Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, April 13, 2017

Puisi-puisi Penyair Indonesia tentang Paskah

Gerson Poyk

Via Dolorosa


makin terasa ada kesementaraan
berbunga dalam dada
bila kematian tadi di bayang sendiri
tanah kelahiran selalu menerima kepedihan umur
sampai pun suara seru: aku pun pergi tua selalu tersua
matahari pasir

aku pun ingin kembali, wahau matahari mawar
tinggal kini seberkas cahaya di mesin desis
dalam keinginan berjaga keinginan membela
mata yang kulalui genangan rawa tepi kota yang bengis
dengan sisa iman yang terkikis oleh tangis
kuterbang dari jiwa yang mengambang di rawa kota yang jauh
sebab sayatan ratap pedih diri sendiri
dosa dan binasa pernah padanya berkecup ramah
mengajak kembali ke tanah lahir yang menerima kepediman umur

wahai udara yang berdarah pengorbanan
dalam segala ruang, detik dan ketiadaan
sampai pun terbongkar hancur satu elektron oleh pencari
engkau masih buat apa bagi yang belum puas terima

Sumber: Dari Rote ke Iowa (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2016)

Ilustrasi.

Sitor Situmorang

CHATEDRALE DE CHARTRES


Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih

Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat

Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata

Ketika malam itu sebebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
TErsedu ia dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis

Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu

Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah kisah hari Pasah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan siteri yang setia
Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
BErsatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lamabaian cinta setia dan pelukan perempuan

.....Demikianlah
.....Cerita Pasah
.....Ketika tanah basah
.....Air mata resah
.....Dan bunga-bunga merekah
.....Di bumi Perancis
.....Di bumi manis
.....Ketika Kristus disalibkan

1953


Joko Pinurbo

Celana Ibu


Maria sangat sedih
menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati,
pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa
celana yang dijahitnya sendiri
dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas!” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

(2004)


Chairil Anwar

ISA


          kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar Tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

12 November 1943

Wednesday, February 15, 2017

Puisi-puisi Panda MT Siallagan


Ornamen cicak dan adop-adop.

Lahir

Bertahun-tahun ia bertanya, pergi ke mana
airmata yang dulu sering melintas
pada masa kecilnya. Dan bertahun-tahun
ia tak menemukan kabar hingga ia pergi
meninggalkan rumah dan sebuah pesan
di palang pintu: tak ada ruang untuk tangisan.

Lalu bertahun-tahun ia mengembara mencari doa
yang pergi dari masa kecilnya. Bertahun-tahun ia
tak menemukan doa hingga akhirnya bertapa
di sebuah rumah dan memalang pintu
dengan sebuah pesan: doa sudah hijrah.

Dan di relung semedi, sungai mengalir dari matanya,
melarung daun-daun yang ia kenal pada masa kecil,
melarung nafas bapa-ibu dari tepian pemandian.
Ia sesenggukan, "Tuhan, terimakasih
untuk lingkaran ini," katanya.

Sejak itu, ia bahagia membayangkan tahun-tahun
akan berlangsung dibasuh airmata, 
digulung doa-doa.

Pematangsiantar, 2016

Kembali

Seekor cicak melompat dari rak buku,
terhempas ke lantai,
dan lari terseok-seok
menyeret luka ke balik lemari buku.
Dan terdengar ketukan ganjil di pintu,
seperti bunyi cicak menelan sepi.
Seorang penyair keluar dari mimpi,
beranjak membuka pintu. Klek.

Di luar, malam telentang tanpa beban,
terhampar tanpa teman. Tak sesiapa sedang datang.
Penyair menutup pintu. Klek.
Dan kembali berbaring meniduri mimpi.

Tapi terdengar lagi bunyi celepuk di tepi ranjang,
membuat penyair itu benar-benar terjaga.
Seekor cicak tersadai.
Pintu rak terbuka, sebuah buku tergeletak di lantai.
"Siapakah yang ingin mencuri kata-kata," gumamnya.

Matanya masih berat digenggam kantuk.
Setengah sadar, ia buka pintu rak,
matanya terhenyak,
merayap dari buku ke buku.
Cicak-cicak tersentak,
berlarian dari celah buku-buku,
seolah merayu hatinya
membaca lagi sajak-sajak.

Ia raih sebuah buku. Ia baca judulnya: buku mati kesepian.
Dan seekor cicak melompat saat lembar pertama disibak,
penyair itu pingsan.

Di dalam mimpi, ia membuka pintu. Klek.
Lalu pergi setelah doa pendek
melompat dari mulutnya,
"Maafkan aku, buku-buku yang baik.
Hidup masih membutuhkanku."

Pematangsiantar, 2016

Wednesday, December 14, 2016

Kau Cuma Dengkur, Pencemar Udara Sunyi

Sajak-sajak Panda MT Siallagan

Ilustrasi
SAJAK BUTA

Jadi begitu, ia sobek-sobek bulan itu mencari benang mantera, begitu caranya meluncur ke dasar kabut, mencari butir-butir doa ke benua tengah, menuruni sobekan-sobekan kata yang melilit tunas mimpi di pot bunga yang sunyi. Begitu.

Pematangsiantar 2016

SAJAK PENJARA

sunyi meruncing,
bergasing-gasing jadi puisi
menggergaji jeruji bui:
birahi kita yang rimba
maka pohon-pohon tumbang
hanyut serupa mimpi
di sungai birahi
yang meraung-raung
di dalam jantungmu

dan ketika hasrat menumpuk
di jurang kembara
kubangun jembatan
dengan pahatan luka
kudatang padamu
dengan jiwa menganga

ah, telah pecah benar
nafasku menanti, katamu
dan suaramu menyalakan api
oh kau yang bermain api
harus kulemparkah matahari
ke ranjangmu?
oh kau yang meyeruku datang
haruskah kau kudekap dengan neraka?

tapi aku telah datang padamu
dengan jiwa menganga
tidak cukupkah tangisku
memadamkan kobar luka di kelaminmu?

Pekanbaru, 2004

SAJAK KURSI

Coba tinggalkan otakmu
yang tak bertubuh itu, atau
kuburkan tubuhmu
yang tak punya betis itu.
Kau akan lihat burung-burung
terbang tanpa sayap,
kau akan saksikan
dirimu seperti kursi
tanpa kaki. Coba,
kau akan merasakan dengkulmu
mengunyah otakmu, maka terfirmanlah:
kau cuma dengkur,
pencemar udara sunyi
di malam-malam
yang
j
a
t
u
h
jadi kencing.

Pematangsiantar, 2016

Saturday, December 10, 2016

Sajak Pulang


Oleh Panda MT Siallagan

Ilustrasi.
Ketika bulan pecah di kaca jendela, kuputuskan jaga. Meski malam mengapung, kukemasi sisa sunyi dari kolong ranjang dan mengepak semua luka dan derita. Kubersihkan kamar agar tak ada kenangan tertinggal. Aku akan pergi meski menggigil raga disiksa hujan. Kubawa foto-foto, surat-surat, pakaian bekas, juga sisa parfum agar rumah tak sedih mengenang aroma peluh dan lapuk tubuh, agar ada pintu kelak untuk masuk dan bermain-main dengan kenangan itu. Perlahan kubuka pintu meski malam semakin koyak dicabik dingin. Kupakai sepatu dan baju terbaru, sejenak menyapa diri di muka cermin, dan kulihat mataku sudah buta dikerat rindu, kutahu kepulangan adalah obat paling manjur. Akan kutinggalkan rumah itu meski malam hancur dicambuk petir dan jalanan tenggelam. Sejenak aku beku di depan pintu mengingat apakah masih ada masa lalu yang harus dibawa atau apakah masih ada kenangan yang perlu dirawat sehingga aku perlu membatalkan kepulangan. Tapi tidak, semua sudah tanpa masa depan dan aku harus meninggalkan waktu meski malam sangat sembab dan hujan menyerbu tubuhku dengan ribuan jarum. Tak apa, aku harus berangkat. Aku berjalan sambil berperang dengan ingatan sambil berkhayal tentang masadepan sambil tersenyum membayangkan betapa bahagia tiba di tanah asal. Aku akan bercanda dengan harum bukit dan lembah-lembah. Aku berjalan mengganti malam dengan subuh dan mengusir subuh jadi rembang tapi hujan tak kunjung kering sampai kutahu akulah yang menangis antara sedih meninggalkan masalalu dan riang menuju rumah lama demi kehidupan baru. Pagi pun tiba. Aku mulai bertanya seberapa jauh telah mengembara sebab terlalu lelah aku berkelana. Matahari memercikkan api di mana-mana. Kuputuskan tidur. Meski panas menyengat, kupanggil semua suara dan keriuhan masa lalu agar aku tahu seberapa beku hatiku pada kerusuhan dan aku akan bermimpi di antara hujatan orang-orang. Kuhirup warna kota-kota dalam mimpi meski matahari makin tajam menikam tanah meski raungan kendaraan menyayat-nyayat peradaban, aku terus bermimpi dan tidur membunuh pagi, menghidupkan siang dan memanggil senja. Kini aku bangun dan kembali berjalan membawa tubuh yang telah berlalu menuju asal dan perjalanan berakhir ketika bulan pecah di atas nisan bertulis namaku. Selamat rehat!

Pematangsiantar, Juni 2009

Saturday, November 12, 2016

Luka Harus Dijahit Sebelum Cinta Lepas Jadi Dongeng


Puisi-puisi Panda MT Siallagan
Ilustrasi.

Kemarau

Sejak Kau buka tingkap,
detak jantungnya meluncur
bagai embun luruh dari dedaun
pulang mengetuk pori tanah
menunggu matahari

Sejak Kau buka tingkap,
debar jantung resap ke akar
menanam aroma mawar
sedalam hening, menunggu

Maka sebelum matahari tumbuh
jadi duri, bakar daun-daun itu
agar doa-doa membubung,
menjemput hujan. Sebab luka
harus dijahit sebelum cinta
lepas jadi dongeng

Sejak Kau buka tingkap,
detak jantung meluncur
meninggalkan pagi
di hamparan daun-daun.

Lalu kau buka tingkap,
memanggil matahari.
Aku pulang, menunggu hujan

2016

Gembala

Akar meringis tentang gerimis yang terkulai di kelopak bunga: mengapa segalanya kau patahkan di rahang kerbau? Sahut gembala itu: sebab kupu-kupu tak tahu jalan menolak madu.

Dan ia bertanya mengapa seruling bambu meniup kidung dari akar yang tercerabut? Alunan jantung bocah itu menggema, alunan yang dilempar ke mulut gunung: sebab pepohonan melepas jua waktu, pada daun-daun.

Sejak itu ia tidur, katanya: nyanyianku telah merabuk demi jiwa yang retak menerka jejak. Seperti kita, ranting dan daun-daun ziarah jua, menjunjung tunas. Maka, akar menjadi mafhum luka hatinya. Kerbau mahfum sepinya.

Pematangsiantar, 2016 

Nubuat

Air menulis syair kepada sungai: kau tak bisa memaksa orang mencinta dan menciptamu sebulat bulan dan setinggi malam. Sebab bagi burung yang birahi, kesetiaan adalah sangkar pengap yang bersiap diacak badai.

Maka bulan hanyut, telanjang bagai kumbang, dan burung-burung memetik kematian dari jemarimu. Aroma lumut pergi selama-lamanya. Tabahlah, kelopak bunga sudah gugur dan warna membeku jadi bangkai.

Sejak itu, angin melemparkan sejarah busuk ke mulutmu. Itulah giliranmu menelan, melarung kutuk ke dalam perut. Selanjutnya adalah surga, aroma liar candu, yang memeluk takdir sedingin batu.

Sungai menulis sajak kepada air: diamlah, ijinkan kumakan segala ikan, merayakan orang-orang yang lupa.

2010-2015

Wednesday, November 9, 2016

Sajak-sajak Panda MT Siallagan


Sunyi

Tubuh renta, merayap lamban
Dilumat hujan
Hentak kaki di pematang
Katak-katak melompat
Petani tinggalkan
senja basah

Juni 2009
 
Ilustrasi.
Lagu Petani

Gemerisik penggorengan di kuali
Perlahan padam, dan mendingin
Matahari menghapus subuh,
aroma belacan mencumbu udara
Tungku dan periuk kembali beku,
pohon dan rumput menghisap asap,
lalu hening.
Gubuk-gubuk tidur,
membebaskan ladang dan sawah
mengurai mimpi

Maka cangkul, bajak,
ciuman air pada batang padi,
pupuk dan pestisida,
jerit rumput ditepi,
riang tanaman disiangi,
menari bersama burung

Pematangsiantar, Juni 2009

Surga

Tubuh ini tiada lagi berdarah,
Tikamilah!
Suatu kali badai
menerbangkan rumah
Atau mencabik akar pepohonan,
tumbang tanpa keluh

Deru angin, atau buncah air
Tak sobek oleh tebasan pedang
Sudah lama kehampaan itu,
Sejak kau ludahkan hatimu
Tikamlah, sampai kau lelah

Bukan ihwal darah
Bukan upacara bunuh diri
Cuma secuil nyanyi hati
Terbang murni
Sepercik memecah bulan
Maka kelam kutelan
Obat dendam
Tikamlah, kubuai kau dalam doa

Pematangsiantar, Juni 2009


Hilang

Sungai dulu
kukenang jernih
Langit tersenyum
di dasar batu-batu
Kini tiada bisa lagi
bercermin kau

Pematangsiantar, 2009

Saturday, November 5, 2016

Pengantin Kelelawar

Sajak-sajak Panda MT Siallagan

Ilustrasi.

Pengantin Kelelawar

Sebagai sepasang sunyi, kami menjelma sepasang kelelawar di malam luka. Inilah musimnya bersetubuh dengan dingin. Kami bersidekap dengan uap darah, sebab bau angin yang ditikami sepi telah menggenapi hasrat sepanjang nafas. Lenguh mengalun, memekarkan bunga-bunga.

Tapi di taman puisi, matahari yang pernah terbit dari matamu kini mati menekuri cahaya yang pecah dari kerut dahi. Dan gugur bunga meremah jadi puing waktu. Sesungguhnyalah kamar pengantin sudah layu diremuk gelap yang menimbun dendam dalam kepala.

Tapi anak-anak harus tumbuh jua dari lubang luka, agar taman lain mekar dari guyuran darah. Kami memeras kata-kata dari peluh. Kami ingin melukis luka dengan sajak berwarna tangis anak-anak.

Setelahnya, mungkin tubuh-tubuh akan tersisa jadi ampas birahi. Tak usah resah, bakal hanyut segalanya dengan airmata. Dan dari setiap muara, camar akan mengirimkan endapan hati sebagai salam karang, dan membesarkan hati anak-anak dengan darah dan luka.

Pekanbaru, 2005
 

Seperti Sedang Berlari

Aku mendekapMu seperti sedang berlari menjauhiMu. Hatiku tersayat di taman yang basah diguyur peluh. Dan saat aku seperti berlari menjauhiMu ketika memerengkuhMu, kutemukan bayangku sedang bersanding dengan bunga-bunga: bocah kecil menyusu luka di dada ibunya.

Pekanbaru, 2005

Upacara Darah

Detak jam di dinding kamar menetes-nesteskan darah. Mungkin seusai upacara yang meriah, sunyiku dan sunyimu memendam marah, berkelana sepanjang arah. Lalu terjebak di mulut anjing yang menyalak. Sunyiku dan sunyimu tercabik, serupa waktu yang tertikam. Di tubuhku tubuhmu.

Pekanbaru 2005

Sunday, October 30, 2016

Saat Mengenangmu dengan Mantera-mantera


Puisi-puisi Panda MT Siallagan


Ilustrasi.
Menjenguk Godot

Tiga ikan lele, dinamai seperti ini: tanah, udara dan langit
Tanah untuk darah, udara untuk luka. Dan langit untuk roh.

Pagi itu, pembunuhan seolah terjadi untuk pertama kali
Maka ritual dimulai dengan tangis. Mulut pisau merintih:
“Maafkan, kelak kita pasti bersua. Aku akan menjengukmu.”

Ikan lele pertama menggelepar. Serupa gempa. Tapi sunyi:
jikalau tanah retak, saat itulah dosa ditanggalkan,
bumbu-bumbu menunggu dengan tenang. Tak perlu isak itu
Si bermula tanah tak mesti kembali ke tanah

Darah di bibir pisau mengasah rasa lapar
Berapa lamakah tragedi ini akan rampung?
Jemari di gagang pisau mengerang:
“Maafkan aku, kita berpisah. Kelak kita pasti bersua.”

Ikan lele kedua meradang. Serupa petir. Sebait wahyu berkelebat:
jikalau si pembunuh tak dihukum, saat itulah nyawa bersandar
pada lidah api, seperti kuali menanti sesaji dari jiwa koki. Usah sepi
Yang bernafas tak mesti abadi pada udara

Pemilik pisau gemetar, tegun dipermainankan takdir,
airmatanya meringis: “Maafkan aku, Tuhan menyayangimu.”

Ikan lele ketiga berteriak, “Kau membunuhku dengan lembut,
seperti dapur menyumbat takdir para babu.”

Seseorang menangis pagi itu, kehilangan dirinya,
seolah pembunuhan baru pertama kali terjadi
“Aku bukan pemuja api, dan tak ingin terbakar,” katanya.

Lalu seseorang itu pergi, mencari sosoknya yang hilang,
entah pada api atau kuali, bertanya mengapa pada pagi itu
kesedihan teramat menggigit. Tiga ekor lele menyambut
seharum tanah, sehangat udara, sebening langit,
tapi yang termasuki hanya roh-roh sepi

Ikan lele pertama diam di antara bumbu, merayakan ajal:
yang bermula dari tanah sesekali remuk jua di rongga
yang tiada mengenal lumpur.  Ikan lele kedua kelu
di dinding kuali, merayakan makam: biarlah,
adakala yang bernafas terkubur di lindap perut
Ikan lele ketiga bisu, menghayati kematian di ujung api

Pemilik kuali meraung dipermainankan takdir:
“Wahai, aku sudah datang,  Tuhan menyayangi kita.”

Pematangsiantar, 2016


Isyarat

Saat mengenangmu dengan mantera, kubiarkan burung hantu
memundak syair ke gedung tua dan gua-gua, sebab ke lubang batu
kita kelak terdampar, seperti kitab kayu merawat mitos-mitos purba
Aku ingin burung hantu memahat puisi di dinding gedung tua
dan gua-gua, agar tak sepi nanti leangleangmandi datang
membawa segumpal tanah untuk kuburan jiwa, kubiarkan burung
hantu berkuak meringkus mimpi. Mimpi yang selesai
di tanah-tanah terjanji, tanah kita berlelah merebut api,
sebab ladang-ladang sudah terkutuk di mulut padoha,
raja yang gagal jadi menantu dewa. Sungguh dengan mantera
aku mengenangmu, sebab leangleangmandi tak lebih sakti
dari merpati: budak waktu yang terkutuk di sayap puisi
dan kita bunuh diri di ujung kepak itu.  Burung hantu menari
di gedung tua dan gua-gua, dan kita memanjat puisi
yang melumut di dinding-dinding gulita, saat itulah mimpi
terdengar bagai kuak burung hantu di atas kota-kota
dan orang-orang tergelincir mengemas doa. Tapi aku
tak melihatmu dan kau tak menemukanku dalam keriuhan itu,
tapi saling dengar di antara bunyi yang mengutuk raga
jadi burung hantu meski tak sua kita dengan leangleangmandi,
tapi dalam mantera kita bersekutu lagi

Pematangsiantar, 2016

Saturday, October 29, 2016

Syair-syair Panda MT Siallagan



Ilustrasi.

Melayat Puisi

Sebuah kabar dibisikkan, menyusup lembut ke telinga,
menusuk perih ke liang jantung: tentang ari-ari di tepi dangau,
sudah usai, Tuan!

Sebilah pisau atau sembilu, meliuk-liuk di ulu hatinya, seperti ia kenang,
racun menggeletarkan tubuh tikus di tepi ladang dan pematang sawah.
Tak ada kesedihan, ia ulurkan ruhnya terbuang,  menyertai bangkai itu
ke pemakaman yang tak pernah ada.

Sejak itu, ia mencintai kematian, meski padi dan palawija
tumbuh menjunjung mimpi, menanam doa bapa-ibu di tubuh anak
yang legam dibalut cuaca. Dialah perantau yang kelak mengiris waktu,
agar mantera datu-datu tak membiusnya di jalan pulang

Lama ia bahagia menjelma bangkai tikus yang memupus
aroma belacan di lorong-lorong rantau, meninggalkan kebahagiaannya
di simpang-simpang tanpa arah, mengelana ke ceruk-ceruk firman
dan bunuh diri dalam syair-syair

Sebuah kabar dibisikkan:  telah meninggal dunia dengan tenang...!
Ia bangkit seperti ia kenang anjing jantan dipenggal ekornya,
terkaing-kaing menyeruduk segala arah, hingga tiba di pangkuan ibu
rindu pada bapak, pada Tuhan. Di hadapan pembisik itu,
ia melepas seluruh ingatan dan pergi mengikuti tangisnya

Lama, sangat lama ia meliuk, mencari-cari makam, memanggil-manggil
Cinta yang pernah ia titipkan pada bangkai tikus.  Akhirnya,
pada malam yang terburai, ia mengenal lagi sawah dan ladang-ladang
Di sisi dangau, ia temukan makam puisi masih basah. Ia menulis namanya
pada nisan yang masih kosong.

Pematangsiantar, 2016


Memoar
Kisah sedih antara monyet dan kebun
Berpisah di tepian dusun, kukitabkan

1/
Batuk burung hantu memanah bulan
Cahaya pecah, merampas aroma taman eden
Dan dari mulut ular yang terbedung lampin
Tangis pertama menggoda malam di atas dipan

2/
Ia terbit dari rahim datu putri
dari mata sembilu, diutus menyayat matahari
diutus jadi darah, menajamkan rahang singa
pemburu musang,  monyet dan para babi
yang tak kenal luka dan airmata

3/
Begini, Tuan dan Puan-puan,
singa tak butuh buah di taman itu, ia memilih mati
mengejar panglima perang di hutan penuh jampi
ketika hewan menggali jejak untuk makam musim
darahnya menyala membakar dangau

4/
Pada musim panen, ia menghardik juru mantera
dengan mata silau sembilu, mata pembelah bulan,
ia hunus monyet-monyet yang menghina ladang,
dan amarahnya menjatuhkan burung-burung dari pohon
ia sembelih jadi sesaji, diutus memuja tungku
Oh, Takdir, ia cuma kemerdekaan semut di tepi dangau
merayakan musang yang punah dikerkah panah

5/
Sejak itu, nasibnya terapung di mulut seruling
dan tanduk kerbau, meninggalkan ladang,
sebab ia gagal mengenal ibu dan harimau.
Mantera-mantera berderap: tuhan membekukan angin,
mencairkan batu-batu, membakar segala air.
Dan ia berfirman: jikalau pantun mengerang
di mulutmu, mengayuh puisi kita di rahang rantau

6/
Dan terdengarlah nyanyian nyaring,
merongrong sangkakala, mengurai kisah
perpecahan antara binatang dan kebun
di tepian dusun yang dikitabkan
dan ia bercita-cita mati jadi kecapi
menyembunyikan kabut dalam nada
di mulut para penggali makam

Pematangsiantar, 2016


Catt: Puisi dimuat dalam buku bertajuk “Matahari Cinta, Samudra Kata”, antologi puisi tertebal di Indonesia, yang diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 12 Oktober 2016 oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Antologi puisi ini disusun Rida K Liamsi dengan tebal 2016 halaman dan memuat karya dari 216 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Panda MT Siallagan salah satu penyair Batak yang menyumbangkan karya dalam buku tersebut.

Friday, October 28, 2016

Doa-doa Kepada Mulajadi Na Bolon


Puisi-puisi Panda MT Siallagan

Jampi

Sekali ingin kembali
pada takdir semula jadi
Bangun amat pagi, merapal jampi
pada Mulajadi. Di lembah semedi,
merasai lagi warna-warna bumi,
menunggang burung, meliuki gunung,
jadi mata burung, meretas jurang-jurang,
menyapa para binatang, oh...Mulajadi.
Indah kembali, pada takdir semula jadi,
siang terhayati, beringin menaungi,
menyulur khayali, akar-akar sungai,
mengintip matahari mandi-mandi,
di dasar batu, mengayuh raga sendiri,
tak berbaju bagai datu, manusia lampau,
padu pada bumi, oh… Mulajadi.
Kembangkanlah gerbang kembali
pada bius mula jadi, asali leluhur kami,
sungguh kami ingin kembali, runduk
memundak buruan ke mulut gubuk,
menyalakan tungku menunggu
malam jatuh, menyedot keluh
demi nyala kunang-kunang, dan burung
hantu mengerang, mengiring perjamuan
melahap berkah hutan di bawah rembulan,
tapi oh… Mulajadi, kami tak bisa kembali
pada sunyi lagi, di rantau jiwa kami tergari,
kota demi kota sudah sakti
mengusir jampi-jampi

Pematangsiantar, 2016

Aubade Penenun

Di lembah mimpi yang baka,
ia dengar gemuruh pesta, seperti dengkur raja,
mencabik bumi gorga. Ia terjaga
dan bersaksi tentang subuh
yang jatuh diterjang gondang bertulah.
Berapa banyak kematian hari ini?

Ia bangkit dan menenun kicauan burung,
sebab mantera tak mengijinkan ulos dibentang
terkembang di pintu rumah panggung, betatapun
tortor menuai perang di ujung zaman

Seperti itu waktu berdetak di lembah mimpinya,
ia berpesta dan mabuk menenggak sirih,
menyusuri gemerisik benang. Benang yang
menyulurkan sepi di dinding tugu-tugu
Oh, Mulajadi Na Bolon, sepanjang usia
kusulam darah, kujahit umpasa-umpasa,
mengubur waktu pada wangsit-wangsitmu,
kini mengapa aku tersalib?

Dihadang ogung dan seruling, ia terus menenun,
menenun rambut leluhur yang menari-nari
membakar upacara, memuja wahyu
pada bibir datu-datu, pada selendang di bahu,
selendang yang melayang-layang
menghembuskan akhir zaman di lembah tidurnya

Ketika riuh pesta usai, ia berhenti di makamnya,
turun ke  lembah, menenun jasadnya ke dinding batu

Pematangsiantar, 2016

Titah Tubuh

Jadi begini kata hatinya pada Tuan di langit, peniup awan jadi embun, yang menghembus embun jadi hujan, peneduh seluruh pagi yang terbakar:

Tiada terjauhkan rumpun bambu suatu waktu dari lagu-lagu gembala, maka madahkanlah padaku, ale Tuan di langit,  tuan mula penaja tanah, raja segala belukar, lantunkanlah seruling pada sepiku agar mambang tercerabut dari tubuh ini. Sebab telah tersungkur aku dihasut hantu api di pagi yang terbakar itu, hukum raja yang tak pernah tua sudah menghanguskan rambutku, mengoyak wajahku, melemparkan kulitku jadi hamparan bukit tandus.

Sebab begini kata hatinya pada Raja di langit, peruntuh segala cahaya, yang menghamparkan cahaya jadi lagu, penghalau  api dari warna-warna tulah:

Jangan kau biarkan aku telentang, ale Raja di langit, terkapar di lembah gersang serupa naga yang mati ditembak penjudi, penjudi yang datang dari lapo-lapo angit, pemadat-pemadat adat yang berpantun tentang ubat-ubat, tapi kucurkanlah terang jadi ubat kudus, ale Raja di langit, sebab aku tak ingin jadi titah angker tentang utusan yang tak berwajah, tak bertangan dan tiada berkaki, ale Raja di langit, titahkanlah kesuburan pada ladang-ladang itu sebelum petang membawaku raib ditelan bulan.

Maka begini kata hatinya pada Guru di langit pada petang itu saat gembala menggiring kerbau dan lagu-lagu menuju rumah di tubuh yang mengabu:

Sudah lama, ale Guru di langit, aku menyeru, jika kiranya benua-benua harus terhapus dari tubuhku, bertuahlah rumpun-rumpun bambu penangkal angin, bertuahlah bambu jadi seruling, lagukanlah gulma dan rumput-rumput jadi aku, tebusan wajah dan tubuh seperti sesungguhnya bisa kau batukan aku sejak mula jadi, sejak kau takdirkan manusia berperas-peluh, mesti berletih sebagai tanda diberi nafas, ale Guru di langit, titahkanlah tubuh ini seputih jiwamu.

Pematangsiantar, 2016

Catt: Puisi-puisi termaktub dalam Buku bertajuk Matahari Cinta, Samudra Kata, buku puisi tertebal di Indonesia, yang diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 12 Oktober 2016 oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Antologi puisi ini disusun Rida K Liamsi dengan tebal 2016 halaman dan memuat karya dari 216 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Panda MT Siallagan salah satu penyair Batak yang menyumbangkan karya dalam buku tersebut.

Saturday, October 22, 2016

Malam Menggali Kuburan di Dadaku

Puisi-puisi Panda MT Siallagan
 
Ilustrasi.

Jangan Tanya

Jangan tanya mengapa pohon-pohon selalu menghijau di hatiku, padahal akar yang merammbat dari rambutmu sudah membusuk direndam airmata.

Jangan tanya mengapa taman kian menawan di dadaku, padahal bunga-bunga yang mekar di matamu telah hangus dibakar peperangan.

Datanglah sesekali mengunjungi jiwa-jiwa yang hilang, di sini telah tumbuh luka-luka jadi kehidupan.

Pekanbaru, 2004

Kalau Aku Mati

Seandainya ada yang harus kucatat di dinding hatimu, mungkin hanya desah doa yang mampu kugariskan. Seandainya ada yang mesti kualirkan di rongga darahmu, mungkin hanya sisa ingatan yang bisa kukirimkan.

Rawatlah segalanya saat aku berlayar menuju keabadian. Sebab setiap kita pasti bersua lagi di dalam mimpi yang merapat di dermaga baka.

Pekanbaru 2004

Malam Menggali Kuburan di Dadaku

Setiap kali kulihat gerimis runtuh dari mataMu, lalu  selalu tumbuh di dadaku. Dan ombak-ombak menggelombangkan risau, membangun malam dari deru nafasMu. Dan bayangmu berhembus mengabuti para pelayar.

Dan setiap gerimis runtuh lagi dari mataMu, serpih-serpihnya selalu beterbangan jadi api, membakar perahu-perahu. Pantai, dermaga, dan semenanjung melayang jadi abu, seperti melukis malam kematian di rongga paruku. Maka, setiap kali kuhayati gerimis yang runtuh dari mataMu, malam seperti menggali kuburan di dadaku.

Pekanbaru, 2004

Rumah

Sudah selapuk rindumu rumah itu. Dingin dan lembab yang mengalir dari matamu, melukiskan sunyi pada dindingnya.

Ketika kau berkunjung membawa rindu, lantainya sudah berlubang-lubang digali luka. Nafasmu tersentak. Kau berlari ke halaman, tapi pekarangan sudah usang.

Tak ada lagi taman, juga bunga-bunga untuk dipetik sebagai kenangan dan sejarah. Sejauh apa kita telah mengembara?

Pekanbaru, 2004

* Puisi-puisi ini pernah terbit di Harian Riau Mandiri, 27 Februari 2005


Thursday, October 20, 2016

Menyetubuhi Sunyi, Pada Suatu Hujan

Puisi-puisi Panda MT Siallagan

Ilustrasi.
Menyetubuhi Sunyi

Sunyi yang mengepung usia, ia susuri. Ia datang padamu mengendarai lelah sambil terus memeta: sejauh apa nafasnya berlayar, seluas apa peluhnya menggenang jadi laut.

Juga mimpi-mimpinya, sejauh apa mengapung di laut resah. Lalu rambut putihnya mengibaskan angin, mengerkah perahu dalam gelombang yang tak pernah reda. Hingga pada saatnya, ia berhendi di dermaga yang kau tukangi di hatimu. Ia tatap senyummu, berkecipak di atas airmatanya, mengepak serupa sayap burung, bercericit seperti pipit.

Lalu ia seperti terlempar ke sejarahnya, memeluk bukit, membaca siul dedaunan. Ia menulis puisi di wajah sungai. Lalu desah batu-batu mengigau tentang percintaan ikan. Ia menjadi lupa lukanya.

Riak-riak kecil melompat-lompat di matanya, bermain-main dengan angin. Dau kau lihat masa kecilmu berlari-lari di bawah hujan. Tubuhmu telanjang, basah menggoda langit. Kaukah itu yang menari di jiwanya?

Maka ia pun bersiap menuntaskan perjalanan sunyinya, tidur dibuai nafasmu.

Pekanbaru, 2004

Haiku, Merdeka

Kupancangkan tubuhku
jadi tiang. Kurajut
rambutku jadi bendera
dan berkibar-kibar
dihembus nafasku

Pekanbaru, 17-08-04


Pada Suatu Hujan


Pada suatu hujan, bocah-bocah telanjang berlarian ke halaman, mengerumuni kenangan yang berhamburan dari sunyi hatiku. Maka senja itu menggeletar ditikami bayang-bayang.

Ada yang bangkit dari genangan air parit. Aroma resahmu yang malu pada takdirkah? Sebab tawa bocah-bocah itu segera berlari, bersembunyi dari hujan yang tiba-tiba mengalirkan darah dari mataku.

Kau keci berlari, melintasi tangis dengan hati yang terkoyak. Dan cintamu terusir dari bandar, tempat bapa dan ibu menukangi nafasmu dari asin laut. Peluh kuli-kuli pelabuhan, juga hijau lumut, mengabadikan luka di tiang kapal-kapal.

Lalu pernah seikat surat bertuliskan airmata terkirim padaku dengan aroma abu, seolah anak-anak desa bersajak di jantung kampung dan hutan-hutan yang terbakar.

Lalu, sejauh apa rantaumu dikepung kemalangan? Dan pada suatu hujan, bocah-bocah telanjang kocar-kacir di halaman, menghindari kenangan yang memuntahkan darah dari kepalaku. Aku dan sejarah merindu dalam luka.

Pekanbaru, 2005

Wednesday, October 19, 2016

Puisi-puisi Panda MT Siallagan




Penyair dan Hujan

Karena aku penyair,
bahasa adalah tanah
Seperti hujan,
kuhempaskan tubuhku tanpa ragu
di wajah bahasa.
Karena aku tahu,
tanah sangat rapi menyimpan air
menyulingnya hingga murni
seperti mutiara

2003

Sebab Kau Telah Tidur di Awan

Aku melukis sajadah di mataMu, tapi tak selesai. Sebab warna-warni dari jemariku gagal membaca arus yang menderas dari situ. Desah doaku melebam di hantam batu-batu di setiap dasar sungai.

Bagaimanakah luka ini bisa memelukMu yang tidur dia awan?

Kanvas yang kurakit dari luka usia, robek diiris-iris pisau rambutMu. Kujelma dalam detik-detik, jadi kuas dari airmata.

Maka rinduku gugur, Kau tak menyahut. Tahulah aku, Kau sudah tidur di awan, mengabuti mata jiwaku.

2003

Sajak Sunyi

Surat-suratMu beterbangan dari ombak-ombak kecil, menggariskan lengking seruling gembala pada malam yang mengapung di atas danau.

Parapat 20-04-04

Sajak Peluh

Kau masih setia menugali tanah, menemani keringatmu. Jika hujan luput mengirimkan kesejukan langit, air surga selalu mengucur dari keningmu, menghalau haus dari ladang tandus.

Lalu kau tanami semangatmu. Kau siangi segala cemas dari tanaman wortel, tomat, cabe, kacang panjang, dan batang-batang jagung yang terus memburu usiamu.

Hingga saatnya kau panen doa-doamu, gulma tak lagi menggali luka di hati anak-anakmu. Tangis mereka telah menguap jadi tawa, membubung seperti asap dari dapur gubukmu, menemui Tuhan, menyampaikan syukur.

Kebahagiaan yang kau pungut dari ladang membubung juga ke angkasa, menemui pelangi. Lalu bercerita tentang kasih hujan yang tak sudah-sudah dari mata dan pori-porimu. Maka peluh itu, lelah itu, adalah hidup itu.

2004

Sunday, October 16, 2016

Aku Masuk ke Hatimu yang Bersalju


Puisi-puisi Panda MT Siallagan

Ilustrasi.

Tanah Kami Tak Mungkin Kembali

Kami ikhlaskan juga tanah itu dibelah-belah, sebab kami lelah memeta di mana marwah kami tercecer.

Ulat-ulat lahir beribu, mengerat dedaun dari pohon yang kami tegakkan dari amanah leluhur.

Ranting-ranting patah dan sungai menyeeretnya, berjelajah membaca seluruh tanah.

Maka, susuri sajalah tanah ini hingga di surga. Sebab tanah ini telah seneraka perang

2003

Bunga di Serambi I

Mentari selalu tumbuh di halamanku
setiap pagi. Di dahannya yang hangat,
bergelantungan angin yang mekar
didekap akar-akarnya.

Maka bernyanyilah batang-batangnya:
ini otot kami, pancangkanlah
jadi mantera di dadamu

Dan aku menuang bunga itu
ke dalam ubun-ubun setiap orang
kutanam buahnya di mata semua
kurawat nafasnya di dada segala

Maka rumahku jadi cerita
Cahaya tumbuh jadi serambi
Bersanding dengan pintu yang kudus


2003

Bunga di Serambi II

Angin dari hasrat iblis,
datang membabat bunga-bunga
yang tumbuh di halamanku.
Dari patahan akarnya,
mengalir airmata kesunyian kami
yang sekarat di lorong
sejarah yang bernanah

Bunga-bunga di serambi berguguran
menguntai mimpi buruk di tanah
yang bau darah

2003

Aku Masuk ke Hatimu yang Bersalju

Di dalam matamu yang salju, aku menanam benih cinta. Cinta yang berkecambah dari bola mataku. Karena kutahu, tak akan meleleh jiwa di rahang angin yang beku.

Dan aku tumbuh memamah cinta di dalam matamu yang beku. Tapi gairahku terbit menjelma matahari di kelopak harimu, melelehkan sendiri jiwaku. Yang nyaris mekar di alam matamu yang salju.

2003

* Puisi-puisi pertama kali terbit di harian Riau Pos, 14 Desember 2003


Saturday, October 8, 2016

Di Depan Pintu Kematian

Sajak-sajak Panda MT Siallagan


Neraka
Katamu:
"Aku telah melemparkan kulitku jadi tanah. Kutanam mataku setelah kutugal dengan tulang-belulang. Tubuhmu tumbuh jadi kembang neraka di situ."

Maka cahaya berlarian di sepanjang dadaku. Hujan kocar-kacir di sekeliling mataku. Cuaca mabuk di labirin paruku.

Katamu:
"Kembang neraka tumbuh di tubuhku berakar cahaya, berbatang hujan dan berdaun cuaca. Dada, mata dan parumu bergelantungan menjelma buah."

Maka aku melihat nafas kita terbakar di semak-semak persetubuhan yang gersang dipanggang birahi.

2003

Di Depan Pintu Kematian
(dari seorang bocah di Aceh)

Angin masih berlari, Ayah. Tapi aku telah terpaku pada kepungan angin berbau mayat. Darah dan airmata mengering, membuat lorong-lorong luka kian pekat dan memanjang di dadaku. Angin berputar-putar menerkam pepohon, dan selalu kutatap keping-keping nyawamu gugur, membusuk di bumi bersama daun-daun.

Tarikan-tarikan nafasmu, Ayah, memanjang dan kian membesar menggali gua kematian. Sementara jalan, batu-batu, juga gunung-gunung kini bercerita tentang sembahyang yang robek. Demikianlah aku, mengirim airmata kepada rohmu yang longsor dihujani amarah para raja dalam jelmaan peluru.

Ayah, kukirim jerit ini bersama airmata ibu yang kemarin sore telah mati dihajar kesedihan. Tubuhnya telah hangus bersama gedung sekolahku yang terbakar. Bongkah-bongkah batu yang longsor dari mulut penguasa jatuh memecah kepalanya.

Di dalam matamu yang remuk, Ayah, juga kubaca dendam yang menyala di setiap kening kaum kita. Kupadamkan dengan airmata, tapi tanah telah berabad kering dibakar kebencian. Airmata jadi abu, menghitam bersama tulang-tulangmu yang terlempar ke mulut surga.

Angin masih berlari, Ayah, tapi aku telah berhenti di pintu kematian yang tertutup setelah nafasmu bersarang di situ merebut surga. Kuasailah, usir manusia-manusia bedebah dari situ.

2003


Maka...

Maka kuderet-deretkan matahari di sepanjang nadiku, agar aroma ketiakmu hangus dibakar darah.

Maka kupancangi pisau-pisau di ceruk telingaku, agar desahmu terburai di dubur nada

Maka kuolesi racun di rahim otakku, agar bayangmu pecah jadi tengkorak di neraka rindu.

2003

* Sajak-sajak ini pernah terbit di Riau Pos, 14 Desember 2003

Tuesday, October 4, 2016

Syair-syair Panda MT Siallagan

 
Doa yang Patah

Aku melukis sajadah di matamu, tapi tak selesai. Warna-warna doaku gagal gagal membaca arus yang menderas dari situ. Sembahyangku pecah, terantuk pada batu ragu. Di sungai kasihmu.

Pekanbaru, 2004 
Ilustrasi.

Elegi Sebuah Kamar

Matamu menumpahkan sunyi di lantai. Alirannya memantulkan kenangan ke setiap dinding. Detak jam membacanya dengan lantang, hingga aku terpelanting digempur rindu.

2004
Tersesat di Puisi

Setelah lelah berkelana daei sunyi ke sunyi, kau menyusuri tangis menuju puisi. Tapi jalan yang kau tapaki di atas sungai, selalu menyeret doa-doamu ke lautan lengang.

Dan kau tersesat dalam kerumuman ombak yang bertempiaran dari kata-kata. Kau tak tahu lagi arah pulang.

2004

Sungai Birahi

Karena sungai membingkai wajahmu pada batu-batu, ikan-ikan birahi, mencium aroma senyummu. Dan air memercikkan nafasmu ke mulut lumut, menyulut cumbu maut.

Dan tebing-tebing menggelinjang, pohon-pohon bergetar, daun-daun gugur, hanyut menuju laut. Laut yang menggelombang dalam firman-firmanMu.

2004

Menyetubuhi Sunyi

Sunyi yang mengepung usia, ia susuri. Datang ke hatimu mengendarai lelah sambil terus memeta sejauh apa nafasnya berlayar, seluas apa peluhnya menggenang jadi laut, sesunyi apa mimpinya mengapung.

Dan uban-uban di rambutnya selalu mengibaskan angin, menuntun perahu meski gelombang tak pernah reda di antara tangisan dan dentuman doa-doanya.

Hingga saatnya pun tiba, ia berhenti di dermaga yang mericuh di hatinya. Ia tatap tawamu berkecipak di atas airmatanya, mengepak serupa sayap burung, bercericit serupa pipit di bukit-bukit.

Ia seperti terlempar lagi ke sejarahnya, mendengar siul daun sambil menulis puisi di wajah sungai. Lalu desah batu-batu mengingau tentang percintaan ikan. Dan riak-riak kecil melompat-lompat di matanya, bermain-main dengan angin.

Karena ia ketuk dadamu, kau lihat masa kecilmu berlari-lari di bawah hujan. Tubuhmu telanjang, basah menggoda langit. Sedang menarikah ia dalam jiwamu?

Maka kalian bersiap, menuntaskan perjalanan resah sambil terbuai menyetubuhi sunyi.

2004

* Syair-syair ini pertama kali terbit di Riau Pos, 24 April 2005

Tuesday, September 27, 2016

Sebab Tubuhmu Bau Surga di Jantungku

Puisi-puisi Panda MT Siallagan

Ilustrasi.
Di Jalan, Doaku Remuk Digilas Langkah-langkah Kaki

Karena debu, deru dan asap dari cerobong kapitalisme selalu mengirim iblis ke dadaku, maka kubangun doa di sekujur tubuh. Menghalau mimpi buruk dari pintu rumahku bernama proletar.

KUcatat kesabaran di setiap trotoar, memahat tawakal di sudut-sudut kota. Dan nafasku menjadi akrab dengan larat yang memanjang di dalam detik-detik yang diam.

Karena waktu, manusia dan zaman selalu menanam iblis dalam adanya di kota ini. Kubungkus tubuhku dengan doa-doa, tapi derap-derap kekejaman menggilas doaku hingga remuk.

2003

Cerita dari Kloset

Jongkok aku di sini, entah untuk kematian atau demi kelangsungan hidup. Terdengar aroma politik dari mulut pembaca berita di televisi tetangga. Gumamku: bedakah aroma kotoran dengan aroma politik yang bau itu?

Dan kesadaran kita seperti direbus dalam iklan, film, berita dan liukan pantat multifungsi, menggelitik birahi dan menggali liang iblis. Tempat nurani kita dikuburkan, dan kita bersemedi di kloset merayakan kotoran.

Jongkok aku di sini, merumuskan petuah bagi bangsa: mari kita buang kotoran sebab itu nikmat, duduk berjongkok di kloset sambil merokok.

2003

Kesunyian Menggali Kuburan di Dada Kami

Kami menjahit langit di hati kami, sebab atap rumah adalah mimpi yang sejak lama telah terbelah.

Kami biarkan bintang menghinggapi kami. Malam kami pasrahkan meniduri kami. Kami menggelar asa di emperan toko-toko.

Kami jahit dingin di tubuh kami, sebab bantal dan kasur adalah milik peri, tersimpan menggali kuburan di dada kami.


2003

Sebab Tubuhmu Bau Surga di Jantungku

Kita bertemu di langit biru, ketika angin terasa surga di musim dingin. Saling menyapa kita di dalam kabut, ketika matahari terasa surga di musim dingin.

Tubuhku masuk ke dalam matamu. Nyawamu mengalir di urat nadiku. Hatiku tertanam di dadamu. Hidupku terkubur di dalam jiwamu.

Dan usia menjelma jadi keriangan, sebab tubuhmu bau surga di jantungku.

2003

Dari Debu, Aku Membangun Jembatan

Karena kita sudah lelah sepanjang perih, kau pergi melayari langit yang dilukis awan jadi jurang-jurang pilu di dadaku. Da kau titipkan angin yang berdarah dalam nafasku.

Tapi aku tak ingin sepi sendiri. Di dalam angin yang menanam duri di halamannya, kubangun jembatan dari debu-debu, menyatukan bukit-bukit tempatmu bersembunyi.

Dengan tiba di situ, benarkah kau yang meninggalkan aku? Sebab aku selalu jatuh ke lembah itu, merenangi dosa-dosaku.

2003

* Puisi-puisi ini terbit di Riau Pos, 31 Agustus 2003

Saturday, September 24, 2016

Rindu yang Tumbuh dalam Gerimis


Puisi-puisi Panda MT Siallagan

Rindu yang Tumbuh dalam Gerimis

Akhirnya gerimis merimba juga
di hatiku yang berkabut. Derai
rambutmu menjadi samar kudengar
sebab angin begitu menggigil
seperti tangan beethoven datang
mengelus dengan nada-nada ajaib

kau menari-nari di situ
memahat senyum pada rinai gerimis
tapi aku gagal membaca tubuhmu
kabut menyembunyikan kau di rimba
gerimis yang tubuh di hatiku

2003 



Rembulan Pecah di Dada Kami

Kami peram rembulan di dada kami
sebab malam menyuruh iblis
mengeratnya. kami ingin
rembulan bahagia
menikah dengan kekudusan
yang tubuh subur di dada kami

tapi iblis sigap masuk ke dada kami
menanam petir dari doa yang patah
merakit gempa dari shalat yang remuk
rembulan pecah di dada kami

2003

Kami Menjahit Luka dari Mimpi yang Terkoyak

Kami jahit luka menjadi layar
agar mimpi yang terkoyak
berkibar lagi. dan kami
melanjutkan pengembaraan di
laut perjuangan yang patah

kami jahit luka menjadi sayap
agar mimpi yang terkoyak
berkibar lagi. dan kami
terbang membelah angkasa
meninggalkan lembah yang papa
di jalan kami yang perih

kami jahit luka menajadi cahaya
agar mimpi yang terkoyak
bersinar lagi. dan kami
berlari menuju muasal
negeri bermarwah sarat asa

2003

Di Dalam Mimpi Asa Kami Selalu Remuk

karena rumah kami
telah terbang menjadi kabut
tanah kami melayang jadi angin
dan kampung kami
pecah jadi gerimis
kami berlari menyeberangi luka
tidur di kamar
yang ditumbuhi matahari

tapi di situ
cahaya memaku dukacita
ke dalam batang-batang mimpi kami
merakit keranda
dari luka yang kesepian
dan asa kami
digiring menuju kuburan

dan ketika bangun
segala milik kami telah pecah
menjelma kehampaan

2003

* Puisi-puisi ini terbit pertama kali di Riau Pos, 31 Agustus 2003

Tuesday, September 20, 2016

Dari Manuskrip Luka


Puisi-puisi Panda MT Siallagan 

Ilustrasi.

Memaknai Dua Musim

Dari kemarau yang parau, selalu kita berangkatkan harap menjemput hujan. Tetapi ketika bunga-bunga busuk direndam airmata, kita desahkan juga perih dari sesal luka. Kapan kita mampu membaca setiap aroma perjalanan?

Seperti percakapan-percapakan yang selalu hadir, keluh kesah itu tetap saja menyisakan tanya, untuk kita eja di atas buih-buih alkohol, pada batang-batang rokok yang pasrah jadi abu, juga ampas kopi yang menandai batas nikmat: hidup yang berujung pada gelap harap.

Santai sajalah, mari kita baca kemarau dalam renjis gerimis. Mari kita dekap hujan dalam sengat kemarau, bukankah sajak telah berulang-ulang dicipta? Bukankah kita besar dan suka dan duka?

2003

Dari Manuskrip Luka

Di atas manuskrip yang kau lukisi luka itu, darahku tumbuh jadi mawar. Para bidadari yang merindui aroma sajak, menari bersama kupu-kupu di antara warna-warna. Gerakan mereka mengalirkan jiwamu ke tahajud abadi. Maka menjelmalah luka jadi firman, sebab telah kau maknai kepedihan dengan bahasa senyum.

2003

Suara Penyair

Aku telah membakar tubuhku dengan api kata, tapi kau sebut di jemariku masih tumbuh mawar. Telah melepuh mataku oleh bara kalimat, tapi selalu kau lihat sungai jernih memantulkan bulan di situ.

Aku telah memanggang jiwaku dengan sajak-sajak, tapi kau bilang di dalamnya masih terbentang hutan hijau. Telah menjadi arang jantungku oleh syair-syair, tapi selalu kau dengar kesucian berdenyut di situ.

Kapan kau paham makna kepedihan?

2003

Menapaki Laut

Selalu kurakit alismu jadi lancang
di atas laut
sebab degupku
selalu rindu mengunjungimu
di seberang pulau

2003

* Puisi-puisi ini pertama kali dimuat di Riau Pos, 25 Januari 2004

Sunday, September 18, 2016

Senja Perjamuan


Puisi-puisi Panda MT Siallagan

Ilustrasi.

Jejak Penuh Duri


Kau meninggalkannya, bersembunyi di padang-padang yang memecah tubuhmu jadi bayang-bayang kelam. Jejakmu menajam jadi duri-duri, dan peluhmu berceceran jadi sihir-sihir hitam, memahat-mahat dendam, menyihir amarah jadi panah, merasuki udara.

Tapi ia menghirupnya sebagai tikaman cinta yang menuntunnya selalu menujumu, menyusulmu dengan terhuyung-huyung, terbatuk-batuk. Datang kepadamu dengan kaki yang memuntahkan darah, sebab cintanya telah terjerat dalam nafasmu, sebab bersetia adalah kemenangan.

Dan kau tahu, di sepanjang mimpi yang penuh genangan darah itu, ia mengibadahi doa-doa dengan huruf-huruf namamu, agar airmata dan darahnya terberkati, agar iblis-iblis di tubuhmu tak membunuhmu.

Pekanbaru, 2004


Ketika Pulang

karena aku letih,
kota ini membara
hiruk-pikuk dan warna-warna
menyulut peluh
jadi api
jadi bara
menjalar menjilati gang-gang
menjulur malahap jalan-jalan
berkibar menelan gedung-gedung
dan asap dari tingkap dan atap
dari cerobong pabrik yang luka
dari knalpot-knalpot perbudakan
memuntahkan takdir jadi ratapan
antara deru dan lengkingnya
doaku terbakar
airmata tergelar
jadi pintu
menuju kematian
simpang dan ruang meraung
mengibadahi duka

karena aku letih,
kota ini membara
tak jadi arang tapi jadi ular
merayapi sudut, menjuluri ruang
saat aku pulang
jalan-jalan telah lengang

Pekbanbaru, 2004

Melukis Matamu

Aku melukis matamu jadi sajadah, agar mentari menyinariku berselancar, berkejaran dengan ombak yang menggeloa karena doa-doa.

Aku melukis matamu jadi sajadah, agar mentari menyinariku berselancar, menaklukkan gelombang di laut kegelapan.

Tomok, 24 April 2004


Senja Perjamuan

Senja yang rapuh itu, aku tiba di kotamu dengan dada menyala. Peluh di tubuhku menderas, mengalirkan dongeng tentang matahari yang menyalakan api puisi selama mengembara menujumu.

"Aku letih," kataku dengan suara berasap. Asap yang kau tatap seperti kabut meruap dari pebukitan kampungmu. Kau menggigil, sebab angin lembah-lembah bertempur di tubuhmu.

Saat kau mendesiskan doa dan rindu, nafasmu memetir, peluhku menggelombang-gelombang disulut debar.

Tiba-tiba petir menyambar, semak-semak di tubuh kita terbakar. Dalam abu, kita menanami kebun.

Pematangsiantar, 2004