang terbuka dengan angin berhembus semilir, alangkah indah.

Lain lagi jika acara marsiadapari memanen padi. Untuk acara panen, maka mulai sarapan, makan siang hingga makan malam, semua disiapkan tuan rumah. Setelah padi diangkut ke rumah dan ditaruh di lumbung, malam harinya adalah jamuan makan bersama seluruh warga yang ikut marsiadapari. Dan biasanya ini adalah puncak, maka menu makanan pun tersaji lebih istimewa. Ini kelaziman di desa kami, di desa lain mungkin saja berbeda.


Saya selalu terharu mengenang kehangatan itu. Kini, di desa kami yang sesungguhnya masih sunyi itu, hal serupa sudah tak mungkin ditemukan lagi. Banyak hal yang menyebabkan tradisi itu pudar. Areal persawahan kini sudah banyak beralih fungsi jadi lahan darat, diganti dengan tanaman kakao atau kelapa sawit. Masyarakat makin individualistis.

Pudarnya tradisi marsiadapari juga sejalan dengan membaiknya perekonomian desa. Warga yang punya uang, perlahan-lahan mulai enggan ikut marsiadapari. Ketika lahan atau sawahnya memasuki masa tanam atau panen, ia mulai mencari orang untuk diupahkan. Sejak itu pula, muncul istilah manggaji (mengambil gaji ke ladang orang).

Perubahan ini kemudian memunculkan kelas sosial masyarakat di pedesaan. Warga yang sering mengupahkan orang lain mengelola sawah atau ladangnya, dianggap lebih kuat secara finansial. Celakanya, muncul kemudian golongan yang dari hari ke hari pekerjaannya manggaji. Mereka tidak lagi mengerjakan ladangnya. Golongan ini umumnya memang tak punya lahan, tapi menyewa atau mengontrak. Daripada menyewa, setelah fenomena manggaji itu muncul, mereka ebih memilih manggaji dari hari ke hari.

Demikianlah zaman terus berkembang, hingga sektor dagang mulai merayap ke desa-desa. Jenis pekerjaan masyaralat juga makin heterogen. Dan itu menyebabkan tradisi marsiadapari kian jauh terlupakan.

Sesungguhnya, bagi suku Batak, marsiadapari adalah tradisi luhur yang sudah sejak lama dipraktekkan nenek moyang. Konon, tradisi marsiadapari ini bermula dari gotong rotong dalam kegiatan pesta adat. Belakangan, kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka saling bantu antara warga ketika musim panen atau musim tanam (marsuan).

Dalam konteks yang lebih luas, marsiadapari sesungguhnya memiliki makna sama dengan semboyan bangsa kita, yaitu "gotong royong". Dengan demikian, bukan hanya orang Batak yang memiliki tradisi marsiadapari. Suku-suku lain juga memiliki tradisi yang sama. Sub etnis Batak seperti Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing, juga menjalankan tradisi ini dengan nama berbeda-beda.

Kini, tradisi itu kian pudar dan sepertinya akan segera hilang. Namun, saya yakin, generasi baru bisa mengenang tradisi ini untuk diambil nilai-nilanya sebagai pedoman menjalani kehidupan modern. Paling tidak, kebersamaan yang kian menipis di tanah rantau bisa ditimbang-timbang di atas kenangan atas marsiadapari. (Panda MT Siallagan)***

Friday, August 19, 2016

Saat Itu, Kesedihan Sangat Merajam


Sebuah kapal merapat ke dermaga sekitar pukul 02.00 WIB dinihari. Pelabuhan terasa sunyi, meski orang-orang hiruk-pikuk. Ketika para penumpang hambur dan berlarian dari kapal, kesedihan sangat merajam. Tangisan terdengar dari berbagai sudut. Jiwa terguncang. Saya lemas. Bau mayat menyergap. Saya berlari menangkap dua anak kecil yang sudah lunglai.

Ilustrasi
Itu peristiwa bertahun-tahun lalu di Pelabuhan Sibolga, sesaat setelah gempa dan tsunami dahsyat yang menewaskan ratusan ribuan orang. Saya berada di pelabuhan itu untuk menjemput anggota keluarga yang mengungsi dari Nias. Sejak pukul 20.00 WIB, kami sudah berada di teluk Tapian Nauli itu karena kabar menyatakan, pukul 21.00 WIB kapal pengungsi akan tiba. Keresahan sempat mendera ketika komunikasi terputus.

Saat itu, gempa susulan dan cuaca yang labil dimungkinkan memicu badai. Akhirnya, ketika kapal muncul, kebahagiaan terasa memuncak dan kehidupan seolah berdenyut lagi. Kekasih saya (kini sudah jadi istri), sempat lelap di pangkuan karena kelelahan. Jalan darat Siantar-Sibolga bukan hal yang mudah dilalui dengan bis butut apalagi karakter supir sedikit ugal-ugalan.

Selalu, sejak dulu hingga waktu-waktu mendatang, kita masih akan selalu berhadapan dengan bencana. Dan setiap kali bencana muncul, terutama gempa, ingatan segera terlempar ke Aceh atau Nias. Dan setiap itu pula telepon diarahkan ke pulau atau tempat-tempat jauh yang dilanda gempa. Ketika telepon tak tersambung, rasa khawatir mencengkeram. Tapi ajaibnya, alam mengajarkan manusia memahami rasa sakit.

Ketika sebuah pesan tiba: 'di sini kami baik-baik saja', hati lantas lega dan kita sejenak tersenyum. Tersenyum mengingat hal-hal tak masuk akal, sebab kadang-kadang, kita tak pernah lagi menjalin komunikasi dengan anggota keluarga dan para sahabat di tempat yang jauh, tapi bencana sering membuat kita tergerak saling sapa, bahkan saling mengkhawatirkan. Betapa tak menariknya hidup semacam ini.

Demikianlah, hanya hitungan detik setelah bencana, biasanya hampir seluruh status media sosial (medsos) bicara bencana. Saya membayangkan kata-kata yang berhamburan di medsos itu seperti teriakan orang-orang ketika berlari dan berhamburan dari ruangan. Dan tak lama kemudian, situs berita ramai-ramai diakses. Semua berlomba mengabarkan informasi terbaru. Semua saling rebut membagikan kabar itu.

Betapa ajaibnya, betapa produktifnya orang-orang berbagi rasa. Di sini teknologi tiba-tiba hadir sebagai sosok perekat sosial. Sejenak, segala sindiran, kecaman dan keluhan, menjadi musnah. Ya, kepedulian sesama, kesadaran kolektif yang menyeruak itu mengingatkan bahwa kita memang mahluk sosial.

Sebuah kisah mengharukan pernah terjadi antara dua karyawan sebuah perusahaan. Sehari-hari, dua karyawan ini tak pernah saling sapa meski mereka bekerja di satu ruangan. Waktu berlalu disedot rutinitas, jam istirahat habis dirampas blackberry atau smartphone. Tapi saat gempa terjadi, dua karyawan itu tiba-tiba saling tatap, bingung, terombang-ambing antara mimpi dan kenyataan.

Lalu mereka saling sapa, "Gempa, ya?"

"Ya, gempa."

Sama-sama mereka berlari dari lantai atas, saling menuntun, lalu saling bicara tentang apa yang baru saja terjadi. Demikianlah terjadi di hampir semua tempat. Ketika orang-orang berkerumun usai gempa, mereka bercerita satu sama lain. Tetangga berbagi pengalaman, berlomba bicara: mulai dari derit pintu, lampu yang bergoyang, tas jatuh dari atas lemari, juga hal-hal paling privat. Ada yang tak malu-malu bercerita, dia sedang jongkok di kloset saat getaran itu muncul, buru-buru dia lari dari kamar mandi.

Lagi-lagi saya terharu dan kembali menyakini bahwa sisi kebaikan paling murni tak akan pernah hilang dari jiwa manusia, dan itu selalu muncul dalam kondisi-kondisi genting. Seseorang yang menyaksikan anak jatuh ke sumur, secara spontan akan berteriak dan memanggil orang-orang untuk bersama-sama menyelamatkan. Seseorang yang menyaksikan kecelakaan di jalan raya, spontan histeris dan berlari menolong, atau sekadar gemetar menyaksikan peristiwa itu dengan dada terguncang. Dan pengungsian kerap menjabarkan rasa hangat kolektif itu secara menakjubkan.

Kita juga sering menjumpai beberapa anggota ormas atau mahasiswa berdiri di jalan-jalan untuk menggalang dana bagi korban bencana. Tetapi, mengapa dalam kondisi normal potensi kebaikan kolektif itu seolah lenyap? Lalu, kitapun kembali pasrah disuguhi informasi tentang sejumlah orang yang tewas akibat bencana.

Setelah itu, sepi mendera lagi. Mungkin, individu-individu yang tadinya sempat beramah tamah dan bicara, akan kembali tak saling sapa. Dan kita kembali sibuk, saling kecam, saling sikut, saling sindir dan saling protes, bahkan saling menjatuhkan. Kota adalah contoh yang baik untuk saling kecam. Bagaimanapun, pemimpin yang hanya tahu 'merepet' adalah gambaran paling nyata yang kita catat: kekuasaan tak pernah benar-benar memuliakan kemanusiaan. (Panda MT Siallagan)***